Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
UPI Gelar Seminar Internasional Bahas Ketangguhan Bencana di Kawasan Perkotaan, Perkuat Kolaborasi Indonesia–Malaysia

Bandung, 21 April 2026

BANDUNG — Program Studi Pendidikan Geografi jenjang Sarjana, Magister, dan Doktor, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menyelenggarakan International Seminar bertajuk “Disaster Resilience: Comparative Insights from Diverse Urban Context” pada Selasa, 21 April 2026. Kegiatan berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB bertempat di Auditorium FPIPS UPI, dan dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa, peneliti, serta praktisi kebencanaan dari berbagai institusi.

Seminar internasional ini digagas sebagai respons atas semakin kompleksnya tantangan ketangguhan bencana (disaster resilience) di kawasan perkotaan, baik di Indonesia maupun di negara tetangga. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan akademik mengenai isu tersebut melalui perspektif berbagai konteks perkotaan, sekaligus memperkuat kolaborasi akademik antara perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia. Selain sebagai forum berbagi pengetahuan, seminar ini juga dimaksudkan untuk membuka ruang dialog lintas negara mengenai kebijakan, pendidikan, dan inovasi teknis dalam menghadapi risiko bencana perkotaan.

Menghadirkan Pakar Nasional dan Internasional

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari institusi nasional maupun internasional yang memiliki latar belakang keilmuan dan pengalaman lapangan yang saling melengkapi, yaitu:

  • Dr. Edi Kurniawan, M.Pd. — Universitas Negeri Semarang (UNNES)
  • Assoc. Prof. Dr. Mohd Hairiy bin Ibrahim — Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia
  • Prof. Dr. Enok Maryani, M.S. — Universitas Pendidikan Indonesia

Jalannya seminar dipandu oleh moderator Hendro Murtianto, S.Pd., M.Sc., dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia, yang secara aktif menjembatani diskusi antarnarasumber serta mengarahkan sesi tanya jawab bersama peserta.

Dalam pemaparannya, para narasumber membahas berbagai pendekatan dalam membangun ketangguhan wilayah perkotaan terhadap bencana. Pembahasan mencakup aspek kebijakan, pendidikan, perencanaan wilayah, hingga pengalaman empiris dari berbagai negara dan daerah, sehingga peserta memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai bagaimana disaster resilience diterapkan dalam konteks yang berbeda-beda.

Salah satu topik yang mengemuka adalah kondisi kepadatan penduduk di Kota Semarang, di mana dipaparkan adanya disparitas yang cukup mencolok antarkecamatan. Kecamatan Semarang Tengah dan Semarang Timur tercatat memiliki kepadatan penduduk yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah pengembangan seperti Genuk dan Mijen di pinggiran kota. Ketimpangan kepadatan ini disebut berkontribusi pada perbedaan tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi masyarakat terhadap bencana antarwilayah dalam satu kota.

Dari perspektif internasional, dipaparkan pula inovasi infrastruktur mitigasi banjir yang diterapkan di Malaysia berupa terowongan multifungsi atau dikenal dengan sebutan Smart Tunnel. Infrastruktur ini dirancang dengan beberapa mode operasi sesuai intensitas curah hujan dan potensi banjir, mulai dari kondisi normal yang berfungsi sebagai jalur transportasi hingga kondisi badai besar berkepanjangan di mana seluruh terowongan dialihfungsikan sepenuhnya sebagai jalur penyimpanan air. Konsep ini menjadi contoh menarik bagaimana infrastruktur perkotaan dapat dirancang secara adaptif untuk mengakomodasi fungsi ganda antara mobilitas warga dan mitigasi risiko bencana.

Sementara itu, kondisi geografis Kota Bandung turut dibahas sebagai salah satu studi kasus konteks perkotaan di Indonesia, mencakup letak koordinat, luas wilayah, batas administratif, ketinggian, hingga sebaran serta kepadatan penduduk. Pemaparan ini memberikan konteks pembanding yang relevan bagi peserta dalam memahami bagaimana karakteristik geografis suatu kota turut memengaruhi pola kerentanan dan strategi ketangguhan bencana yang perlu diterapkan.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang melibatkan seluruh peserta secara aktif. Para peserta, yang terdiri dari dosen, mahasiswa jenjang sarjana hingga doktor, peneliti, serta praktisi, tampak antusias mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan terkait penerapan konsep ketangguhan bencana di wilayah masing-masing.

Menariknya, pelaksanaan seminar ini juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan akademik yang berkesinambungan dengan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Negeri Semarang (UNNES). Melalui sinergi tersebut, mahasiswa peserta KKL memperoleh penguatan konseptual dari para pakar baik sebelum maupun sesudah pelaksanaan kegiatan lapangan, sehingga hasil observasi di lapangan dapat dipahami dalam perspektif yang lebih komprehensif dan tidak berdiri sendiri sebagai kegiatan teknis semata.

Integrasi antara seminar internasional dan KKL ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk menghubungkan teori, hasil penelitian, serta praktik lapangan dalam mengkaji isu ketangguhan bencana di berbagai konteks perkotaan. Model kolaborasi semacam ini dinilai efektif sebagai pendekatan pembelajaran yang memadukan aspek akademik dengan pengalaman empiris di lapangan, sekaligus memperkaya wawasan mahasiswa mengenai keragaman tantangan kebencanaan di berbagai wilayah.

Secara keseluruhan, seminar internasional ini dinilai berhasil menjadi wadah pertukaran pengetahuan sekaligus memperkuat jejaring akademik antarperguruan tinggi, khususnya antara Indonesia dan Malaysia. Kehadiran narasumber dari Universiti Pendidikan Sultan Idris turut membuka peluang kerja sama lanjutan, baik dalam bentuk penelitian bersama, pertukaran akademik, maupun kegiatan ilmiah lintas negara di masa mendatang.

Kegiatan ini turut mendukung peningkatan kualitas pembelajaran, penelitian, dan kolaborasi internasional di bidang pendidikan geografi, kebencanaan, dan ketahanan wilayah. Melalui forum seperti ini, Program Studi Pendidikan Geografi FPIPS UPI menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan wawasan akademik mengenai isu-isu kebencanaan yang relevan dengan konteks perkotaan kontemporer, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semakin banyak akademisi, mahasiswa, dan praktisi yang terdorong untuk mengembangkan penelitian dan inovasi di bidang ketangguhan bencana perkotaan, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi lintas institusi dan lintas negara demi mewujudkan kota-kota yang lebih tangguh terhadap risiko bencana di masa depan.

Narahubung: Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *