Penulis: Khairul Anam (SaIG, 2203949)
Penyunting: Reva Laelatul Zahra
“Kadang, menyelesaikan skripsi bukan tentang siapa yang paling cepat sampai di garis akhir, tetapi tentang siapa yang tetap mau berjalan ketika perjalanan itu mulai terasa berat.”
Kalau ada satu hal yang dulu saya pikir bisa saya kendalikan selama kuliah, mungkin salah satunya adalah skripsi. Memasuki awal semester 7, saya mulai memikirkan penelitian yang nantinya akan menjadi tugas akhir. Saat itu saya cukup percaya diri dan idealis. Dalam bayangan saya, skripsi adalah sesuatu yang bisa direncanakan dengan baik: menentukan topik, mengumpulkan data, melakukan pengolahan, menulis, bimbingan, sidang, lalu selesai. Kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh, saya merasa tidak ada alasan untuk tidak menyelesaikannya dengan cepat. Saya bahkan sudah menanamkan target dalam diri bahwa saya ingin lulus dalam empat tahun. Saat itu saya belum tahu bahwa perjalanan menuju target tersebut akan membawa saya melewati begitu banyak hal yang sama sekali tidak ada dalam rencana awal.
Saya memilih penelitian yang berkaitan dengan machine learning dan analisis spasial untuk pemantauan pertumbuhan padi di Kabupaten Indramayu. Topik tersebut cukup dekat dengan bidang yang saya pelajari sekaligus sesuai dengan ketertarikan saya terhadap penginderaan jauh, analisis spasial, dan pemanfaatan teknologi dalam menyelesaikan persoalan geografis. Saya merasa menemukan topik yang menarik dan cukup ideal untuk dikembangkan menjadi penelitian. Kebetulan, saya juga mengikuti kegiatan magang di BRIN. Saya memiliki harapan besar bahwa pengalaman dan hasil riset selama magang nantinya dapat membantu mempercepat progres skripsi saya. Dalam pikiran saya, magang dan skripsi bisa berjalan beriringan; apa yang saya kerjakan selama magang dapat menjadi bekal untuk melanjutkan penelitian ketika memasuki semester 8.

Dok. Penulis
Magang akhirnya selesai tepat waktu pada awal semester 8. Hasil penelitian yang saya kerjakan selama magang cukup baik, tetapi tentu saja belum sempurna. Masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki dan dikembangkan lebih lanjut agar dapat digunakan untuk mendukung penelitian skripsi saya. Pada titik ini saya mulai menyadari bahwa pengalaman magang ternyata bukanlah jalan pintas untuk menyelesaikan skripsi. Saya tetap harus melewati proses yang panjang: menyusun proposal, memperbaiki rancangan penelitian, mengolah data, melakukan analisis, dan tentu saja berkali-kali membuka kembali pekerjaan yang sebelumnya sudah saya anggap selesai.
Dalam proses penyusunan proposal, saya sangat terbantu oleh pembimbing saya selama di BRIN, Bapak Wawan Hendriawan Nur S.Si., M.T. Beliau membantu memberikan arahan dalam mengembangkan penelitian sekaligus mendampingi saya dalam menyusun proposal skripsi. Untuk itu, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada beliau yang telah menjadi salah satu bagian penting dalam tahap awal perjalanan penelitian saya. Setelah melalui berbagai proses penyusunan dan perbaikan, akhirnya saya berhasil mengikuti seminar proposal pada awal Maret. Rasanya seperti satu pintu telah berhasil dilewati. Saya sempat berpikir bahwa setelah seminar proposal, perjalanan menuju kelulusan akan menjadi lebih mudah karena arah penelitian sudah semakin jelas. Namun ternyata, perjalanan saya justru baru memasuki bagian yang cukup menantang.

Dok Penulis
Tidak lama setelah seminar proposal, menjelang Idulfitri di akhir Maret, saya kembali ke kampung halaman di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Awalnya saya mengira kepulangan tersebut hanya akan menjadi jeda sebentar sebelum kembali ke Bandung dan melanjutkan skripsi. Tetapi keadaan keluarga membuat rencana tersebut berubah. Ayah dan nenek saya sedang sakit, sehingga saya harus tetap berada di rumah selama beberapa waktu. Pada akhirnya, progres skripsi saya harus tertunda hampir dua bulan. Bagi mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengejar target kelulusan, dua bulan tentu bukan waktu yang sebentar. Ketika waktu terus berjalan sementara pekerjaan skripsi tidak dapat dilanjutkan, kekhawatiran mulai muncul. Saya mulai bertanya-tanya apakah target untuk lulus dalam empat tahun masih mungkin dicapai.
Namun dalam situasi tersebut saya belajar bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa ditempatkan di bawah jadwal dan target yang sudah kita buat. Ada kalanya kita harus berhenti mengejar sesuatu karena ada hal lain yang jauh lebih penting. Skripsi memang penting, tetapi keluarga jauh lebih penting. Saya akhirnya memilih untuk tetap berada di rumah sampai keadaan memungkinkan saya kembali ke Bandung. Mungkin pada saat itu saya merasa sedang kehilangan waktu, tetapi sekarang ketika melihatnya kembali, saya menyadari bahwa itu bukanlah waktu yang sia-sia. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak bisa digantikan hanya dengan mengejar deadline.

Dok Penulis
Setelah akhirnya kembali ke Bandung, saya berharap bisa langsung mengejar semua ketertinggalan. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Progres skripsi saya sempat stuck selama kurang lebih dua minggu. Saya bahkan harus mengulang proses pengolahan data. Rasanya cukup melelahkan. Setelah sebelumnya kehilangan waktu hampir dua bulan karena keadaan keluarga, saya kembali harus menghadapi pekerjaan yang tidak berjalan sesuai harapan. Di titik itu, tantangan terbesar bukan lagi sekadar bagaimana mengolah data, tetapi bagaimana menjaga motivasi agar tetap mau mengerjakan semuanya dari awal. Ada rasa lelah, kecewa, dan khawatir yang bercampur menjadi satu.
Untungnya, saya tidak benar-benar menjalani proses tersebut sendirian. Ibu Dr. Tania Septri Aggraini, S.T., M.T., Ph.D. sebagai pembimbing terus mengingatkan kami untuk melakukan bimbingan setiap minggu. Rutinitas tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi saya memiliki pengaruh yang besar. Setiap minggu saya memiliki alasan untuk kembali membuka skripsi, melihat apa yang sudah dikerjakan, dan menentukan apa yang harus diselesaikan berikutnya. Perlahan-lahan motivasi saya mulai kembali konsisten. Saya mulai menyadari bahwa saya tidak harus menyelesaikan semuanya dalam satu waktu. Yang penting adalah memastikan bahwa setiap minggu ada progres, sekecil apa pun itu.
Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada Program Studi dan secara khusus kepada Bapak Lili Somantri yang terus memantau progres skripsi kami. Program Studi membuat pertemuan khusus untuk membahas target penyelesaian skripsi. Pertemuan tersebut membuat saya kembali melihat waktu sebagai sesuatu yang harus dikelola dengan serius. Saya mulai menghitung kembali sisa waktu yang tersedia dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi setelah penelitian selesai. Dari situlah saya akhirnya membuat target pribadi untuk menyelesaikan skripsi pada pertengahan Juli. Target tersebut menjadi semacam batas bagi diri saya sendiri agar tidak kembali terlena dan terus menunda pekerjaan.
Sejak saat itu, saya mulai lebih serius mengatur waktu. Saya mencoba membagi pekerjaan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menentukan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Saya sadar bahwa kalau terus menunggu sampai memiliki waktu luang atau sampai merasa benar-benar siap, skripsi mungkin tidak akan pernah selesai. Akhirnya saya memilih untuk terus bergerak. Tidak selalu cepat, tetapi setidaknya tidak berhenti. Sedikit demi sedikit, bagian-bagian penelitian mulai terselesaikan.

Dok. Penulis
Akhirnya, penelitian saya berhasil selesai pada awal Juli. Rasanya seperti melihat garis akhir yang selama berbulan-bulan hanya ada dalam bayangan mulai benar-benar terlihat. Dengan selesainya penelitian tersebut, saya masih memiliki kesempatan untuk mengikuti ujian sidang pada akhir Juli, yang juga merupakan gelombang terakhir dalam target yang sebelumnya direncanakan oleh Program Studi. Tetapi sebelum benar-benar masuk ke ruang sidang, tentu saja rasa gugup mulai muncul. Setelah berbulan-bulan mengerjakan penelitian, sekarang saya harus mempertanggungjawabkan hasilnya di hadapan dosen penguji. Berbagai pertanyaan mulai muncul di kepala. Bagaimana kalau saya tidak bisa menjawab? Bagaimana kalau ada kesalahan dalam penelitian? Bagaimana kalau ternyata masih banyak kekurangan?
Pada akhirnya, saya hanya bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin dan mencoba percaya pada proses yang sudah saya jalani. Ketika hari sidang tiba, saya memang merasa gugup. Tetapi setelah dimulai, semuanya ternyata berjalan dengan lebih lancar daripada yang saya bayangkan. Sidang berlangsung dengan baik dan revisi yang diberikan juga terbilang tidak terlalu banyak. Ketika akhirnya keluar dari ruang sidang, ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Saya teringat kembali bagaimana perjalanan penelitian ini dimulai pada semester 7, bagaimana saya mengikuti magang di BRIN, menyusun proposal, mengikuti seminar proposal, pulang ke Bone, kehilangan waktu hampir dua bulan, kembali ke Bandung, mengalami kebuntuan, mengulang pengolahan data, hingga akhirnya berdiri di ruang sidang. Semua proses tersebut terasa seperti rangkaian panjang yang akhirnya membawa saya sampai di titik itu.
Dalam perjalanan tersebut, saya juga semakin menyadari bahwa skripsi mungkin memang ditulis atas nama satu orang, tetapi proses menyelesaikannya tidak pernah benar-benar dilakukan sendirian. Ada dosen yang memberikan arahan, ada pembimbing yang terus mengingatkan, ada Program Studi yang memantau progres, dan ada teman-teman yang memberikan dukungan selama proses berlangsung. Beberapa mungkin membantu secara langsung dalam pekerjaan, sementara yang lainnya hanya memberikan dukungan mental atau membantu hal-hal administratif yang terkadang terlihat sepele tetapi sangat berarti ketika kita sedang sibuk mengejar deadline. Untuk semua teman yang sudah membantu selama proses skripsi saya, saya ingin mengucapkan terima kasih. Dukungan tersebut menjadi bagian yang tidak mungkin saya lupakan dari perjalanan ini.

Dok. Penulis
Setelah sidang selesai, tentu perjalanan belum benar-benar berakhir. Masih ada revisi yang harus diselesaikan. Namun kali ini rasanya berbeda. Saya sudah tahu bahwa garis akhirnya benar-benar sudah dekat. Saya menyelesaikan revisi skripsi dan akhirnya berhasil mengikuti yudisium tepat waktu sesuai dengan target yang sejak awal saya inginkan: lulus dalam empat tahun. Ketika akhirnya semuanya selesai, perasaan yang muncul bukan hanya lega, tetapi juga rasa syukur yang sangat besar. Saya bersyukur karena meskipun perjalanan sempat tertunda, saya masih diberikan kesempatan untuk kembali mengejar. Saya bersyukur karena penelitian yang sempat mengalami berbagai kendala akhirnya dapat diselesaikan. Dan tentu saja, saya bersyukur atas semua orang yang selama perjalanan tersebut terus membantu dan memberikan dukungan.
Jika hanya melihat hasil akhirnya, mungkin perjalanan saya terlihat sederhana. Semester 7 mulai memikirkan skripsi, semester 8 mengerjakan penelitian, awal Juli penelitian selesai, akhir Juli sidang, lalu yudisium. Selesai. Tetapi di antara titik-titik tersebut ada begitu banyak cerita yang tidak pernah tertulis di dalam skripsi. Ada rasa khawatir ketika progres tertunda, ada waktu yang harus dikorbankan karena keluarga, ada rasa lelah ketika harus mengulang pengolahan data, ada kebingungan ketika tidak tahu harus mulai dari mana, dan ada rasa takut ketika deadline semakin dekat. Semua hal tersebut mungkin tidak terlihat di halaman skripsi, tetapi justru menjadi bagian paling penting dari perjalanan saya.

Dok. Penulis
Untuk adik-adik di SaIG yang nantinya akan menghadapi perjalanan yang sama, saya ingin mengatakan bahwa jangan terlalu takut jika perjalanan skripsi kalian tidak berjalan sesuai rencana. Jangan terlalu sibuk membandingkan progres kalian dengan teman-teman yang mungkin sudah lebih dahulu selesai. Setiap orang memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing. Ada yang bisa menyelesaikan skripsi dengan cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih lama, ada yang jalannya mulus, dan ada pula yang harus menghadapi berbagai hambatan di tengah perjalanan. Semuanya tetap memiliki nilai perjuangannya masing-masing.
Kalau suatu hari nanti kalian merasa progres skripsi terlalu lambat, cobalah untuk tetap bergerak. Tidak harus langsung menyelesaikan satu bab. Tidak harus langsung menghasilkan sesuatu yang besar. Selesaikan saja satu bagian kecil terlebih dahulu. Kemudian lanjutkan lagi besok. Karena terkadang yang membawa kita sampai ke garis akhir bukanlah langkah besar yang dilakukan sekali, melainkan langkah-langkah kecil yang terus dilakukan meskipun sedang lelah. Jangan juga ragu untuk meminta bantuan. Berdiskusilah dengan dosen, bertanya kepada teman, dan manfaatkan orang-orang di sekitar kalian yang bersedia membantu. Kita tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Sekarang ketika saya melihat kembali perjalanan tersebut, saya menyadari bahwa skripsi sebenarnya tidak pernah hanya tentang penelitian, data, machine learning, penginderaan jauh, ataupun pemantauan pertumbuhan padi di Indramayu. Skripsi bagi saya adalah sebuah perjalanan untuk belajar menghadapi ketidakpastian. Saya belajar bahwa rencana bisa berubah, bahwa waktu tidak selalu berpihak pada kita, bahwa keluarga terkadang harus menjadi prioritas, dan bahwa meminta bantuan bukanlah tanda bahwa kita tidak mampu. Saya juga belajar bahwa ada saatnya kita harus berhenti mengejar kesempurnaan dan mulai fokus pada bagaimana caranya menyelesaikan apa yang sudah kita mulai.
Tidak ada satu halaman pun dalam skripsi saya yang menceritakan bagaimana rasanya ketika harus meninggalkan sementara penelitian karena keluarga sedang membutuhkan saya. Tidak ada tabel yang menunjukkan rasa khawatir ketika hampir dua bulan berlalu tanpa progres. Tidak ada grafik yang menggambarkan rasa lelah ketika pengolahan data harus diulang. Dan tidak ada rumus yang bisa menghitung seberapa besar arti dukungan dari orang-orang yang terus mengingatkan saya untuk tetap berjalan. Semua itu memang tidak tercantum dalam skripsi, tetapi semuanya adalah bagian dari perjalanan yang membuat skripsi tersebut akhirnya selesai.
Pada akhirnya, target lulus empat tahun bagi saya bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban akademik. Target tersebut menjadi pengingat bahwa meskipun perjalanan sempat tertunda, saya masih bisa kembali berdiri dan mengejar garis akhir. Ketika akhirnya sampai di sana, saya tidak hanya membawa sebuah skripsi yang sudah selesai dan sebuah gelar yang menunggu untuk diraih. Saya juga membawa cerita tentang keluarga, dosen, teman-teman, kegagalan kecil, rasa takut, deadline, dan tentang diri saya sendiri yang ternyata mampu bertahan lebih jauh daripada yang saya kira.
Mungkin skripsi saya pada akhirnya hanya akan menjadi sekumpulan halaman yang dijilid, disimpan, dan suatu hari mungkin kembali dibuka. Tetapi perjalanan menuju halaman terakhirnya akan menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dilupakan. Karena pada akhirnya, skripsi bukan hanya tentang bagaimana kita menulis penelitian sampai selesai. Skripsi juga tentang bagaimana kita belajar mengenal diri sendiri ketika berada di titik paling lelah, bagaimana kita belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana, dan bagaimana kita tetap memilih untuk melangkah meskipun garis akhir terasa masih jauh.
Dan kalau ada satu kesimpulan yang saya bawa dari perjalanan ini, mungkin sederhana saja: “Kita tidak harus selalu menjadi yang paling cepat sampai. Yang terpenting adalah tetap berjalan, bahkan ketika perjalanan itu sempat membuat kita berhenti”.
