Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Prodi IPS serta Alumni Berpartisipasi dalam FGD Eksternal FPIPS UPI Bahas Renstra 2026–2030

Bandung — Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Eksternal dalam rangka penyusunan Rencana Strategis (Renstra) FPIPS UPI Tahun 2026–2030. Kegiatan ini dilaksanakan pada 9 Desember 2025 dan diikuti oleh klaster Pendidikan IPS, Pendidikan Sosiologi, dan Pendidikan Sejarah.

FGD ini menjadi forum strategis untuk merumuskan arah kebijakan fakultas lima tahun ke depan dengan melibatkan pimpinan fakultas, pimpinan program studi, asosiasi profesi, pakar pendidikan, alumni, serta pemangku kepentingan eksternal. Dalam sambutannya, Dekan FPIPS UPI menegaskan bahwa Renstra harus disusun sebagai evidence-based policy dan menjadi legacy kebijakan yang berdampak nyata bagi pengembangan fakultas dan kualitas lulusan di masa mendatang.

Paparan Pimpinan Prodi dan Narasumber

Pelaksanaan FGD diawali dengan penyampaian tujuan kegiatan oleh pimpinan fakultas, dilanjutkan dengan paparan visi, misi, dan profil program studi oleh pimpinan Prodi Pendidikan Sosiologi, Pendidikan Sejarah, dan Pendidikan IPS. Saat ini, FPIPS UPI menaungi 25 program studi yang terdiri atas 14 program S1, 9 program S2, dan 5 program S3, menunjukkan peran strategis FPIPS dalam pengembangan pendidikan ilmu sosial di Indonesia.

FGD menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Dr. Grendi Hendrastomo dari Asosiasi Program Studi Pendidikan Sosiologi Indonesia (AP3SI), Fahmi Nugraha Heryanto, serta Deden Sahid. Dalam paparannya, Dr. Grendi Hendrastomo menekankan bahwa Renstra sejatinya merupakan cerminan profil lulusan lima tahun ke depan. Oleh karena itu, isu kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi pendidikan perlu diintegrasikan secara serius dalam perencanaan strategis.

Sementara itu, Fahmi Nugraha Heryanto mengangkat tema Facing Our New Generation dengan fokus pada pentingnya kebijakan AI (AI Policy), pembelajaran inklusif, penguatan kemampuan bahasa asing, serta pengembangan academic workshop sebagai upaya meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global.

Deden Sahid menambahkan bahwa pedagogi harus tetap menjadi leading sector di kampus pendidikan. Ia menyoroti urgensi penguasaan bahasa Inggris aktif, kemampuan membaca dan menganalisis data, serta tantangan non-akademik yang dihadapi mahasiswa, seperti terganggunya proses pembelajaran akibat orientasi seleksi CPNS dan BUMN.

Perspektif Alumni dan Pakar

Dari perspektif alumni, kebutuhan akan sertifikasi kompetensi dinilai sangat penting untuk menunjang kesiapan kerja dan meningkatkan legitimasi lulusan sebagai tenaga profesional. Selain itu, isu kesehatan mental mahasiswa dan lulusan juga menjadi perhatian serius yang perlu ditangani secara sistematis oleh institusi.

Pakar yang hadir dalam FGD turut menekankan pentingnya pengembangan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sebagai langkah strategis untuk membuka akses uji kompetensi. Sertifikasi tidak hanya relevan bagi profesi formal, tetapi juga bagi peran-peran kultural seperti pamong budaya, hingga profesi baru seperti konten kreator yang membutuhkan pendampingan akademik dan etika.

Menjawab Tantangan Sekolah Internasional

Diskusi juga mengarah pada pertanyaan fundamental mengenai kesiapan kampus pendidikan dalam menyiapkan lulusan agar dapat terserap di sekolah internasional. Beberapa kerangka yang dinilai relevan antara lain TPACK, STEM, serta penyediaan learning resources yang sesuai dengan praktik pendidikan internasional. Sekolah internasional, yang umumnya tidak lagi merujuk pada kurikulum nasional, menuntut penguasaan konten keilmuan, pendekatan humaniora, serta fleksibilitas penggunaan sumber belajar.

Sejarah Program Studi Pendidikan IPS yang diawali dengan pendirian S3 pada tahun 1993, disusul S2 pada 1996, dan S1 pada 2009, menjadi refleksi penting dalam menentukan arah pengembangan ke depan. Salah satu isu krusial yang mengemuka adalah perlunya kejelasan profil lulusan: apakah dipersiapkan sebagai tenaga profesional (kelas pekerja), manajerial, atau pemimpin (top leader) di bidang pendidikan dan sosial.

Melalui FGD Eksternal ini, FPIPS UPI berkomitmen menyusun Renstra 2026–2030 yang adaptif terhadap perubahan zaman, berorientasi global, dan tetap berpijak pada nilai-nilai pedagogis. Hasil diskusi ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mencetak lulusan pendidikan IPS, Sosiologi, dan Sejarah yang unggul, relevan, serta mampu berkontribusi secara nyata di tingkat nasional maupun internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *