Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
[SocioGazine] Akademisi UPI Jadi Dosen Tamu di UNP, Kupas Kritis SDGs dari Kacamata Sosiologi Pembangunan

PADANG – Dua akademisi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Siti Komariah, M.Si., Ph.D., dan Fajar Nugraha Asyahidda, M.Pd., hadir sebagai dosen tamu (visiting lecturer) di Departemen Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Padang (UNP). Dalam perkuliahan tersebut, keduanya mengupas tuntas materi mengenai Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang mencakup konsep, latar belakang, dimensi, indikator, hingga kaitannya dengan realitas pembangunan di Indonesia.

Perkuliahan ini mengajak mahasiswa untuk melihat pembangunan tidak sekadar dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Pemateri menekankan tiga pertanyaan inti dalam sosiologi pembangunan: apakah pertumbuhan ekonomi otomatis berarti pembangunan berhasil, siapa yang menikmati hasilnya, dan siapa yang menanggung biayanya. Dijelaskan pula bahwa paradigma sosiologi pembangunan kini telah bergeser dari sekadar modernisasi dan industrialisasi menuju pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, dengan berpegang teguh pada keadilan antargenerasi.

Dalam paparannya, Siti Komariah dan Fajar Nugraha menguraikan kerangka pikir SDGs menggunakan model "kue lapis" (wedding cake). Model ini memberikan pemahaman bahwa ekonomi melekat di dalam masyarakat, dan masyarakat itu sendiri sangat bergantung pada biosfer atau alam. Artinya, pertumbuhan ekonomi sama sekali tidak boleh menggerus fondasi ekologis, sebuah konsep yang dikenal sebagai gagasan keberlanjutan kuat (strong sustainability). Selain kerangka global, perkuliahan ini juga menyoroti pelokalan SDGs di Tanah Air melalui konsep SDGs Desa yang memiliki 18 tujuan, dengan penambahan satu tujuan khas Indonesia yakni kelembagaan desa dinamis dan budaya desa adaptif.

Lebih mendalam, materi ini mengajak para mahasiswa untuk membaca program SDGs secara lebih kritis melalui lensa sosiologi. Beberapa poin kritis yang dilemparkan kepada mahasiswa meliputi:

  • Paradoks pertumbuhan: Tujuan pertumbuhan ekonomi seringkali berpotensi berbenturan (trade-off) dengan tujuan pelestarian ekosistem dan penanganan iklim.
  • Tirani angka: Fokus pemerintah yang berlebihan pada pemenuhan indikator kuantitatif dapat mengaburkan makna, pengalaman, dan relasi kuasa yang memicu ketimpangan struktural di lapangan.
  • SDG-washing: Penggunaan label SDGs oleh perusahaan atau institusi yang seringkali hanya sebatas pencitraan (image), tanpa diikuti perubahan praktik yang nyata dan ramah lingkungan.

Perkuliahan tamu yang dikemas secara interaktif melalui berbagai permainan seperti "Tebak Tujuan" dan "Peta Masalah Daerahku" ini ditutup dengan penegasan mengenai peran strategis mahasiswa sosiologi di era Agenda 2030. Pemateri mendorong mahasiswa untuk mengambil berbagai peran aktif, di antaranya:

  • Menjadi peneliti yang mengkaji dampak sosial dari pembangunan dan mengangkat suara kelompok-kelompok yang selama ini tidak terdengar.
  • Menjadi penggerak yang berani mengorganisasi aksi komunitas maupun pendampingan desa.
  • Menjadi pengawas kritis yang konsisten mengawal transparansi kebijakan dan data publik agar memihak pada kelompok rentan.
  • Menjadi teladan di tengah masyarakat dengan mempraktikkan pola konsumsi yang bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *