Tanggal kegiatan: 10 Juni 2026
Penulis: Azra Putri Anandita (SaIG, 2203517)
Penyunting: Farrelius Simeon (SaIG, 2509009)
Bagi sebagian besar mahasiswa tingkat akhir, skripsi biasanya menjadi perjalanan yang penuh cerita. Tidak hanya tentang penelitian, data, dan sidang, tetapi juga tentang proses belajar mengenal diri sendiri, menghadapi tantangan, dan membuktikan bahwa setiap kesulitan pasti dapat dilewati. Begitu pula dengan perjalanan saya dalam menyelesaikan skripsi ini. Skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Perubahan Tutupan Lahan terhadap Kualitas Ekologi Kota Bandung Tahun 2015-2025 Berdasarkan Remote Sensing Ecological Index-Change (RSEI-Change)” berawal dari sebuah proses sederhana ketika mengikuti mata kuliah Metodologi Penelitian pada semester lima. Saat itu, mahasiswa mulai diarahkan untuk mencari ide dan menentukan topik penelitian yang nantinya dapat dikembangkan menjadi skripsi.
Dalam proses mencari topik, saya mencoba mencari sebuah penelitian yang tidak hanya menarik secara akademik, tetapi juga realistis untuk dilakukan. Salah satu pertimbangan utama saya adalah ketersediaan data. Saya ingin memilih topik yang datanya dapat diakses dengan mudah sehingga proses penelitian dapat berjalan lebih efektif tanpa terlalu bergantung pada permintaan data dari berbagai instansi. Dari proses pencarian tersebut, saya menemukan metode Remote Sensing Ecological Index (RSEI) yang menurut saya sangat menarik. Metode ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh untuk menganalisis kualitas ekologi suatu wilayah berdasarkan berbagai indikator lingkungan. Selain sesuai dengan bidang SaIG, metode ini juga memberikan peluang untuk melakukan analisis wilayah secara spasial dengan memanfaatkan data yang tersedia secara terbuka.
Ketertarikan saya semakin kuat ketika melihat kondisi Kota Bandung yang memiliki dinamika perubahan wilayah yang sangat menarik untuk diteliti. Sebagai salah satu kota besar di Jawa Barat, Bandung mengalami perkembangan kawasan perkotaan yang cukup pesat. Perubahan tutupan lahan, perkembangan kawasan terbangun, serta keberadaan ruang terbuka hijau menjadi fenomena yang menarik untuk dianalisis melalui pendekatan spasial.
Ketika saya mengajukan ide tersebut dalam mata kuliah Metodologi Penelitian, saya mendapatkan respons positif dari dosen pengampu saat itu, yaitu Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. Beliau memberikan apresiasi bahwa topik tersebut memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan menjadi penelitian skripsi. Dukungan dan arahan beliau menjadi salah satu hal yang membuat saya semakin yakin untuk melanjutkan topik tersebut. Dukungan dari Bapak Lili menjadi salah satu titik penting yang membuat saya semakin yakin untuk melanjutkan penelitian ini. Beliau tidak hanya melihat topik dari sisi akademik, tetapi juga mempertimbangkan apakah penelitian tersebut dapat dikerjakan dengan baik oleh mahasiswa. Bagi saya, kepercayaan yang beliau berikan sejak awal menjadi motivasi besar untuk membuktikan bahwa penelitian ini dapat diselesaikan dengan maksimal.
Setelah melewati proses penyusunan proposal, perjalanan skripsi mulai memasuki tahap yang lebih menantang. Salah satu fase yang paling saya ingat adalah ketika harus mempersiapkan seminar proposal di tengah kesibukan magang di sebuah konsultan lingkungan. Pada saat itu, saya sedang menjalani kegiatan magang di Padalarang dengan aktivitas pekerjaan yang cukup padat. Di sisi lain, saya juga harus tetap melakukan persiapan seminar proposal, bimbingan, serta mengurus berbagai administrasi akademik di kampus.
Tidak jarang saya harus melakukan perjalanan pulang-pergi dari Padalarang menuju Bandung menggunakan kereta untuk melakukan bimbingan atau menyelesaikan urusan akademik. Semua itu dilakukan sambil tetap membawa tanggung jawab pekerjaan dari tempat magang. Masa tersebut menjadi pengalaman yang cukup menguji kemampuan saya dalam mengatur waktu dan menjaga komitmen terhadap dua tanggung jawab yang berjalan bersamaan. Namun, dari situ saya belajar bahwa proses menuju sesuatu yang besar memang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.
Ketika seminar proposal berlangsung, saya mendapatkan banyak masukan yang sangat membangun dari dosen penguji. Salah satu tantangan terbesar yang saya hadapi saat itu adalah pembahasan mengenai analisis statistik, khususnya regresi. Saya menyadari bahwa pemahaman saya mengenai statistik masih sangat terbatas. Bahkan, setelah seminar proposal saya mendapatkan banyak arahan untuk memperkuat bagian analisis penelitian. Hal yang menarik adalah dosen penguji yang memberikan banyak masukan tersebut kemudian menjadi dosen pembimbing kedua saya, yaitu Ibu Dr. Tania Septi Anggraini, S.T., M.T., Ph.D.. Awalnya saya merasa tertantang, tetapi saya menyadari bahwa setiap kritik yang diberikan bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membantu saya menghasilkan penelitian yang lebih kuat.
Sebagai dosen pembimbing kedua, Ibu Tania memberikan banyak arahan terutama dalam aspek metodologi penelitian dan analisis data. Beliau sangat detail dalam melihat setiap bagian penelitian, mulai dari konsep, metode, hingga bagaimana hasil analisis dapat dijelaskan dengan baik. Salah satu tantangan terbesar saya adalah ketika pada awal bimbingan saya diminta untuk menyelesaikan pengolahan data hingga tiga rumusan masalah dalam hanya beberapa hari. Awalnya saya merasa cukup kewalahan karena harus mengejar target yang tinggi. Namun, saya menyadari bahwa tuntutan tersebut merupakan bentuk kepercayaan dari dosen pembimbing bahwa saya mampu berkembang dan menyelesaikan penelitian ini. Dengan arahan dari Ibu Tania, saya mulai memahami proses analisis statistik secara bertahap hingga akhirnya mampu menyelesaikan analisis regresi yang sebelumnya menjadi tantangan terbesar bagi saya.
Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam perjalanan skripsi ini adalah mendapatkan dosen pembimbing yang tidak hanya memberikan arahan akademik, tetapi juga memberikan dukungan secara emosional. Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. sebagai dosen pembimbing pertama sekaligus Ketua Program Studi SaIG merupakan sosok yang berperan dalam perjalanan skripsi saya. Di tengah kesibukan beliau sebagai ketua program studi, beliau tetap memberikan waktu dan perhatian untuk membimbing mahasiswa. Saya masih sangat mengingat ketika beberapa hari menjelang Hari Raya Idulfitri, beliau masih bersedia menerima bimbingan skripsi saya di rumah beliau. Bagi saya, hal tersebut merupakan bentuk kepedulian dan dedikasi yang luar biasa dari seorang dosen pembimbing.
Setiap revisi yang diberikan oleh Bapak Lili selalu memiliki tujuan untuk membuat penelitian saya menjadi lebih baik. Tidak hanya memperbaiki tulisan, beliau juga membantu saya memahami bagaimana sebuah penelitian harus memiliki alur berpikir yang kuat. Hal yang paling berarti bagi saya adalah kepercayaan yang beliau berikan. Beliau selalu meyakinkan saya bahwa saya mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Dukungan tersebut menjadi salah satu sumber motivasi terbesar ketika saya mengalami kesulitan selama proses penyusunan skripsi.
Begitu pula dengan Ibu Tania yang memberikan kontribusi besar dalam memperkuat kualitas penelitian saya. Melalui arahan beliau, saya belajar bahwa sebuah penelitian tidak hanya membutuhkan hasil analisis, tetapi juga membutuhkan pemahaman mendalam terhadap metode yang digunakan. Bimbingan dari kedua dosen pembimbing tersebut memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Dari mereka saya belajar bahwa kritik dan revisi bukanlah hambatan, melainkan bagian dari proses untuk menghasilkan karya yang lebih baik.
Setelah melalui berbagai revisi dan menyelesaikan penelitian, akhirnya saya mendaftarkan diri untuk mengikuti sidang skripsi pada bulan April. Namun, saya harus menghadapi kenyataan bahwa jadwal sidang mengalami penundaan karena jumlah peserta belum memenuhi kuota. Awalnya saya merasa kecewa karena rencana untuk mengikuti wisuda pada bulan Juli menjadi tidak sesuai harapan. Ada rasa sedih karena merasa perjalanan yang sudah saya perjuangkan cukup panjang ternyata masih harus menunggu. Namun, setelah saya jalani, ternyata masa menunggu tersebut memberikan hikmah tersendiri. Saya memiliki lebih banyak waktu untuk mempersiapkan sidang, membaca kembali penelitian saya secara menyeluruh, dan memperbaiki beberapa hal kecil yang sebelumnya belum maksimal.

Dok. Penulis
Akhirnya, pada tanggal 10 Juni, saya melaksanakan sidang skripsi. Momen yang sebelumnya saya bayangkan sangat menegangkan ternyata dapat saya lalui dengan baik. Saya merasa sangat senang dan lega karena melihat perjalanan yang begitu panjang akhirnya mencapai titik akhir. Dari yang awalnya merasa kurang percaya diri dalam memahami statistik, hingga akhirnya mampu mempertanggungjawabkan penelitian di depan penguji dan mendapatkan hasil yang sangat baik. Pencapaian yang saya dapatkan tersebut bukan hanya tentang nilai, tetapi menjadi bukti bahwa setiap proses belajar, perjuangan, dan dukungan dari orang-orang di sekitar saya memberikan hasil yang luar biasa.

Dok. Penulis
Dari perjalanan panjang menyelesaikan skripsi ini, saya belajar bahwa skripsi bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana. Skripsi adalah proses pembelajaran yang mengajarkan banyak hal, mulai dari disiplin, tanggung jawab, ketekunan, hingga keberanian untuk menghadapi sesuatu yang awalnya terasa sulit. Saya juga belajar bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang ketika diberikan kesempatan untuk belajar. Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. dan Ibu Dr. Tania Septi Anggraini, S.T., M.T., Ph.D. atas ilmu, waktu, kesabaran, dan kepercayaan yang telah diberikan selama proses penyusunan skripsi ini.

Dok. Penulis
Buat teman-teman yang sekarang lagi berjuang menyelesaikan skripsi, mungkin prosesnya mulai terasa berat. Revisi yang ngga ada habisnya, penelitian yang kadang ngga sesuai rencana, atau bahkan bingung harus mulai dari mana lagi. Jujur, saya juga pernah merasa burnout selama proses ini, dan menurut saya itu hal yang wajar. Kita ngga mungkin terus-terusan punya energi yang sama setiap hari. Kalau sudah mulai capek dan merasa burnout, mungkin jangan dipaksakan untuk terus mengerjakan skripsi. Coba lakukan dulu hal-hal yang kalian suka untuk recharge energi. Main, jalan-jalan, nonton, olahraga, ngopi, atau sekadar istirahat tanpa memikirkan skripsi untuk sementara. Setelah merasa lebih enak dan energinya sudah kembali, baru mulai lagi dan coba fokus mengerjakan skripsinya (tapi ingat jangan kelamaan ya haha).
Setiap orang juga punya proses yang berbeda. Jadi ngga perlu terlalu membandingkan progres kita dengan orang lain yang mungkin sudah lebih dulu selesai. Kalau hari ini baru bisa mengerjakan sedikit, ya ngga apa-apa. Yang penting tetap ada progres dan jangan sampai merasa harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Skripsi memang bukan proses yang selalu menyenangkan, tapi pasti ada akhirnya. Jadi kalau sekarang lagi capek, istirahat dulu, recharge, lalu lanjut lagi. Semoga apa yang sedang kita perjuangkan sekarang bisa segera selesai dan hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan.
