Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Ekspedisi Gunung Kerinci 3.805 Mdpl: Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan UPI Padukan Pendakian, Pengabdian Masyarakat, dan Studi Budaya

Bandung – Belajar menjadi warga negara yang baik tidak hanya dilakukan melalui diskusi di ruang kuliah atau membaca buku teks. Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), pembelajaran juga berlangsung di tengah masyarakat, di lereng gunung, hingga di ruang-ruang budaya yang masih menjaga kearifan lokal. Semangat itulah yang diwujudkan melalui Ekspedisi Gunung Kerinci 2026 yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Pencinta Alam Civics Hukum (MAPACH) pada 17–26 Juni 2026.

Mengusung semangat learning beyond the classroom, ekspedisi ini memadukan pendakian Gunung Kerinci (3.805 mdpl)—gunung tertinggi di Pulau Sumatra—dengan pengabdian kepada masyarakat, penelitian budaya, serta pembentukan karakter mahasiswa. Selama sepuluh hari, peserta menempuh perjalanan dari Bandung menuju Kabupaten Merangin dan Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak Gunung Kerinci.

Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara pelepasan peserta ekspedisi di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menegaskan bahwa ekspedisi bukan sekadar perjalanan menuju puncak gunung, melainkan bagian dari proses pendidikan yang mengintegrasikan aspek akademik, sosial, budaya, dan lingkungan. Dengan membawa semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, para mahasiswa diberangkatkan untuk belajar langsung dari masyarakat sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai Pendidikan Kewarganegaraan dalam kehidupan nyata.

Perjalanan menuju Jambi menjadi pengalaman tersendiri bagi para peserta. Menempuh perjalanan darat dan laut selama lebih dari tiga puluh jam, mahasiswa belajar mengenai pentingnya kerja sama, disiplin, manajemen perjalanan, serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan lapangan. Setibanya di Bangko, mereka disambut oleh rekan-rekan MAPALA Mata Angin Universitas Merangin yang menjadi mitra lokal selama kegiatan berlangsung. Kolaborasi tersebut memperlihatkan kuatnya jejaring organisasi mahasiswa pencinta alam dalam mendukung kegiatan akademik lintas perguruan tinggi.

Agenda pertama yang dilaksanakan adalah program pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Al-Khafidh Merangin. Di hadapan para santri, mahasiswa MAPACH menyelenggarakan sosialisasi mengenai nilai-nilai kewarganegaraan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya cinta tanah air, semangat persatuan, toleransi, tanggung jawab sebagai warga negara, serta peran generasi muda dalam menjaga keutuhan bangsa.

Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Para santri tidak hanya menerima materi, tetapi juga berdiskusi mengenai tantangan kehidupan berbangsa di era digital. Kehadiran mahasiswa UPI menjadi inspirasi sekaligus ruang berbagi pengalaman tentang pentingnya pendidikan tinggi dan kontribusi pemuda dalam pembangunan masyarakat. Kegiatan tersebut ditutup dengan penyerahan sertifikat penghargaan dan sesi foto bersama sebagai simbol terjalinnya kemitraan antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Setelah menyelesaikan agenda pengabdian, perjalanan dilanjutkan menuju Kota Sungai Penuh untuk melaksanakan penelitian budaya mengenai Tradisi Adat Kenduri Sko. Mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil agar dapat melakukan observasi secara lebih mendalam. Dengan didampingi tokoh adat dan masyarakat setempat, mereka melakukan wawancara, observasi partisipatif, dokumentasi budaya, serta diskusi mengenai makna tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.

Bagi mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan, penelitian tersebut memberikan pengalaman akademik yang sangat berharga. Mereka menemukan bahwa Kenduri Sko tidak hanya merupakan ritual adat, tetapi juga menjadi media untuk memperkuat gotong royong, musyawarah, solidaritas sosial, penghormatan terhadap hukum adat, dan kepedulian terhadap lingkungan. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun budaya kewarganegaraan (civic culture) yang menjadi salah satu kajian utama dalam Pendidikan Kewarganegaraan.

Pembina MAPACH, Dr. Asep Mahpudz, M.Si., menjelaskan bahwa konsep ekspedisi yang dikembangkan MAPACH selalu menempatkan aktivitas kepencintaalaman sebagai sarana pendidikan yang utuh.

"Kami ingin mahasiswa memahami bahwa menjadi pencinta alam bukan sekadar mendaki gunung atau menjelajahi hutan. Lebih dari itu, mereka harus mampu belajar dari masyarakat, menghargai kebudayaan lokal, mengembangkan kepedulian sosial, serta mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Alam dan masyarakat merupakan laboratorium terbaik untuk membentuk karakter warga negara yang bertanggung jawab."

Menurutnya, perpaduan antara pengabdian masyarakat, penelitian budaya, dan pendakian alam terbuka menjadi media yang efektif untuk menumbuhkan kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, serta kepekaan terhadap persoalan sosial dan lingkungan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan UPI, Dr. Syaifullah, M.Si., menegaskan bahwa pembelajaran luar ruang (outdoor learning) merupakan bagian penting dalam pengembangan kompetensi lulusan Pendidikan Kewarganegaraan.

"Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan harus mampu belajar dari realitas kehidupan masyarakat. Ketika mereka berdialog dengan tokoh adat, melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, melakukan penelitian budaya, hingga menghadapi tantangan alam dalam sebuah ekspedisi, sesungguhnya mereka sedang membangun kompetensi kewarganegaraan secara utuh. Pengalaman seperti inilah yang membentuk kepemimpinan, integritas, kemampuan bekerja sama, serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan."

Usai menyelesaikan penelitian budaya, peserta mulai mempersiapkan pendakian menuju Gunung Kerinci melalui jalur Kersik Tuo. Seluruh perlengkapan diperiksa kembali, logistik disiapkan, dan koordinasi dilakukan bersama pengelola kawasan pendakian. Tahapan ini menjadi pembelajaran penting mengenai manajemen risiko, perencanaan, dan tanggung jawab dalam setiap aktivitas lapangan.

Pendakian dimulai dari Pintu Rimba menuju Shelter 1, Shelter 2, hingga Shelter 3 dengan medan yang semakin menantang. Jalur hutan pegunungan, akar-akar pohon, tanjakan panjang, dan perubahan cuaca menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Tidak ada anggota yang berjalan sendiri. Seluruh peserta saling membantu membawa perlengkapan, menjaga ritme perjalanan, serta memastikan setiap anggota berada dalam kondisi aman. Nilai kebersamaan dan solidaritas tumbuh secara alami selama perjalanan menuju puncak.

Puncak perjalanan terjadi saat summit attack yang dimulai pada dini hari. Dengan kondisi udara yang dingin dan jalur vulkanik yang cukup terjal, mahasiswa terus melangkah menuju titik tertinggi Pulau Sumatra. Di sepanjang perjalanan mereka disuguhi panorama langit bertabur bintang, fenomena Milky Way, serta matahari terbit yang muncul perlahan di balik gugusan pegunungan. Momen tersebut menjadi pengalaman yang tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga mengajarkan arti kesabaran, ketekunan, dan semangat pantang menyerah.

Setelah melewati Batu Gantung dan Tugu Yudha, seluruh peserta akhirnya berhasil mencapai Puncak Gunung Kerinci pada ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut. Keberhasilan mencapai puncak bukan sekadar pencapaian fisik, melainkan simbol keberhasilan melalui proses panjang yang dibangun dengan disiplin, kerja sama, kepemimpinan, dan saling percaya. Dari puncak tertinggi Pulau Sumatra tersebut, mahasiswa merefleksikan bahwa setiap perjalanan selalu membutuhkan komitmen, kolaborasi, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan.

Lebih dari sekadar kegiatan kepencintaalaman, Ekspedisi Gunung Kerinci 2026 menunjukkan bahwa alam dapat menjadi laboratorium pendidikan karakter. Setiap langkah pendakian mengajarkan tanggung jawab, setiap interaksi dengan masyarakat memperkuat empati sosial, dan setiap penelitian budaya memperkaya pemahaman mengenai identitas bangsa. Ketiganya berpadu membentuk pengalaman belajar yang utuh bagi mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan.

Ekspedisi ini juga menjadi implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di saat yang sama, kegiatan tersebut memperkuat profil lulusan Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan UPI sebagai calon pendidik dan warga negara yang memiliki kompetensi akademik, kepemimpinan, kepedulian sosial, serta komitmen terhadap pelestarian budaya dan lingkungan.

Melalui Ekspedisi Gunung Kerinci 2026, mahasiswa MAPACH kembali membuktikan bahwa belajar tidak mengenal batas ruang. Gunung, masyarakat, dan kebudayaan menjadi ruang kelas yang menghadirkan pengalaman autentik, memperkaya wawasan, sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter yang akan menjadi bekal penting dalam kehidupan akademik maupun pengabdian kepada bangsa. Ekspedisi ini menjadi cerminan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan tidak hanya dipelajari, tetapi juga dihidupi melalui tindakan nyata, kolaborasi, dan keberanian untuk terus belajar dari alam serta masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *