Penulis: Muhamad Renaldi (SaIG, 2106455)
Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Dok. Penulis
Menyelesaikan skripsi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Awalnya saya berpikir bahwa skripsi hanyalah tahap terakhir dalam perjalanan kuliah sebelum mendapatkan gelar sarjana. Namun, setelah menjalaninya sendiri, saya sadar bahwa skripsi bukan hanya tentang penelitian, data, revisi, dan sidang. Lebih dari itu, skripsi menjadi perjalanan untuk belajar sabar, bertanggung jawab, dan menghadapi diri sendiri.
Setiap perjalanan memang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Berbagai rasa masuk kedalam raga seperti malas, takut, bingung, bahkan keinginan untuk menyerah. Proses yang saya harapkan selesai dengan cepat justru membutuhkan waktu hingga tidak tepat waktu. Meski begitu, saya memilih untuk terus melangkah, karena saya percaya setiap perjuangan pasti memiliki garis akhirnya. bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi tentang bagaimana saya tetap bertahan hingga akhirnya berhasil menyelesaikan apa yang telah saya mulai.
Memulai skripsi dengan mencoba menentukan penelitian yang ingin saya lakukan. Saya memilih penelitian mengenai pengaruh destinasi pariwisata terhadap nilai tanah di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Berawal dari rasa penasaran ketika kembali menginjakan kaki di jalan Rancabali yang sudah banyak mengalami pekembangan serta perubahan pada penggunaan lahan daerah sekitar, Sejak saat itu memutuskan untuk menjadikannya lokasi penelitian. Dalam prosesnya, tentu banyak kesulitan yang saya hadapi. Mencari data tidak selalu mudah. Mengolah data terkadang membuat saya bingung. Hasil analisis juga tidak selalu sesuai dengan apa yang saya harapkan. Belum lagi revisi yang harus dilakukan berkali-kali. Dari situ saya mulai menyadari bahwa mengerjakan skripsi membutuhkan kesabaran yang lebih besar dibandingkan mengerjakan tugas-tugas kuliah biasa.
Di sisi lain, saya juga memiliki kegiatan pekerjaan seperti berjualan. Saya harus membagi waktu antara pekerjaan dan skripsi. Tidak jarang pekerjaan membuat waktu untuk mengerjakan skripsi menjadi berkurang. Akibatnya, proses penyusunan skripsi semakin lama. Ada saat ketika saya melihat teman-teman sudah lebih dulu menyelesaikan kuliah, sementara saya masih berjuang dengan skripsi. Perasaan tertinggal tentu pernah muncul. Saya juga pernah merasa malas, takut, bahkan sampai benar-benar merasa mentok dan tidak tahu harus melanjutkan dari mana. Pernah terlintas dalam pikiran untuk menyerah. Namun, setiap kali pikiran itu muncul, saya kembali mengingat perjuangan yang sudah saya lewati. Saya berpikir, saya sudah sampai di tahap akhir. Kalau saya berhenti sekarang, bukankah perjuangan selama beberapa semester sebelumnya akan menjadi sia-sia? Dari situlah saya mencoba untuk kembali melanjutkan, berkat dukungan dari teman teman satu angkatan juga yang memberi motivasi dan membantu selama pengerjaan.
Saya belajar bahwa menyelesaikan skripsi tidak harus selalu dengan langkah besar. Kadang cukup dengan membuka kembali file skripsi, memperbaiki satu bagian, membaca beberapa halaman, atau menyelesaikan sedikit pekerjaan dalam satu hari. Yang terpenting adalah tetap bergerak. Sedikit demi sedikit, skripsi yang sebelumnya terasa begitu berat akhirnya mulai selesai. Revisi demi revisi saya jalani. Kesalahan diperbaiki, data kembali diperiksa, dan bagian-bagian yang masih kurang mulai dilengkapi. Sampai akhirnya saya berada di tahap yang selama ini saya tunggu: sidang skripsi.

Dok. Penulis
Hari sidang menjadi salah satu hari yang tidak akan saya lupakan. Perasaan saya campur aduk. Rasa takut, tegang, dan khawatir, tetapi juga ada keinginan yang sangat besar untuk segera menyelesaikan semuanya. Pada akhirnya dinyatakan lulus, meski lulus hanya 2 orang dari sisa satu angkatan yang belum lulus. rasanya sulit untuk dijelaskan. Ada rasa bahagia, lega, sekaligus terharu. Saya merasa telah berhasil menyelesaikan sesuatu yang selama ini saya takutkan. Memang, perjalanan saya tidak berjalan sesuai dengan rencana. Saya tidak menyelesaikan skripsi tepat waktu. Tetapi dari perjalanan tersebut saya belajar bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing.

Dok. Penulis
Skripsi akhirnya mengajarkan saya bahwa terlambat bukan berarti gagal. Setiap orang memiliki jalan dan waktunya sendiri. Ada yang bisa menyelesaikan lebih cepat, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama. Yang terpenting adalah tidak berhenti ketika masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan.
Saya juga belajar bahwa tantangan terbesar terkadang bukan skripsinya, tetapi diri sendiri. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, MS., dan Ibu Tiara Handayani, S.Si., M.Sc., Selaku dosen pembimbing saya. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan arahan, mengoreksi, dan menemani proses penelitian saya dari awal hingga akhir. Berbagai masukan yang diberikan selama proses bimbingan menjadi bagian penting dari perjalanan saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
Dan tentu saja, terima kasih juga kepada SaIG angkatan 2021. Terutama Hakim Muadib Salam, S.Geo., Terima kasih telah menjadi teman seperjalanan selama masa perkuliahan, termasuk ketika kita sama-sama menghadapi berbagai tugas, praktikum, himpunan, hingga perjuangan menyelesaikan skripsi. Saya mungkin tidak sampai di garis akhir dengan waktu yang sama seperti orang lain. Tetapi saya akhirnya sampai. Dan bagi saya, itu sudah cukup untuk membuat saya bangga kepada diri sendiri.
“Semakin cepat kamu melakukan hal susah yang selalu kamu hindari, semakin cepat kamu mendapatkan apa yang kamu mau dalam hidup”
