Penulis: Siti Zahrotunnisa, S.Si., M.Sc.
Penyunting: Reva Laelatul Zahra

Dok. Penulis
Setelah kurang lebih satu tahun menjajaki peran sebagai dosen di Program Studi Sains Informasi Geografi, akhirnya saya berkesempatan untuk menjadi dosen pembimbing akademik (DPA). Tentu ini merupakan pengalaman baru yang akan saya jalani dengan sebaik mungkin.
Sebelum berada di posisi sekarang, saya juga pernah berada di posisi sebagai mahasiswa baru yang dibimbing oleh dosen pembimbing akademik sejak pertama masuk kuliah hingga lulus. Saya kemudian melanjutkan studi S2, dan hingga saat ini, saya masih menjalin hubungan baik dengan DPA saya semasa kuliah. Pengalaman tersebut menjadi dorongan bagi saya untuk menjadi DPA yang dapat berperan layaknya orang tua bagi mahasiswa di lingkungan kampus.
Masukan yang diberikan oleh Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Sc., tentang pengalaman beliau menjadi DPA sangat bermanfaat sebagai bekal bagi saya. Menjadi DPA bukan sekadar membimbing di ranah akademik, tetapi juga membangun soft skill dan sikap (attitude) mahasiswa. Lulusan dari Prodi SaIG, sesuai dengan misinya, diharapkan unggul secara hardskill maupun softskill, sehingga siap menghadapi dunia kerja baik dari segi teknis maupun mental.
Hal tersebut tentu tidak terlepas dari semangat mahasiswa itu sendiri, serta peran dan dorongan dari DPA. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendekatan-pendekatan tertentu, seperti metode pertemuan atau diskusi yang efektif. Mengingat mahasiswa baru saat ini termasuk dalam generasi Z yang dikenal lebih kritis, kreatif, dan melek teknologi, maka sebagai DPA saya perlu memahami dunia mereka sebagai bentuk pendekatan yang relevan.
Salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh generasi Z adalah isu terkait kesehatan mental (mental health). Oleh sebab itu, peran DPA sebagai “orang tua di kampus” sangatlah penting. Dosen perlu bisa menempatkan diri—kapan menjadi pembimbing yang tegas, kapan menjadi pendengar yang baik, dan kapan memberikan nasihat yang bijaksana, layaknya orang tua.
Saya sebagai DPA masih terus belajar, demikian pula para mahasiswa yang sedang berproses dari status siswa menjadi mahasiswa. Harapannya, keduanya dapat menjalin kerja sama yang baik. Menjadi DPA tentu bukanlah hal yang mudah. Namun, jika kembali kepada niat awal saya menjadi dosen sebagai jalan ibadah, maka menjadi DPA merupakan bagian dari pengabdian tersebut.
Dosen pembimbing akademik membersamai mahasiswanya layaknya orang tua yang mendampingi anaknya hingga meraih cita-cita.
