CIMAHI – Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPS angkatan 2022 sukses menyelenggarakan kegiatan praktikum lapangan bertajuk "MENJARI (Manifestasi Jejak Histori): Sebagai Tatanan Hidup Masa Kini" pada Selasa, 9 Desember 2025. Bertempat di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyaksikan bagaimana nilai-nilai sejarah dimanifestasikan dalam perilaku ekologis dan sosial masyarakat modern.

Praktikum ini merupakan bentuk nyata dari perkuliahan Ecopedagogy yang diampu oleh Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed. dan mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup oleh Drs. Asep Mulyadi, M.Pd.. Di bawah arahan Rayhan Fajriansyah Vhantona selaku Ketua Pelaksana, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, melainkan tatanan hidup yang dipraktikkan hingga hari ini melalui filosofi “Ngindung ka waktu, mibapa ka zaman”. Filosofi ini memanifestasikan keseimbangan antara adaptasi teknologi modern dengan penjagaan tradisi yang ketat.
Manifestasi Ketahanan Pangan: Ritual dan Produksi Rasi
Jejak histori yang paling nyata terlihat pada penggunaan Rasi (Beras Singkong) sebagai makanan pokok. Manifestasi ini bermula dari peristiwa sejarah tahun 1918, di mana masyarakat beralih mengonsumsi singkong sebagai bentuk protes dan pertahanan diri atas perampasan padi oleh penjajah Belanda.
Dalam praktikum ini, mahasiswa menyaksikan manifestasi kemandirian pangan melalui:
- Pengolahan Tradisional: Pembuatan Rasi wajib menggunakan peralatan manual yang tidak bisa digantikan mesin untuk menjaga kualitas dan nilai sejarahnya.
- Filosofi Tanpa Sisa: Sebagai bentuk syukur, masyarakat mengolah seluruh bagian singkong secara maksimal, termasuk limbah kulit yang dijadikan pupuk kompos dan bahan pangan olahan lainnya.
- Penghormatan Simbolis: Meskipun mengonsumsi singkong, warga tetap menyimpan padi di Goah sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, di mana hanya kaum perempuan yang diperbolehkan masuk ke ruangan tersebut.
Manifestasi Konservasi: Hukum Adat Leuweung
Tatanan hidup masa kini di Cireundeu dimanifestasikan melalui pembagian wilayah hutan (Leuweung) yang sangat disiplin untuk melindungi ekosistem:
- Leuweung Larangan: Hutan titipan yang berfungsi sebagai penyimpan cadangan air dan sama sekali tidak boleh diganggu.
- Leuweung Tutupan: Hutan penyangga yang berfungsi sebagai benteng alam.
- Leuweung Baladahan: Lahan yang dimanifestasikan untuk kegiatan pertanian dan pemenuhan kebutuhan hidup.
Mahasiswa mempraktikkan aturan adat dengan melakukan hiking ke kawasan hutan tanpa menggunakan alas kaki. Hal ini bukan sekadar aturan, melainkan manifestasi rasa hormat manusia terhadap tanah dan upaya menjaga kesucian alam dari pencemaran fisik maupun perilaku.
Harmoni Budaya dan Kesenian
Sebagai penutup, mahasiswa mempelajari Angklung Buncis (Budaya Urang Numutkeun Ciri Insan Sunda) yang menggunakan nada pentatonis. Kesenian ini memanifestasikan rasa syukur atas hasil bumi dan menjadi elemen penting dalam upacara adat, termasuk pernikahan yang memiliki aturan ketat tanpa perceraian dan poligami.
Melalui Praktikum MENJARI, mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2022 tidak hanya belajar tentang sejarah, tetapi menyaksikan bagaimana sejarah tersebut mewujud nyata dalam tatanan hidup yang harmonis, rukun, dan berkelanjutan di Kampung Adat Cireundeu.