Penulis: Muhammad Fachri Maulida (SaIG, 2107093)
Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)
Ada satu momen yang tidak pernah saya lupakan selama menyusun skripsi. Saat itu saya duduk di ruang tunggu rumah sakit, mendampingi nenek yang sedang menjalani perawatan akibat penyakit jantung dan harus menjalani tindakan pemasangan ring. Di sisi lain, kedua orang tua saya sedang menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci. Di pangkuan saya terdapat sebuah laptop yang masih menampilkan naskah skripsi penuh dengan catatan revisi. Saat itulah saya menyadari bahwa kehidupan tidak pernah memberi jeda hanya karena seseorang sedang menyusun skripsi. Tanggung jawab sebagai mahasiswa, anggota keluarga, dan pribadi yang sedang mengejar cita-cita hadir pada waktu yang bersamaan. Dari titik itulah saya mulai memahami bahwa skripsi bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan perjalanan yang membentuk cara berpikir, karakter, dan kedewasaan seseorang.
Ketika memasuki semester akhir, saya justru memiliki pandangan yang sangat sederhana mengenai skripsi. Saya menganggapnya hanyalah sebuah tugas akhir yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat apabila dikerjakan secara bertahap. Anggapan tersebut perlahan berubah ketika saya benar-benar memasuki proses penelitian. Semakin banyak literatur yang harus dipelajari, data yang harus diolah, serta revisi yang harus diselesaikan, semakin saya memahami bahwa skripsi bukan hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga menguji kesabaran, konsistensi, dan ketahanan mental.
Ketertarikan saya terhadap perkembangan teknologi geospasial menjadi alasan utama memilih penelitian berjudul "Penggunaan Web Story Maps dalam Visualisasi Destinasi Wisata Terpilih Berdasarkan Indikator 6A di Kabupaten Bandung Barat." Saya melihat bahwa Kabupaten Bandung Barat memiliki potensi wisata yang sangat beragam, tetapi informasi mengenai destinasi wisata sering kali masih disajikan secara konvensional. Oleh karena itu, saya mencoba memanfaatkan Web Story Maps sebagai media yang mampu menggabungkan peta interaktif, foto, narasi, dan informasi spasial ke dalam satu platform yang komunikatif. Melalui pendekatan tersebut, informasi mengenai destinasi wisata tidak hanya disampaikan dalam bentuk data, tetapi juga menjadi sebuah cerita yang mampu memberikan pengalaman baru bagi masyarakat maupun wisatawan. Bagi saya, penelitian ini menjadi bukti bahwa teknologi geospasial memiliki peran nyata dalam mendukung pengembangan pariwisata yang lebih informatif dan berkelanjutan.
Perjalanan penelitian ternyata tidak berjalan semulus yang saya bayangkan. Pada saat proses penyusunan skripsi mulai memasuki tahap yang lebih serius, saya juga harus menjalani persiapan hingga mengikuti Kejuaraan Nasional Bola Tangan Mahasiswa yang diselenggarakan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Membagi waktu antara latihan, pertandingan, perjalanan ke luar kota, dan penyusunan skripsi bukanlah hal yang mudah. Ada banyak malam yang saya habiskan untuk menyelesaikan revisi setelah aktivitas olahraga selesai. Rasa lelah sering kali tidak dapat dihindari, tetapi saya selalu berusaha mengingat bahwa kedua tanggung jawab tersebut sama-sama penting bagi perjalanan hidup saya.

Dok: Penulis
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika tim kami berhasil meraih Juara II Nasional. Prestasi tersebut menjadi salah satu kebanggaan terbesar selama masa perkuliahan. Namun, di balik medali yang saya bawa pulang, masih ada skripsi yang menunggu untuk diselesaikan. Saya kembali diingatkan bahwa setiap pencapaian selalu diikuti oleh tanggung jawab berikutnya. Tidak ada ruang untuk berpuas diri apabila masih ada amanah yang harus dituntaskan.
Ujian berikutnya datang dari keluarga. Ketika kedua orang tua saya menunaikan ibadah umrah, saya harus mendampingi nenek yang sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat penyakit jantung dan menjalani prosedur pemasangan ring. Kondisi tersebut menjadi salah satu fase paling berat selama penyusunan skripsi. Fokus saya terbagi antara menyelesaikan penelitian dan memastikan kondisi nenek terus membaik. Beberapa kali saya membuka laptop di ruang tunggu rumah sakit untuk membaca jurnal, memperbaiki tulisan, atau membalas pesan dari dosen pembimbing. Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai harapan, tetapi setiap keadaan selalu dapat dijalani apabila kita mampu menyesuaikan prioritas.

Dok: Penulis
Selain tantangan dari sisi waktu dan keluarga, saya juga sempat mengalami fase kehilangan motivasi. Ketika melihat teman-teman seperjuangan mulai melaksanakan seminar proposal, sidang, bahkan wisuda lebih dahulu, muncul rasa tertinggal yang sulit dihindari. Saya mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri dan merasa proses yang saya jalani berjalan terlalu lambat. Akan tetapi, setelah banyak merenung, saya menyadari bahwa membandingkan perjalanan dengan orang lain tidak akan membuat skripsi saya selesai. Setiap mahasiswa memiliki cerita, tantangan, dan garis waktunya masing-masing.

Dok: Penulis
Titik balik saya dimulai ketika memutuskan untuk kembali memantapkan tujuan. Saya mulai lebih disiplin mengatur waktu dan memperbanyak konsultasi dengan bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. selaku dosen pembimbing pertama sekaligus Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi. Beliau tidak hanya memberikan arahan mengenai substansi penelitian, tetapi juga terus menanamkan keyakinan bahwa proses yang dijalani harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Bersama bapak Haikal Muhammad Ihsan, S.Pd., M.Sc. selaku dosen pembimbing kedua, saya memperoleh banyak masukan mengenai metodologi penelitian, penyempurnaan analisis, hingga penyajian hasil penelitian agar lebih sistematis dan mudah dipahami. Dari setiap proses bimbingan tersebut saya belajar bahwa revisi bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian penting dalam menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas.
Di tengah perjalanan tersebut, saya memiliki satu target pribadi yang terus saya pegang, yaitu menyelesaikan studi dengan predikat cumlaude. Target tersebut bukan semata-mata untuk memperoleh nilai tinggi, melainkan menjadi pengingat bahwa setiap kesempatan harus dimanfaatkan secara maksimal. Ketika rasa lelah, jenuh, dan ingin menyerah datang, saya selalu mengingat kembali alasan mengapa perjalanan ini harus dituntaskan.
Seluruh perjuangan tersebut akhirnya mencapai puncaknya ketika saya melaksanakan sidang skripsi pada tanggal 23 Juli 2025. Hari itu bukan sekadar hari ujian akademik, melainkan simbol berakhirnya perjalanan panjang yang dipenuhi kerja keras, doa, air mata, dan harapan. Saat keluar dari ruang sidang, saya menyadari bahwa yang paling berharga bukan hanya status sebagai sarjana, melainkan pribadi yang telah ditempa oleh setiap tantangan yang saya lalui selama proses tersebut.
Dari perjalanan ini saya belajar bahwa keberhasilan tidak pernah lahir dari keadaan yang selalu mudah. Justru tantanganlah yang mengajarkan arti tanggung jawab, kesabaran, serta kemampuan untuk tetap melangkah ketika keadaan tidak berpihak kepada kita. Saya percaya bahwa setiap revisi, setiap kegagalan, bahkan setiap air mata yang pernah jatuh selama proses penyusunan skripsi merupakan bagian dari pembelajaran yang tidak akan pernah diberikan oleh ruang kuliah mana pun.

Dok: Penulis
Secara khusus, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. selaku dosen pembimbing pertama sekaligus Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi, yang dengan penuh kesabaran senantiasa memberikan arahan, masukan, motivasi, serta kepercayaan kepada saya selama proses penyusunan skripsi. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Bapak Haikal Muhammad Ihsan, S.Pd., M.Sc. selaku dosen pembimbing kedua yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk membimbing saya dalam menyempurnakan penelitian ini. Setiap kritik dan saran yang diberikan menjadi bekal berharga dalam menghasilkan karya ilmiah yang lebih baik.
Bagi adik-adik mahasiswa SaIG yang suatu saat akan memasuki fase penyusunan skripsi, jangan pernah takut untuk memulai. Jangan merasa kecil ketika melihat orang lain berjalan lebih cepat, karena setiap orang memiliki waktu dan perjuangannya masing-masing. Fokuslah pada prosesmu sendiri, manfaatkan setiap kesempatan untuk berdiskusi dengan dosen pembimbing, dan jangan pernah menyerah hanya karena merasa lelah. Percayalah, selama masih ada kemauan untuk terus melangkah, selalu ada jalan untuk mencapai garis akhir.
Pada akhirnya, saya memahami bahwa skripsi bukanlah tentang siapa yang paling cepat menyelesaikannya, melainkan tentang siapa yang mampu bertahan ketika hidup menghadirkan berbagai ujian secara bersamaan. Sebab, gelar sarjana mungkin hanya disematkan satu kali, tetapi karakter yang dibentuk selama proses perjuangan akan menjadi bekal sepanjang hayat. Semoga setiap langkah yang kita tempuh hari ini menjadi pijakan untuk terus berkarya, mengabdi, dan memberikan manfaat melalui ilmu geospasial bagi masyarakat.
SaIG, The Heart of Geospatial.