Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
UPI Bersama UM dan UIII Gelar FGD Bahas Ancaman Radikalisme Digital terhadap Generasi Z

BANDUNG, BERITA UPI – Meski Indonesia mencatat tidak adanya serangan teror dalam beberapa tahun terakhir, ancaman terhadap keamanan nasional belum benar-benar berakhir. Pola penyebaran paham radikal kini bergeser dari aksi fisik menuju ruang digital, dengan Generasi Z sebagai kelompok yang paling rentan karena intensitas interaksi mereka dengan media sosial dan teknologi digital.

Fenomena tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Dampak Media Sosial terhadap Pemahaman Radikalisme dan Intoleransi Berbasis SARA pada Generasi Z di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Rise Kolaborasi Indonesia (RKI) pada Kamis (30/7/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), di bawah koordinasi Guru Besar Sosiologi Pendidikan UPI, Prof. Dr. Elly Malihah, M.Si.

Menurut Prof. Elly, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola belajar keagamaan generasi muda. Jika sebelumnya otoritas keagamaan banyak diperoleh melalui interaksi langsung dengan ulama atau tokoh agama, kini Generasi Z lebih sering menjadikan mesin pencari maupun kecerdasan buatan sebagai sumber utama pencarian informasi. Pergeseran ini menuntut pendekatan baru dalam memahami bagaimana narasi keagamaan dan ideologi berkembang di ruang digital.

Untuk mengkaji persoalan tersebut secara komprehensif, forum menghadirkan narasumber dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari sosiologi, politik, pendidikan, psikologi, hingga literasi media.

Radikalisme Bertransformasi ke Ranah Digital

Guru Besar UPI sekaligus mantan Staf Ahli Wakil Presiden RI, Prof. Dr. Dadan Wildan, M.Hum., menjelaskan bahwa capaian zero terrorist attack tidak dapat dimaknai sebagai hilangnya ancaman radikalisme. Menurutnya, kelompok-kelompok radikal kini lebih memilih strategi yang tidak tampak secara kasat mata melalui penyebaran gagasan di ruang digital.

Ia menilai pendekatan yang sebelumnya bersifat konfrontatif telah bergeser menjadi perang narasi yang menyasar pola pikir generasi muda. Strategi ini dinilai lebih efektif karena mampu memengaruhi cara berpikir tanpa harus menggunakan kekerasan secara langsung.

Sementara itu, Dekan FPIPS UPI, Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.H., S.I.P., S.A.P., S.Pd., M.Si., M.H., CPM., menegaskan bahwa radikalisme merupakan proses sosial yang berkembang secara bertahap. Menurutnya, seseorang tidak serta-merta memiliki perilaku radikal, melainkan melalui tahapan yang dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis (need), narasi ideologis (narrative), serta dukungan jaringan sosial (network).

Literasi Keagamaan dan Digital Perlu Diperkuat

Perspektif keagamaan disampaikan oleh Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Karman, S.Ag., M.Ag. Ia mengingatkan bahwa pemahaman agama yang bersifat parsial dan tekstual dapat membuka ruang bagi berkembangnya interpretasi ekstrem.

Menurutnya, media sosial turut memperbesar risiko tersebut karena algoritma cenderung mengedarkan konten yang memancing emosi. Kondisi tersebut diperparah oleh tingkat literasi digital masyarakat Indonesia yang masih berada pada kategori sedang sehingga kemampuan untuk memverifikasi informasi belum merata.

Pandangan serupa disampaikan oleh Imam Pamungkas, Ph.D., akademisi Universitas Islam Bandung (Unisba). Ia menjelaskan bahwa radikalisme tidak selalu identik dengan tindakan kekerasan, sebab istilah tersebut pada dasarnya bersifat netral. Yang menjadi persoalan adalah ketika pemikiran radikal berkembang menjadi ekstremisme. Dalam konteks itu, media sosial lebih tepat dipahami sebagai lingkungan yang memperkuat penyebaran narasi daripada menjadi penyebab utama munculnya radikalisme.

Pengaruh Psikologis Media Sosial terhadap Generasi Z

Aspek psikologis penggunaan media sosial dipaparkan oleh Vidi Sukmayadi, M.Si., Ph.D., yang menjelaskan bahwa berbagai platform digital dirancang untuk membangun keterlibatan emosional penggunanya. Aktivitas di media sosial dapat memicu pelepasan hormon seperti dopamin, serotonin, dan oksitosin yang memengaruhi respons pengguna secara tidak sadar.

Kondisi tersebut menyebabkan Generasi Z lebih mudah bertahan dalam paparan konten tertentu, termasuk narasi ekstrem yang disampaikan secara bertahap. Oleh karena itu, Vidi menilai pendidikan literasi media perlu diintegrasikan secara lebih sistematis dalam kurikulum pendidikan agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap informasi digital.

Perspektif Generasi Z tentang Paparan Narasi Ekstrem

FGD juga menghadirkan perwakilan Generasi Z untuk memberikan gambaran mengenai pengalaman mereka di media sosial.

Rufaidah, siswi SMA, mengungkapkan bahwa banyak remaja tetap mengikuti akun atau tokoh yang memiliki pandangan kontroversial karena dianggap menarik dan berbeda dari arus utama, meskipun tidak seluruh isi pesannya disetujui.

Pandangan lain disampaikan oleh Aurel yang menilai terdapat perbedaan pemaknaan mengenai istilah "terpengaruh". Menurutnya, banyak anak muda baru menganggap seseorang terpengaruh apabila telah bergabung dengan organisasi ekstrem, padahal proses menerima dan mempercayai narasi digital sebenarnya juga merupakan bentuk pengaruh yang perlu diwaspadai.

Sementara itu, Tiara, seorang mahasiswi, menjelaskan bahwa penyebaran ide-ide ekstrem saat ini sering dikemas dalam bentuk humor, meme, maupun konten yang memancing perdebatan. Tidak jarang perhatian pengguna justru lebih banyak tertuju pada dinamika di kolom komentar dibandingkan substansi informasi yang disampaikan.

Menyusun Model Edukasi yang Adaptif

Melalui rangkaian diskusi tersebut, tim peneliti Rise Kolaborasi Indonesia berharap dapat merumuskan model rekonstruksi pengetahuan yang lebih relevan dengan karakteristik Generasi Z. Model tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan penguatan literasi digital, moderasi beragama, serta nilai-nilai kebangsaan sebagai strategi preventif dalam menghadapi penyebaran radikalisme dan intoleransi berbasis SARA di ruang siber.

Hasil kajian ini diharapkan menjadi dasar pengembangan kebijakan maupun program pendidikan yang mampu membangun ketahanan generasi muda terhadap berbagai bentuk manipulasi informasi dan narasi ekstrem di era digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *