Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
TAK ADA JALAN UNTUK LARI DARI SKRIPSI: IA HARUS DIHADAPI, BUKAN DIHINDARI

Penulis : Fikri Algifahri (SaIG, 2203572)

Penyunting : Reva Laelatul Zahra

Setiap penelitian memiliki titik awal yang berbeda, dan perjalanan skripsi saya berawal dari sebuah peristiwa yang cukup mengejutkan, yaitu Gempa Sumedang yang terjadi pada 31 Desember 2023 dengan magnitudo 4,8. Saat itu saya mengikuti perkembangan informasi mengenai gempa tersebut melalui berbagai pemberitaan dan publikasi dari instansi terkait. Hal yang paling menarik perhatian saya bukan hanya besarnya magnitudo gempa, melainkan fakta bahwa wilayah Sumedang sebelumnya tidak dikenal sebagai daerah yang memiliki riwayat aktivitas gempa yang signifikan. Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan di benak saya: mengapa gempa dapat terjadi di wilayah yang selama ini dianggap relatif tenang, dan apakah terdapat perubahan pada permukaan bumi yang tidak dapat diamati secara langsung setelah gempa tersebut terjadi?

Sebagai mahasiswa Sains Informasi Geografi, saya terbiasa melihat suatu fenomena dari sudut pandang spasial. Rasa penasaran tersebut kemudian mendorong saya untuk mencari berbagai literatur mengenai deformasi permukaan akibat gempa bumi. Dari proses membaca itulah saya mulai mengenal lebih dalam teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) dan metode Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR). Bagi saya, teknologi ini memiliki daya tarik tersendiri karena mampu merekam perubahan permukaan bumi hingga pada orde milimeter tanpa harus berada langsung di lokasi kejadian. Kemampuan tersebut terasa sangat menarik karena memungkinkan sebuah citra satelit "menceritakan" bagaimana permukaan bumi bergerak sebelum, saat, dan setelah gempa terjadi.

Semakin banyak saya mempelajari metode tersebut, semakin besar pula keinginan saya untuk menjadikannya sebagai dasar penelitian skripsi. Namun, saya juga menyadari bahwa hasil pengamatan satelit tetap memerlukan pembanding di lapangan agar interpretasi yang dihasilkan lebih dapat dipercaya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mengintegrasikan hasil analisis Small Baseline Subset Differential Interferometric Synthetic Aperture Radar (SBAS-DInSAR) dari citra Sentinel-1A dengan data Global Navigation Satellite System (GNSS) InaCORS sebagai acuan pengamatan di permukaan (ground reference). Kombinasi kedua metode tersebut menurut saya mampu memberikan gambaran deformasi yang lebih komprehensif sekaligus menjadi sarana untuk mengevaluasi kesesuaian hasil pengamatan berbasis satelit dengan pengukuran geodetik.

Setelah topik penelitian mulai terbentuk, saya menyadari bahwa perjalanan yang sebenarnya baru saja dimulai. Tahap berikutnya diisi dengan proses bimbingan yang cukup intensif, diawali bersama dosen pembimbing akademik untuk mematangkan arah penelitian dan memastikan topik yang dipilih memiliki kebaruan serta layak untuk dikembangkan menjadi tugas akhir. Seiring berjalannya waktu, saya juga mulai berdiskusi dengan beberapa dosen yang memiliki kepakaran sesuai dengan bidang penelitian, khususnya di bidang geodesi, geomatika, dan geologi. Dari setiap diskusi tersebut, saya semakin memahami bahwa penelitian yang baik tidak hanya berangkat dari rasa ingin tahu, tetapi juga harus dibangun di atas konsep yang benar, metodologi yang kuat, serta batasan penelitian yang jelas.

Pada tahap inilah saya mulai menyadari bahwa topik yang saya pilih berada pada irisan beberapa disiplin ilmu. Sebagai mahasiswa Sains Informasi Geografi, saya memiliki bekal mengenai analisis spasial dan penginderaan jauh, tetapi penelitian ini juga menuntut pemahaman mengenai deformasi kerak bumi, prinsip pengamatan geodetik, hingga mekanisme terjadinya gempa bumi yang lebih banyak dipelajari dalam bidang geodesi dan geologi. Tidak jarang saya merasa harus mempelajari "bahasa" baru yang sebelumnya belum pernah saya temui selama perkuliahan. Istilah-istilah seperti Synthetic Aperture Radar (SAR), Small Baseline Subset Differential Interferometric Synthetic Aperture Radar (SBAS-DInSAR), maupun konsep deformasi Line of Sight pada awalnya terasa cukup asing. Namun, justru dari proses tersebut saya belajar bahwa penelitian lintas disiplin menuntut keterbukaan untuk terus belajar dan tidak ragu bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman.

Setiap sesi bimbingan menjadi ruang untuk meluruskan berbagai konsep yang masih kurang tepat. Ada kalanya saya terlalu bersemangat sehingga ruang lingkup penelitian menjadi terlalu luas, sementara pada kesempatan lain saya diminta untuk lebih fokus terhadap tujuan utama penelitian agar pembahasan tetap mendalam. Saya menyadari bahwa menyusun proposal bukan sekadar menuliskan ide ke dalam sebuah dokumen, tetapi merupakan proses menyusun kerangka berpikir yang logis, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Setiap revisi yang diberikan dosen pembimbing tidak pernah saya anggap sebagai hambatan, melainkan sebagai upaya untuk memperkuat fondasi penelitian sebelum memasuki tahap pengolahan data. Setelah melalui berbagai proses diskusi, revisi, dan penyempurnaan konsep bersama dosen pembimbing, perlahan rasa ragu yang sebelumnya saya rasakan mulai berubah menjadi keyakinan. Bagi sebagian orang, seminar proposal mungkin hanya dipandang sebagai salah satu tahapan yang harus dilalui sebelum penelitian dimulai. Namun, bagi saya, seminar proposal memiliki makna yang jauh lebih besar. Momen tersebut menjadi batas antara sebuah gagasan yang masih berada di atas kertas dengan sebuah penelitian yang harus benar-benar diwujudkan. Setelah berbagai diskusi dan revisi yang panjang, saya akhirnya merasa cukup percaya diri untuk mempresentasikan rencana penelitian di hadapan dosen pembimbing dan dosen penguji. Tentu rasa gugup tetap ada, tetapi di balik itu saya juga merasakan antusiasme karena selangkah lagi penelitian yang selama ini hanya menjadi ide akan benar-benar dimulai. Sejak seminar proposal itulah saya menyadari bahwa perjalanan skripsi bukan lagi tentang mencari topik yang menarik, melainkan tentang bagaimana mempertanggungjawabkan setiap konsep, metode, dan hasil yang akan diperoleh hingga penelitian ini selesai.

Puji syukur, setelah Seminar Proposal saya mendapatkan kesempatan dibimbing oleh dua dosen yang sangat suportif dan memiliki latar belakang keilmuan yang saling melengkapi. Dosen pembimbing pertama saya adalah Bapak Dr. Iwan Setiawan, S.Pd., M.Si., salah satu dosen senior di lingkungan Departemen Pendidikan Geografi. Melalui setiap sesi bimbingan bersama beliau, saya belajar bahwa sebuah penelitian tidak hanya dinilai dari hasil akhirnya, tetapi juga dari bagaimana fondasi penelitian tersebut dibangun. Beliau sering menekankan pentingnya menyusun alur berpikir yang logis, merumuskan tujuan yang jelas, serta memastikan setiap pembahasan memiliki keterkaitan yang kuat dengan rumusan masalah. Dari beliau pula saya memahami bahwa setiap penelitian harus memiliki "nyawa", yaitu gagasan utama yang menjadi benang merah dari awal hingga akhir penelitian.

Di sisi lain, saya juga dibimbing oleh Bapak Totok Doyo Pamungkas, S.Si., M.Eng., yang banyak memberikan arahan dari sisi teknis dan keilmuan sesuai dengan topik penelitian yang saya ambil. Diskusi bersama beliau banyak membahas mengenai struktur geologi, geomorfologi, mekanisme gempa bumi, hingga interpretasi deformasi permukaan. Pengalaman beliau di industri oil and gas memberikan sudut pandang yang berbeda dalam melihat fenomena kebumian. Saya menyadari bahwa memahami hasil analisis deformasi tidak cukup hanya dengan melihat peta atau grafik, tetapi juga harus mampu menghubungkannya dengan kondisi geologi dan proses tektonik yang terjadi di lapangan. Setiap diskusi bersama beliau selalu membuka wawasan baru yang memperkaya cara saya memahami penelitian ini.

Setelah fondasi penelitian dirasa cukup matang, saya berpikir bahwa tantangan berikutnya hanyalah mengolah data. Kenyataannya, proses tersebut justru menjadi salah satu fase yang paling menguras waktu dan pikiran. Pengolahan data Synthetic Aperture Radar (SAR) melalui workflow berbasis pemrograman merupakan pengalaman yang benar-benar baru bagi saya. Berbeda dengan perangkat lunak SIG yang telah saya pelajari selama perkuliahan, pengolahan SAR menuntut pemahaman terhadap bahasa pemrograman, struktur workflow, serta berbagai parameter yang harus disesuaikan agar menghasilkan deformasi yang akurat. Tidak sedikit error yang saya temui selama proses tersebut. Ada kalanya pengolahan harus diulang dari awal hanya karena satu parameter yang kurang tepat atau satu baris kode yang terlewat. Namun, justru dari berbagai kesalahan tersebut saya memperoleh banyak pembelajaran mengenai bagaimana sebuah analisis ilmiah dibangun secara sistematis.

Selama menghadapi berbagai tantangan teknis tersebut, saya juga banyak belajar dari komunitas peneliti internasional. Melalui LinkedIn, saya berkesempatan berdiskusi dengan Alexey Pechnikov dan Avintha, yang merupakan pengembang sekaligus pengguna aktif workflow pengolahan yang saya gunakan. Bagi saya, pengalaman ini sangat berkesan karena menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas negara. Meskipun kami berasal dari latar belakang dan lokasi yang berbeda, semangat untuk saling berbagi pengetahuan menjadi jembatan yang membantu saya memahami berbagai kendala teknis selama proses pengolahan data. Berkat berbagai diskusi tersebut, sedikit demi sedikit proses pengolahan citra SAR berhasil diselesaikan hingga akhirnya menghasilkan keluaran deformasi yang dapat digunakan sebagai dasar analisis.

Namun, tantangan belum berhenti di situ. Ketika hasil pengolahan citra telah berhasil diperoleh, saya kembali dihadapkan pada proses yang sama sekali berbeda, yaitu memperoleh data GNSS InaCORS sebagai data pembanding. Untuk mendapatkan data tersebut, saya harus melalui prosedur administrasi yang cukup panjang. Pengajuan data ke Badan Informasi Geospasial (BIG) memerlukan surat permohonan resmi yang harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Wakil Rektor bidang terkait. Proses penerbitan surat tersebut memerlukan waktu hampir satu bulan. Setelah surat resmi diterbitkan, permohonan data ke BIG masih membutuhkan waktu sekitar dua minggu hingga akhirnya memperoleh persetujuan dan data yang diperlukan. Masa penantian tersebut mengajarkan kepada saya bahwa penelitian bukan hanya tentang kemampuan mengolah data atau memahami teori, tetapi juga tentang kesabaran, komunikasi, serta menghargai setiap prosedur yang menjadi bagian dari tata kelola penelitian.

Di balik seluruh proses tersebut, saya merasakan dukungan yang luar biasa dari Program Studi Sains Informasi Geografi. Staf Prodi Bu Endah selalu sigap membantu setiap kebutuhan dokumen, memberikan informasi mengenai tahapan administrasi, serta memastikan seluruh persyaratan dapat dipenuhi tanpa pernah mempersulit proses. Ketua Program Studi juga memberikan dukungan penuh sehingga berbagai kebutuhan administrasi di lingkungan program studi dapat diselesaikan dengan cepat dan lancar. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa keberhasilan sebuah penelitian bukanlah hasil kerja satu orang semata. Ada banyak pihak yang bekerja di balik layar, memberikan dukungan melalui peran masing-masing, sehingga seorang mahasiswa dapat menjalankan penelitiannya dengan baik. Bagi saya, dukungan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan panjang penyusunan skripsi ini.

Dinamika Panjang terlewati sampailah dititik dimana saya mendaftarkan diri untuk ujian Sidang Di 10 Juni 2026, setelah semuanya telah disetujui oleh Pembimbing I dan Pembimbing II , moment yang cukup membuat saya tegang sidang dilaksanakan 2 hari dikarenakan terdapat penguji yang berhalangan hadir total waktu yang saya habiskan adalah 4 jam diruang sidang dan berakhir melegakan semua terjadi tidak sesuai denga napa yang ada dibenak pikiran.

Sepanjang penyusunan skripsi saya memperoleh banyak pelajaran. Dosen pembimbing memberikan arahan yang tidak hanya memperbaiki penelitian, tetapi juga membentuk cara berpikir ilmiah. Teman-teman menjadi tempat berdiskusi dan saling menyemangati ketika proses terasa berat. Keluarga menjadi sumber doa dan dukungan yang membuat saya mampu terus melangkah. Saya menyadari bahwa skripsi adalah proses kolaboratif yang tidak mungkin diselesaikan sendirian.

Sidang skripsi menjadi penutup dari perjalanan panjang yang telah saya lalui. Meskipun masih ada beberapa revisi yang harus diselesaikan, saya menjalaninya dengan perasaan yang jauh lebih tenang karena memahami bahwa setiap tantangan yang saya hadapi merupakan bagian dari proses. Bagi saya, skripsi bukan sekadar syarat untuk memperoleh gelar sarjana, tetapi sebuah perjalanan yang mengajarkan kesabaran, konsistensi, kemampuan beradaptasi, serta keberanian untuk terus melangkah ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Mulai dari menyusun proposal, menunggu proses birokrasi, memperoleh data, menghadapi error saat pengolahan, hingga menerima berbagai revisi dari dosen, semuanya menjadi pengalaman yang membentuk cara saya berpikir dan memandang sebuah penelitian.

Untuk rekan-rekan yang sedang berjuang maupun adik tingkat yang suatu hari akan memasuki tahap ini, jangan takut jika skripsi terasa berat. Memang tidak mudah, dan tidak ada salahnya mengakui bahwa proses ini terkadang terasa melelahkan. Akan ada saat ketika ide buntu, hasil analisis tidak sesuai harapan, atau data yang dinantikan belum juga diperoleh. Saya pun pernah berada di titik tersebut. Namun, satu hal yang saya pelajari adalah bahwa rasa takut tidak akan pernah selesai jika hanya dihadapi dengan mengeluh atau menunda. Satu-satunya cara adalah menghadapinya dan terus bergerak. Tidak perlu melangkah dengan sempurna, cukup melangkah secara konsisten. Satu paragraf yang berhasil ditulis, satu masalah yang berhasil diselesaikan, atau satu revisi yang berhasil diperbaiki adalah bentuk kemajuan yang akan membawa kita semakin dekat menuju garis akhir.

Di balik perjalanan ini, saya menyadari bahwa skripsi tidak mungkin diselesaikan seorang diri. Oleh karena itu, saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Program Studi Sains Informasi Geografi yang telah menjadi tempat saya belajar dan berkembang selama menempuh pendidikan. Secara khusus, saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi, atas motivasi, arahan, dan perhatian yang senantiasa diberikan kepada saya untuk terus berkembang dan menyelesaikan studi dengan sebaik-baiknya, tak kala ia menjadi pemantik atau pemicu terciptanya ide skripsi saya ini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada seluruh dosen, khususnya dosen pembimbing akademik dan dosen pembimbing skripsi, yang dengan penuh kesabaran memberikan arahan, kritik, dan masukan sehingga penelitian ini dapat terselesaikan. Tidak lupa kepada seluruh staf administrasi Program Studi Sains Informasi Geografi yang selalu sigap membantu setiap kebutuhan administrasi, terutama dalam proses pengajuan dokumen penelitian. Di balik sebuah skripsi yang selesai, saya belajar bahwa ada banyak orang yang bekerja dengan tulus dan memberikan kontribusi yang mungkin tidak selalu terlihat.

Terima kasih juga saya sampaikan kepada keluarga, sahabat, dan seluruh rekan yang selalu memberikan doa, dukungan, serta menjadi tempat berbagi cerita ketika proses terasa berat. Kehadiran mereka mengingatkan saya bahwa setiap perjalanan akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama orang-orang yang percaya kepada kita. Pada akhirnya, skripsi ini bukan hanya tentang menyelesaikan tugas akhir atau memperoleh gelar Sarjana Sains Informasi Geografi. Lebih dari itu, skripsi menjadi perjalanan yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih disiplin, dan lebih siap menghadapi tantangan berikutnya. Dari seluruh proses yang saya lalui, saya belajar bahwa tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia. Setiap revisi, setiap penantian, setiap kegagalan, hingga setiap keberhasilan kecil merupakan bagian dari proses pendewasaan yang tidak tergantikan. Saya percaya bahwa setiap mahasiswa memiliki cerita perjuangannya masing-masing. Kelak, ketika perjalanan itu telah selesai, yang paling berharga bukan hanya gelar yang berhasil diraih, melainkan kemampuan untuk bangkit, bertahan, dan terus melangkah melewati setiap proses yang telah membentuk diri kita hingga berada di titik ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *