Badan Eksekutif Mahasiswa Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi (BEM HMPG) UPI sukses menyelenggarakan rangkaian forum diskusi bertajuk "Dialog Jurusan" guna menjembatani komunikasi antara mahasiswa dan pihak departemen. Forum pertama dilaksanakan pada Minggu, 31 Agustus 2025, yang memfokuskan pada sosialisasi aturan kelulusan terbaru bagi mahasiswa angkatan 2024 dan 2025. Sementara itu, Dialog Jurusan 2 digelar pada Senin, 29 Desember 2025, melalui platform Zoom Meeting untuk membahas isu-isu teknis terkait magang, UKT, dan sistem poin kegiatan. Kedua agenda ini menjadi ruang krusial bagi mahasiswa untuk mendapatkan kejelasan langsung dari pimpinan prodi mengenai berbagai kebijakan akademik yang sedang berjalan.
Pada pertemuan pertama, dipaparkan tujuh syarat utama kelulusan sarjana bagi mahasiswa baru oleh Prof. Dr. Ahmad Yani, M.Si. yang mencakup aspek administratif hingga kompetensi. Mahasiswa diwajibkan mengumpulkan minimal 100 poin kegiatan ekstrakurikuler serta memiliki sertifikat kompetensi bahasa Inggris dari balai bahasa. Tak hanya itu, kepemilikan sertifikat kompetensi LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) dan sertifikat pelatihan kewirausahaan kini menjadi prasyarat wajib sebelum mahasiswa mengusulkan ujian sidang. Kebijakan ini diambil untuk memastikan bahwa lulusan Pendidikan Geografi memiliki bekal sertifikasi yang diakui secara nasional maupun internasional.

Memasuki pembahasan pada Dialog Jurusan 2, isu permagangan menjadi topik yang paling banyak menyita perhatian mahasiswa angkatan 2023. Mahasiswa diberikan keleluasaan untuk mencari tempat magang secara mandiri di instansi seperti BRIN, BPBD, atau ATR/BPN, namun tetap disarankan agar bidang tugasnya linear dengan kompetensi geografi. Pak Iwan menegaskan bahwa durasi magang sangat menentukan beban konversi SKS, di mana idealnya program satu semester penuh dapat dikonversi hingga 20 SKS. Prodi juga berupaya mencari fleksibilitas agar kegiatan magang bisa diakomodasi bersamaan dengan program P3K melalui skema hybrid, meskipun aturan teknisnya masih dalam tahap koordinasi lebih lanjut.

Terkait program P3K (Program Praktik Pengalaman Lapangan), pihak departemen menegaskan bahwa program ini tetap menjadi prioritas inti bagi mahasiswa kependidikan. Mahasiswa angkatan 2023 diingatkan bahwa meskipun magang industri memberikan pengalaman luas, peran sebagai calon guru tetap harus diperkuat melalui keterlibatan langsung di sekolah. Ada pula pembahasan mengenai kemungkinan penempatan P3K di daerah domisili masing-masing mahasiswa untuk menanggulangi kekurangan guru geografi di Jawa Barat sekaligus efisiensi biaya. Namun, keputusan akhir mengenai lokasi tetap bergantung pada kebijakan koordinator P2JK dan ketersediaan dosen pembimbing untuk melakukan monitoring.
Masalah finansial dan administrasi UKT juga menjadi poin diskusi yang sensitif, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir angkatan 2020. Pihak prodi menjelaskan bahwa kebijakan pengurangan UKT merupakan wewenang universitas, sementara prodi hanya bisa membantu melalui mekanisme penangguhan atau cicilan. Mahasiswa yang jadwal sidangnya berdekatan dengan tenggat bayar UKT disarankan untuk membayar terlebih dahulu agar status tetap aktif, dengan jaminan uang akan dikembalikan (reimburse) jika lulus di waktu yang ditentukan. Selain itu, dosen wali ditekankan untuk segera meng-acc IRS mahasiswa tepat waktu agar proses administratif relaksasi UKT di sistem tidak terhambat.
Pihak Program studi juga memberikan dorongan motivasi mengenai prospek kerja lulusan Pendidikan Geografi yang sering kali dianggap hanya terbatas pada profesi pengajar. Pengalaman alumni menunjukkan bahwa lulusan departemen ini mampu merambah bidang konsultan, perbankan, hingga pertambangan berkat penguasaan aspek spasial. Mahasiswa diharapkan tidak hanya terpaku pada materi perkuliahan rutin, tetapi aktif mengikuti berbagai kompetisi seperti PKM atau sertifikasi GIS untuk memperkuat CV mereka. Semakin banyak prestasi dan keterampilan tambahan yang dimiliki, semakin besar daya saing mereka untuk berkompetisi dengan alumni dari universitas ternama lainnya.
Sebagai penutup, pimpinan program studi mengingatkan mahasiswa untuk terus aktif dalam kegiatan kemahasiswaan karena hal tersebut berkontribusi langsung pada pencapaian 100 poin sebagai syarat sidang. Program-program BEM seperti diskusi dan kepanitiaan diimbau untuk didokumentasikan dengan baik agar sertifikatnya dapat diklaim dalam sistem. Transparansi yang dibangun melalui Dialog Jurusan ini diharapkan dapat menghilangkan kebingungan mahasiswa terkait kurikulum baru maupun prosedur administratif yang dinamis. Dengan komunikasi yang baik antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan pimpinan prodi, target kelulusan tepat waktu tujuh semester diharapkan dapat tercapai secara maksimal.
Ditulis oleh:
Fazrul Ramadhanni (2406956)
Editor:
Syalwa Ramadianti (2407430)