Seorang mahasiswa baru yang pindah ke kota tempatnya berkuliah biasanya punya satu kebiasaan yang hampir otomatis yaitu membuka Google Maps sebelum melangkah ke mana pun. Mencari kos, menuju gedung kuliah yang belum pernah dikunjungi, semuanya diselesaikan dengan mengetik nama tempat lalu mengikuti garis rute di layar. Cara ini sangat berbeda dari yang dilakukan generasi sebelumnya, yang harus bertanya kepada orang sekitar, membaca peta kertas, atau menghafal urutan bangunan dan belokan.
Perubahan kebiasaan ini tampak sepele, tetapi sebenarnya menyentuh sesuatu yang cukup mendasar dalam kajian Geografi, yaitu bagaimana manusia mengenali dan membangun pengetahuan tentang ruang. Sejak diluncurkan pada 8 Februari 2005, Google Maps terus berkembang dari sekadar penunjuk arah menjadi medium untuk mencari, menjelajahi, dan mengumpulkan informasi tentang suatu tempat sebelum benar-benar mendatanginya (Google, 2020). Bagi mahasiswa yang mobilitasnya tinggi, antara kampus, tempat tinggal, tempat makan, hingga lokasi kegiatan organisasi, aplikasi semacam ini praktis menjadi bagian dari rutinitas harian.
Pertanyaannya, apakah kemudahan ini membuat mahasiswa semakin memahami ruang disekitarnya, atau justru membuat mereka semakin bergantung pada instruksi digital tanpa benar-benar mengenal tempat yang mereka lewati? Artikel ini menelusuri jawabannya melalui studi literatur, dengan menghubungkan konsep dasar Geografi, yaitu ruang, lokasi, jarak, orientasi, mobilitas, dan kognisi spasial, dengan sejumlah penelitian di bidang psikologi lingkungan dan geografi perilaku mengenai dampak penggunaan peta digital terhadap kemampuan manusia bernavigasi dan memahami lingkungannya.
Jauh sebelum ada satelit dan GPS, manusia sudah memiliki caranya sendiri untuk mengenali ruang. Salah satu gagasan paling berpengaruh datang dari psikolog Edward Tolman, yang melalui eksperimen labirin pada tikus menunjukkan bahwa makhluk hidup tidak sekedar menghafal urutan gerakan tertentu, melainkan membentuk semacam representasi mental tentang tata letak lingkungan, yang ia sebut cognitive map atau peta kognitif (Tolman, 1948). Temuan ini kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam studi kognisi spasial manusia.
Beberapa dekade kemudian, Siegel dan White (1975) memperhalus gagasan tersebut dengan menjelaskan bahwa pengetahuan spasial seseorang terhadap lingkungan baru umumnya berkembang secara bertahap. Tahap pertama adalah landmark knowledge, yaitu mengenali penanda atau patokan yang mencolok seperti masjid, gedung, atau pertigaan. Tahap berikutnya adalah route knowledge, yaitu mengingat urutan belokan dari satu patokan ke patokan lain. Setelah pengalaman yang cukup, seseorang biasanya sampai pada survey knowledge, yaitu pemahaman menyeluruh tentang tata letak ruang, layaknya melihat sebuah kawasan dari atas. Kerangka tiga tahap ini juga dipakai dalam kajian navigasi yang lebih baru, misalnya oleh Nys dkk. (2015), yang meneliti bagaimana pengetahuan landmark dan rute terbentuk pada anak-anak maupun orang dewasa dalam lingkungan virtual.
Sebagai gambaran, seorang mahasiswa yang baru pindah kos mungkin pada mulanya hanya mengenali bahwa untuk sampai ke kampus ia harus melewati sebuah minimarket, lalu belok kiri di persimpangan, kemudian melewati sebuah masjid. Itu adalah bentuk pengetahuan landmark dan rute. Setelah berkali-kali melewati kawasan yang sama, ia mungkin mulai memahami posisi kampus, kos, dan jalan utama itu secara lebih menyeluruh, tanda pengetahuan surveinya sudah mulai terbentuk. Proses semacam ini biasanya memerlukan waktu dan pengalaman berulang, entah lewat berjalan kaki berkali-kali, sempat tersesat lalu menemukan jalan sendiri, atau bertanya arah ke orang sekitar. Penelitian klasik Thorndyke dan Hayes-Roth (1982) menambahkan nuansa penting di sini, cara seseorang memperoleh pengetahuan spasial ternyata memengaruhi jenis pengetahuan yang dihasilkan. Belajar melalui peta cenderung membantu pemahaman menyeluruh tentang hubungan antar lokasi, sementara belajar melalui pengalaman navigasi langsung lebih membantu pengetahuan tentang rute dan orientasi selama perjalanan itu sendiri.
Di titik inilah Google Maps dan aplikasi peta digital sejenis mengubah banyak hal. Alih-alih membangun peta mental secara bertahap dari pengalaman langsung, mahasiswa sekarang bisa langsung memperoleh jawaban akhir berupa rute instan, tanpa harus melalui proses mengenal ruang secara perlahan seperti generasi sebelumnya. Google Maps bukan sekadar peta kertas, Google Maps tidak bisa dipahami hanya sebagai versi digital dari peta kertas. Zook dan Graham (2007) menyebut fenomena ini sebagai Digi Place, yaitu ruang hibrida yang terbentuk ketika data internet yang bergeoreferensi, artinya terhubung dengan koordinat lokasi, dipadukan dengan representasi tempat-tempat fisik. Dengan kata lain, saat seseorang membuka Google Maps, yang ia lihat bukan hanya peta, melainkan hasil olahan algoritma yang menggabungkan data lokasi, ulasan pengguna, foto, jam operasional, hingga kondisi lalu lintas secara real-time.
Beberapa fungsi yang paling sering dipakai mahasiswa sehari-hari antara lain pencarian lokasi, navigasi dengan pilihan moda transportasi seperti jalan kaki, motor, mobil, atau transportasi umum, estimasi jarak dan waktu tempuh, serta fitur Street View yang memungkinkan seseorang berjalan-jalan secara virtual sebelum benar-benar datang ke suatu tempat (Google, n.d.-a; Google, n.d.-b). Ada pula lapisan informasi tambahan seperti kondisi lalu lintas, medan, dan jalur sepeda, serta informasi tempat atau point of interest berupa rating, jam buka, dan foto dari pengunjung lain. Fitur Street View sendiri menawarkan pengalaman yang cukup berbeda dari peta dua dimensi biasa, karena penggunanya bisa melihat bentuk jalan, bangunan, dan persimpangan dari sudut pandang yang lebih menyerupai pengalaman langsung. Penelitian Anacta (2024) yang menguji tugas wayfinding daring menggunakan Google Street View menemukan bahwa metode ini memang bisa menghasilkan pengetahuan spasial dengan ciri rute maupun ciri survei, meski sebagian besar sketsa peta yang dibuat partisipan masih lebih menyerupai karakteristik rute ketimbang pemahaman menyeluruh ala peta survei.
Jika dikaitkan dengan konsep dasar Geografi, setiap fitur ini sebenarnya berkaitan langsung dengan hal yang biasa dipelajari, pencarian lokasi berhubungan dengan konsep lokasi dan ruang, navigasi berhubungan dengan mobilitas dan orientasi, estimasi jarak berhubungan dengan konsep jarak, sementara Street View dan informasi tempat berhubungan dengan bagaimana seseorang mempersepsikan dan membentuk kognisi spasial terhadap suatu tempat, bahkan sebelum benar-benar mengunjunginya secara fisik.
Apakah Google Maps Membuat Mahasiswa Lebih Paham Ruang, atau Justru Sebaliknya?
Pertanyaan yang lebih menarik untuk dibahas adalah, apakah kebiasaan mengandalkan Google Maps berdampak pada kemampuan mengingat dan memahami tata ruang tanpa bantuan aplikasi? Di sinilah literatur menunjukkan gambaran yang tidak sesederhana teknologi membuat kemampuan spasial menurun.
Sejumlah studi berbasis survei dan eksperimen navigasi nyata cenderung menemukan pola negatif. Ishikawa (2019), misalnya, menemukan bahwa orang yang sering menggunakan aplikasi navigasi pejalan kaki cenderung memiliki sense of direction dan kemampuan rotasi mental yang lebih rendah dibandingkan pengguna peta jangka panjang, yang justru menunjukkan sense of direction lebih baik dan lebih menyukai strategi navigasi berbasis survei. Dalam eksperimen yang sama, partisipan dengan pengalaman panjang menggunakan sistem navigasi mobil ternyata menempuh rute dengan kurang efisien dan kurang akurat memahami konfigurasi rute yang mereka lalui, dibandingkan mereka yang menggunakan peta kertas atau alat mobile biasa.
Temuan serupa muncul dari penelitian Ruginski dkk. (2019) yang menyoroti kemampuan spatial transformation, yaitu kemampuan merotasi objek secara mental dan membayangkan suatu tempat dari sudut pandang lain. Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan GPS jangka panjang berkaitan dengan kemampuan rotasi mental dan perspective-taking yang lebih rendah, yang pada gilirannya berkaitan dengan menurunnya kemampuan mempelajari lingkungan baru. Namun perlu dicatat, penelitian yang sama juga menemukan bahwa orang dengan kemampuan navigasi yang memang sudah rendah cenderung lebih sering menggunakan GPS sejak awal, sehingga arah hubungan sebab akibatnya tidak sesederhana anggapan GPS membuat orang jadi buta arah.
Dahmani dan Bohbot (2020) meneliti pengalaman penggunaan GPS sepanjang hidup pada sekelompok pengendara dan menemukan bahwa mereka yang memiliki pengalaman GPS lebih banyak cenderung memiliki memori spasial yang lebih lemah ketika diminta bernavigasi sendiri tanpa bantuan GPS. Dalam sesi susulan tiga tahun kemudian pada sebagian kecil partisipan, penggunaan GPS yang makin sering sejak pengujian pertama berasosiasi dengan penurunan memori spasial yang bergantung pada hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam navigasi dan memori. Namun, sesi susulan ini hanya melibatkan 13 partisipan, sehingga generalisasinya perlu dibaca dengan hati-hati.
Gambaran yang lebih menyeluruh datang dari tinjauan sistematis dan meta-analisis Miola dkk. (2024) yang merangkum 23 penelitian tentang hubungan penggunaan GPS dengan kemampuan navigasi. Hasilnya, penggunaan GPS secara konsisten membantu seseorang mencapai tujuan secara lebih efisien, tetapi juga berhubungan negatif dengan kemampuan membentuk representasi mental lingkungan yang memadai serta dengan sense of direction yang dirasakan sendiri oleh penggunanya. Yang penting digarisbawahi, para penulis meta-analisis ini secara jujur mencatat bahwa sekitar 69 persen studi yang mereka telah memiliki risiko bias metodologis yang tergolong tinggi, sehingga hasil ini sebaiknya dibaca sebagai kecenderungan yang masih perlu diuji lebih lanjut, bukan kesimpulan final.
Gambaran yang agak berbeda muncul dari eksperimen navigasi terkontrol yang dilakukan Ying, Hilton, dan Fabrikant (2026) di lingkungan perkotaan nyata dengan 45 peserta. Peserta melewati lingkungan yang sama sebanyak tiga kali dan dibandingkan antara kondisi menggunakan peta digital dengan kondisi tanpa peta. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan peta digital justru membantu performa pada tugas menunjuk arah dan mengingat kembali rute, meskipun pada kunjungan awal penggunaan peta ini tampak memperlambat pembelajaran terhadap landmark. Tidak ditemukan perbedaan berarti pada pengetahuan arah rute maupun estimasi jarak antara kedua kondisi. Yang menarik, semakin sering peserta terpapar lingkungan tersebut, pengetahuan tentang landmark, rute, dan gambaran ruang sama-sama berkembang, baik pada kelompok yang dibantu peta digital maupun yang tidak.
Perbedaan hasil antara studi-studi berbasis survei dan korelasi jangka panjang di satu sisi, dengan eksperimen terkontrol Ying dkk. di sisi lain, kemungkinan besar berkaitan dengan jenis bukti yang digunakan. Studi seperti Ishikawa, Ruginski, dan Dahmani-Bohbot pada dasarnya bersifat korelasional dan menangkap kebiasaan penggunaan GPS dalam jangka panjang, sementara eksperimen Ying dkk. mengendalikan kondisi secara langsung dalam periode observasi yang lebih pendek. Keduanya sama-sama sah sebagai bukti, tetapi menjawab pertanyaan yang sedikit berbeda: yang satu tentang kebiasaan jangka panjang, yang lain tentang proses belajar dalam beberapa kali paparan.
Bukan Cuma soal Pakai atau Tidak Pakai
Temuan-temuan di atas menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar menggunakan Google Maps atau tidak. Cara seseorang menggunakan aplikasi tersebut tampaknya sama pentingnya. Mahasiswa yang hanya mengikuti garis biru dan instruksi belok kiri, belok kanan kemungkinan besar memiliki pengalaman spasial yang berbeda dibandingkan mahasiswa yang, sambil menggunakan Maps, juga tetap memperhatikan nama jalan, bangunan, persimpangan, arah mata angin, dan hubungan antar lokasi.
Pola yang cukup konsisten muncul di berbagai penelitian adalah pergeseran jenis pengetahuan spasial yang terbentuk. Ketika seseorang terus-menerus mengikuti instruksi turn-by-turn dari aplikasi, ia cenderung berhenti pada tahap pengetahuan rute, yaitu sekadar mengikuti arahan langkah demi langkah, tanpa sempat membangun pengetahuan survei atau pemahaman menyeluruh tentang tata letak ruang (Ishikawa, 2019; Siegel & White, 1975). Ini mungkin terasa familier bagi banyak mahasiswa, sudah puluhan kali pergi ke suatu tempat naik ojek daring dengan bantuan Google Maps, tetapi begitu diminta menjelaskan arahnya kepada orang lain tanpa membuka aplikasi, ternyata cukup kesulitan.
Manfaat yang Tidak Bisa Diabaikan
Di sisi lain, tidak adil pula jika hanya melihat sisi negatifnya. Bagi kehidupan mahasiswa sehari-hari, Google Maps memberi beberapa manfaat yang cukup jelas. Pertama, aplikasi ini membantu menemukan lokasi baru tanpa perlu mengenal nama jalan atau daerah tersebut sebelumnya. Kedua, ia menghemat waktu dan mendukung mobilitas, karena pengguna bisa membandingkan beberapa rute sekaligus melihat estimasi waktu tempuh dan kondisi lalu lintas (Google, n.d.-a). Ketiga, Google Maps membantu seseorang memperoleh gambaran spasial sebelum tiba di lokasi, misalnya melalui Street View. Keempat, peta digital ini juga bisa mendukung pembelajaran Geografi itu sendiri, karena mahasiswa dapat mengamati pola jalan, persebaran fasilitas, dan bentuk wilayah secara visual. Penelitian Xiang dan Liu (2019) tentang penggunaan lingkungan pemetaan berbasis web pada mahasiswa menunjukkan bahwa alat semacam ini dapat membantu mengembangkan keterampilan berpikir spasial, meskipun hasilnya bisa berbeda tergantung gaya belajar masing-masing mahasiswa.
Untuk mahasiswa rantau yang baru pindah ke kota tempat kuliah, kemudahan seperti ini terasa sangat membantu perencanaan perjalanan, mulai dari memperkirakan waktu tempuh hingga memilih tempat makan berdasarkan ulasan dan jam operasional. Pada dasarnya, semua ini adalah bentuk kemudahan mengakses informasi keruangan yang dahulu jauh lebih sulit didapat.
Relevansinya bagi Mahasiswa Geografi
Bagi mahasiswa Geografi, fenomena ini sebenarnya menyentuh hampir semua konsep dasar yang dipelajari di kelas sekaligus. Konsep lokasi dan ruang terlihat dari cara Google Maps merepresentasikan tempat, baik secara geografis maupun secara relasional. Konsep jarak dan mobilitas terlihat dari bagaimana aplikasi menghitung estimasi jarak tempuh yang mempengaruhi keputusan mobilitas mahasiswa sehari-hari. Sementara itu, konsep orientasi dan kognisi spasial berkaitan langsung dengan bagaimana pengalaman menggunakan navigasi digital ini membentuk, atau bahkan sebagian menggantikan, kemampuan mahasiswa membaca ruang secara mandiri. Penelitian tentang pengetahuan spasial menunjukkan bahwa representasi ruang bisa terbentuk dari berbagai sumber, termasuk peta maupun pengalaman navigasi langsung (Richardson dkk., 1999). Karena itu, Google Maps sebaiknya dipandang sebagai salah satu media dalam proses pembentukan pengetahuan spasial, bukan pengganti seluruh pengalaman manusia terhadap ruang.
Dari perspektif geografi kritis, gagasan Zook dan Graham (2007) tentang Digi Place juga mengingatkan bahwa Google Maps bukan cermin netral dari dunia nyata. Cara sebuah tempat ditampilkan, direkomendasikan, atau diberi label, dibentuk oleh algoritma di baliknya. Artinya, ketika mahasiswa mengandalkan Google Maps untuk mengenali suatu wilayah, ia juga sedang menyerap representasi ruang yang sudah disaring oleh sistem digital tersebut, bukan murni hasil pengamatannya sendiri. Bagi calon geografi, kesadaran semacam ini penting agar tidak sekadar menjadi pengguna pasif, tetapi juga mampu membaca secara kritis bagaimana teknologi keruangan membentuk cara manusia memahami dunia.
Analisis dan Sintesis
Membaca kedua kelompok literatur ini secara bersamaan memperlihatkan beberapa benang merah sekaligus perbedaan penekanan yang layak dicermati. Pertama, dari sisi kerangka teoritis, seluruh literatur sepakat bahwa pengetahuan spasial manusia berkembang melalui tahap landmark, rute, dan survei (Siegel & White, 1975; Nys dkk., 2015), dan bahwa cara memperoleh pengetahuan itu, lewat peta atau lewat pengalaman langsung, menghasilkan jenis pemahaman yang berbeda (Thorndyke & Hayes-Roth, 1982). Kerangka ini menjadi dasar bersama untuk memahami mengapa penggunaan Google Maps bisa berdampak berbeda-beda pada berbagai jenis pengetahuan spasial, bukan berdampak seragam pada kemampuan spasial secara umum. Kedua, ada perbedaan yang cukup penting dalam jenis bukti yang tersedia mengenai dampak GPS terhadap kognisi spasial. Sebagian besar penelitian yang mengaitkan penggunaan GPS dengan penurunan kemampuan spasial, seperti Ishikawa (2019), Ruginski dkk. (2019), Dahmani dan Bohbot (2020), serta meta-analisis Miola dkk. (2024), bersifat korelasional dan mengukur kebiasaan penggunaan GPS dalam jangka panjang. Sebaliknya, eksperimen terkontrol Ying dkk. (2026) mengamati proses belajar spasial secara langsung dalam periode observasi yang lebih pendek, dan menemukan gambaran yang lebih seimbang, yaitu peta digital membantu sebagian jenis pengetahuan spasial sekaligus sedikit menghambat jenis lainnya pada paparan awal, sebelum akhirnya pengetahuan spasial berkembang pada kedua kondisi seiring bertambahnya pengalaman. Perbedaan ini bukan berarti salah satu kelompok penelitian keliru, melainkan menunjukkan bahwa pertanyaan "apakah GPS merusak kemampuan spasial" perlu dipecah menjadi pertanyaan yang lebih spesifik, tentang kebiasaan jangka panjang di satu sisi, dan proses belajar dalam paparan berulang di sisi lain.
Ketiga, meski nada umumnya berbeda, baik penelitian yang menyoroti manfaat maupun yang menyoroti risiko GPS pada akhirnya menuju kesimpulan yang serupa yaitu dampak Google Maps terhadap kognisi spasial bergantung pada bagaimana aplikasi itu digunakan, bukan semata pada frekuensi pemakaiannya. Instruksi yang menyertakan referensi landmark, misalnya, cenderung membantu perolehan pengetahuan spasial dibandingkan instruksi yang hanya berbasis posisi atau jarak (Ishikawa, 2019; Wunderlich & Gramann, 2021). Temuan ini melengkapi apa yang ditemukan Ying dkk. (2026) bahwa efektivitas peta digital dalam mendukung pembelajaran spasial dimoderasi oleh perbedaan individu dalam kemampuan dan strategi navigasi. Setelah membaca kedua kelompok temuan ini secara bersamaan, dapat dipahami bahwa Google Maps tidak otomatis membuat kemampuan spasial mahasiswa menjadi lebih baik atau lebih buruk. Yang tampak konsisten adalah adanya pergeseran jenis pengetahuan spasial yang terbentuk, dari pemahaman menyeluruh peta survei menuju sekadar mengikuti instruksi rute, terutama bila aplikasi digunakan secara pasif tanpa upaya aktif memperhatikan lingkungan sekitar.
Penutup
Google Maps telah mengubah cara manusia, khususnya mahasiswa, berhubungan dengan ruang di sekitarnya. Jika dahulu seseorang mengenali lingkungan terutama melalui pengalaman berjalan berulang kali, bertanya arah, dan menghafal rute, kini sebagian besar proses itu bisa digantikan oleh instruksi digital yang muncul otomatis di layar ponsel.
Perubahan ini membawa banyak kemudahan menemukan lokasi baru, menentukan rute dan estimasi waktu tempuh, melihat kondisi lingkungan lewat Street View, serta memperoleh berbagai informasi tentang suatu tempat sebelum benar-benar mendatanginya. Namun, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa kemudahan mencapai tujuan tidak selalu diikuti pemahaman ruang yang lebih baik. Penggunaan GPS dalam jangka panjang berkaitan dengan sense of direction dan representasi mental lingkungan yang lebih lemah pada sejumlah studi, meski bukti-bukti ini masih perlu dibaca hati-hati mengingat keterbatasan metodologis pada sebagian penelitian yang ada. Sementara itu, eksperimen navigasi berulang menunjukkan gambaran yang lebih seimbang, di mana peta digital membantu beberapa jenis pengetahuan spasial sekaligus sedikit memperlambat pembelajaran landmark pada paparan awal, sebelum pengetahuan spasial mahasiswa sama-sama berkembang seiring bertambahnya pengalaman di lingkungan tersebut.
Bagi mahasiswa Geografi, tantangannya bukan menjauhi teknologi peta digital, melainkan menggunakannya secara lebih sadar. Mengikuti rute digital tetap penting untuk mobilitas sehari-hari, tetapi memahami ruang di balik garis rute tersebut, mengenali landmark, arah mata angin, dan hubungan antar lokasi, tidak kalah penting untuk dilatih. Dengan begitu, Google Maps dapat menjadi alat bantu yang memperkaya cara mahasiswa mengenali ruang, tanpa membuat mereka sepenuhnya menyerahkan kemampuan itu kepada teknologi.
Daftar Pustaka
Anacta, V. J. A. (2024). Spatial learning using Google Streetview in an online wayfinding task. Research in Learning Technology, 32. https://doi.org/10.25304/rlt.v32.3067
Dahmani, L., & Bohbot, V. D. (2020). Habitual use of GPS negatively impacts spatial memory during self-guided navigation. Scientific Reports, 10, Article 6310. https://doi.org/10.1038/s41598-020-62877-0
Google. (2020, February 6). A look back at 15 years of mapping the world. Google Blog. https://blog.google/products/maps/look-back-15-years-mapping-world/
Google. (n.d.-a). Mendapatkan rute & menampilkan rute di Google Maps. Google Maps Help. https://support.google.com/maps/answer/144339
Google. (n.d.-b). Menggunakan lapisan untuk menemukan tempat, lalu lintas, medan, jalur bersepeda & transportasi umum. Google Maps Help. https://support.google.com/maps/answer/6396840
Ishikawa, T. (2019). Satellite navigation and geospatial awareness: Long-term effects of using navigation tools on wayfinding and spatial orientation. The Professional Geographer, 71(2), 197–209. https://doi.org/10.1080/00330124.2018.1479970
Miola, L., Muffato, V., Sella, E., Meneghetti, C., & Pazzaglia, F. (2024). GPS use and navigation ability: A systematic review and meta-analysis. Journal of Environmental Psychology, 99, Article 102417. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2024.102417
Nys, M., Gyselinck, V., Orriols, E., & Hickmann, M. (2015). Landmark and route knowledge in children's spatial representation of a virtual environment. Frontiers in Psychology, 5, Article 1522. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2014.01522
Richardson, A. E., Montello, D. R., & Hegarty, M. (1999). Spatial knowledge acquisition from maps and from navigation in real and virtual environments. Memory & Cognition, 27, 741–750. https://doi.org/10.3758/BF03211566
Ruginski, I. T., Creem-Regehr, S. H., Stefanucci, J. K., & Cashdan, E. (2019). GPS use negatively affects environmental learning through spatial transformation abilities. Journal of Environmental Psychology, 64, 12–20. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2019.05.001
Siegel, A. W., & White, S. H. (1975). The development of spatial representations of large-scale environments. In H. W. Reese (Ed.), Advances in child development and behavior (Vol. 10, pp. 9–55). Academic Press. https://doi.org/10.1016/S0065-2407(08)60007-5
Thorndyke, P. W., & Hayes-Roth, B. (1982). Differences in spatial knowledge acquired from maps and navigation. Cognitive Psychology, 14(4), 560–589. https://doi.org/10.1016/0010-0285(82)90019-6
Tolman, E. C. (1948). Cognitive maps in rats and men. Psychological Review, 55(4), 189–208. https://doi.org/10.1037/h0061626
Wunderlich, A., & Gramann, K. (2021). Landmark-based navigation instructions improve incidental spatial knowledge acquisition in real-world environments. Journal of Environmental Psychology, 77, Article 101677. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2021.101677
Xiang, X., & Liu, Y. (2019). Exploring and enhancing spatial thinking skills: Learning differences of university students within a web-based GIS mapping environment. British Journal of Educational Technology, 50(4), 1865–1881. https://doi.org/10.1111/bjet.12677
Ying, Q., Hilton, C., & Fabrikant, S. I. (2026). Do mobile maps help or hinder? Investigating their role in spatial knowledge acquisition across repeated navigation episodes. Journal of Environmental Psychology, 111, Article 103031. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2026.103031
Zook, M. A., & Graham, M. (2007). Mapping DigiPlace: Geocoded internet data and the representation of place. Environment and Planning B: Planning and Design, 34(3), 466–482. https://doi.org/10.1068/b3311