Penulis: Cindy Dwi Putri Setiady (SaIG, 2204077)
Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Dok. Penulis
Tahun 2025 melangkah masuk dengan angin yang terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, ada satu beban tak kasat mata yang selalu menggantung di atas kepala: Skripsi. Jujur saja, pada hari-hari pertama di tahun itu, tidak pernah sedikit pun terlintas di benak saya mengenai judul apa yang akan saya angkat. Kertas kerja saya masih kosong melompong, sementara waktu seolah terus berdetak dengan ritme yang memburu. Di tengah kebingungan itu, ada satu sosok yang menjadi motor penggerak bagi saya dan mungkin teman-teman seperjuangan di program studi Sains Informasi Geografi, yakni Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. Beliau menjabat sebagai Kepala Program Studi, namun bagi kami, beliau lebih dari sekadar pemimpin akademik. Beliau adalah pelatih yang berdiri di pinggir lintasan, mendorong mahasiswanya untuk tidak sekadar berjalan, melainkan terus berlari menyelesaikan perjalanan panjang perkuliahan ini tepat pada waktunya.
Dorongan dan motivasinya memantik api kecil di dada saya. Saya sadar, saya tidak bisa hanya sekadar lulus. Saya ingin meracik sebuah penelitian yang tidak hanya memenuhi syarat kelulusan, tetapi juga mampu memberikan pencerahan, sebuah insight baru bagi program studi yang membesarkan saya ini.
Berbekal tekad yang baru menyala, saya memberanikan diri untuk menemui dosen wali saya, Bapak Haikal Muhammad Ihsan, S.Pd., M. Sc. Saya membawa satu pertanyaan yang selama beberapa malam mengganggu pikiran saya: "Pak, apakah energi terbarukan khususnya panel surya bisa kita petakan dan kita hitung potensinya hanya dari jarak jauh menggunakan penginderaan jauh?" Pertanyaan itu disambut dengan positif oleh beliau. Diskusi kami mengalir deras. Beliau mengarahkan saya pada sebuah perspektif yang sebelumnya tertutup rapat. Kami berbicara tentang transisi dari sekadar asumsi pemetaan dua dimensi ke konfigurasi permukaan tiga dimensi menggunakan Digital Surface Model.
Dari ruangan Bapak Haikal, ide itu akhirnya mengerucut menjadi sebuah visi yang jelas: memodelkan kelayakan tekno rooftop solar photovoltaic. Tidak tanggung-tanggung, area yang saya pilih adalah Kecamatan Gedebage, sebuah kawasan yang tengah berkembang pesat. Pikiran saya langsung dipenuhi dengan bayangan ekstraksi suhu permukaan, pantulan, dan kemiringan atap. Arahan beliau sungguh membuka mata batin akademik saya. Dalam waktu yang terbilang cukup singkat, dibantu oleh semangat yang sedang memuncak, alhamdulillah saya berhasil merampungkan draf Bab 1 hingga Bab 3.
Namun, menulis naskah hanyalah separuh dari medan pertempuran. Ujian sesungguhnya adalah mempresentasikan dan mempertahankannya di hadapan para dosen penguji. Ketika saya menghadap Bapak Lili untuk mengajukan draf dan mendaftar Seminar Proposal, beliau tersenyum simpul dan menahan draf saya sejenak. Beliau tidak langsung memberikan lampu hijau. Sebaliknya, beliau memberikan sebuah nasihat strategis, "Sebelum kamu maju," kata beliau, "luangkan waktu untuk datang dan duduk di belakang pada seminar proposal teman-temanmu atau kakak tingkatmu. Perhatikan medannya."

Dok. Penulis
Saran itu terbukti menjadi senjata yang sangat ampuh. Beberapa kali saya menjadi penonton di berbagai ruang sidang. Saya memperhatikan dengan saksama; mencatat tipe-tipe pertanyaan yang sering dilontarkan, bagaimana alur logika para dosen saat mengkritisi sebuah metode spasial, hingga cara terbaik menanggapi pertanyaan jebakan. Saya belajar banyak tentang taktik bertahan dan menyerang. Berkat persiapan mental dan pengenalan medan tersebut, saat hari Seminar Proposal saya tiba, semuanya terasa seperti sebuah lakon yang sudah saya hapal naskahnya. Sidang itu berjalan begitu lancar. Pertanyaan - pertanyaan terkait urgensi dan teknik integrasi data spasial berhasil saya jawab dengan tenang, hingga akhirnya saya selesai seminar dan hanya tinggal menunggu Surat Keputusan (SK) Dosen Pembimbing turun.
Fase menunggu adalah fase yang paling membosankan, sekaligus menegangkan. Waktu berlalu cukup lama hingga akhirnya lembaran SK Pembimbing itu jatuh ke tangan saya. Bukannya lega, hati saya justru mendadak galau dan berdebar tak karuan. Nama yang tertera di sana bukanlah Bapak Haikal yang selama ini meramu metode bersama saya, melainkan Bapak Dr. Iwan Setiawan, S.Pd., M.Si. dan Ibu Dr. Tania Septi Anggraini, S.T., M.T., Ph.D. Saya terdiam menatap layar, alur pemodelan saya ini tidak main-main. Saya berencana menghitung potensi untuk belasan ribu struktur bangunan, tepatnya 14.515 bangunan di Gedebage, dipadukan dengan perhitungan investasi panjang selama 25 tahun.
Ketakutan terbesar saya adalah: "Bagaimana jika dosen pembimbing saya tidak sepakat dengan metode teknis yang merupakan hasil dari diskusi dengan dosen sebelumnya?" Saya membayangkan harus mengulang semuanya dari awal, merombak metode menjadi kodingan Google Earth Engine yang harus perbaikan sana-sini.
Namun, kecemasan itu perlahan hilang pada bimbingan pertama kami. Bapak Dr. Iwan dan Ibu Dr. Tania menyambut naskah saya dengan tangan terbuka. Alih-alih membongkar pondasi penelitian saya, beliau berdua justru menjadi arsitek yang merapikan struktur bangunan tugas akhir ini. Beliau berdua membimbing saya menyelami detail yang terlewat. Saya ingat betul bagaimana kami berdiskusi panjang mengenai alur logika spasial dan perhitungan ekonominya. Kami harus memastikan bahwa penghitungan jumlah modul surya benar-benar beradaptasi dengan klasifikasi "atap layak", tanpa ada pengulangan perhitungan yang merusak akurasi dimensi.
Tak segan-segan dosen dari Pendidikan Ekonomi pun senantiasa membantu saya dalam mengerjakan tugas akhir saya ini, yakni Bapak Lazuardi Imani Hakam,S.E.,M.E. Beliau sangat jeli dalam melihat hasil kalkulasi ekonomi. "Perhatikan perhitungan siklus hidupnya," nasihat beliau "LCC (Life Cycle Cost) itu kan penjumlahan dari investasi awal ditambah biaya operasional selama 25 tahun, jangan sampai terjadi perhitungan ganda di dalam perulangan NPV (Net Present Value)." Teguran-teguran kecil namun fatal semacam itu menyelamatkan penelitian saya dari cacat logika. Tidak hanya itu, beliau mengajari saya bagaimana merajut data-data angka yang kaku, seperti inflasi 3,48% dan discount rate 10%, menjadi sebuah cerita pembahasan yang mengalir untuk dibaca.
Bersama dosen - dosen hebat, validasi lapangan terhadap 111 titik sampel bangunan di Gedebage tidak hanya menjadi sekadar tabel angka validasi, melainkan sebuah narasi tentang kondisi riil di lapangan. Berkat bantuan dari Bapak Ibnu Hartopo, M.Pd. dan Bapak Mugni Labib Edypoerwa, S.T., M.T., yang telah meminjamkan alat solar power meteri, saya mampu mengukur intensitas matahari di lapangan guna memvalidasi pengolahan saya sebelumnya. Berkat kedalaman ilmu, ketelitian, dan cara pandang mereka yang sangat komprehensif, tugas akhir yang awalnya hanya berupa ambisi kasar kini menjelma menjadi sebuah karya ilmiah yang membuat saya tersenyum puas saat membacanya berulang kali.

Dok. Penulis
Bulan Mei 2026 tiba dengan udara Bandung yang sesekali disapa gerimis sore. Di tengah kesibukan saya melakukan finishing naskah dan menyiapkan skrip presentasi akhir untuk membandingkan skema on-grid dan off-grid, sebuah pesan masuk. Kepala Program Studi kami, Bapak Dr. Lili, kembali memainkan perannya sebagai pemacu adrenalin. Beliau secara personal mengingatkan dan mendorong saya agar segera mengurus segala persyaratan pendaftaran sidang. "Sudah sejauh ini, jangan sampai kendor di administrasi. Cepat urus agar bisa segera sidang" tegur beliau dengan nada yang khas.
Dorongan itu layaknya cambuk yang menyadarkan saya dari kelelahan berbulan-bulan. Dengan mata yang terkadang pedih menatap layar dan langkah yang bergegas mengitari koridor kampus, saya merampungkan semuanya. Saya menyusun slide deck presentasi, memastikan daftar pustaka sesuai panduan, mencetak naskah tebal itu, dan berlari mengumpulkan tanda tangan. Berkat ritme cepat yang beliau paksakan, seluruh persyaratan berhasil saya kumpulkan tepat waktu. Lembar pengesahan itu akhirnya ditandatangani oleh kedua dosen pembimbing saya yang luar biasa. Tinta di atas kertas itu menjadi saksi bisu dari ratusan jam yang dihabiskan untuk merancang, mengolah data, dan merangkai kata.
Ketika saya duduk diam merenungi perjalanan ini, ada rasa haru yang tak mampu diurai dengan kata-kata. Hati saya penuh dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. Kepada Bapak Haikal yang telah membukakan pintu ide pertama; kepada Bapak Dr. Iwan Setiawan dan Ibu Dr. Tania yang dengan penuh kesabaran merangkul metode saya, memoles hasil, dan menata gaya bahasa tulisan saya hingga terasa bernyawa; serta tak lupa kepada kepala prodi, Bapak Dr. Lili Somantri, yang tidak pernah lelah mendorong dan memastikan memastikan kami, mahasiswa - mahasiswanya, berhasil melewati garis akhir dengan kepala tegak. Serta kepada seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang senantiasa dalam membantu serta menemani saya dalam perjalanan menyelesaikan tugas akhir ini.

Dok. Penulis
Tugas akhir ini adalah hasil yang lahir dari kolaborasi pemikiran yang luar biasa. Saya hanya bisa merapal harap, semoga apa yang telah saya tuliskan mengenai potensi surya di atap-atap Gedebage ini bukan sekadar menjadi penghuni rak perpustakaan. Semoga kelak, lembaran-lembaran ini bisa memberikan manfaat nyata bagi program studi Sains Informasi Geografi, baik sebagai insight pijakan bagi adik-adik tingkat yang ingin menyusun penelitian spasial yang jauh lebih kompleks, maupun sebagai bahan ajar yang dapat ditelaah lebih dalam lagi demi kemajuan energi terbarukan di negeri ini. Perjalanan skripsi ini telah usai, namun jejak cahayanya, saya yakin, akan terus menyala.
