Tanggal Kegiatan: (Juli 2026 )
Penulis: Muhammad Toriq (SaIG, 2505143)
Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)
Perkembangan Sistem Informasi Geografis (SIG) telah membawa perubahan besar dalam cara memahami berbagai fenomena di permukaan bumi. Tidak hanya digunakan untuk pemetaan, teknologi geospasial kini menjadi bagian penting dalam perencanaan wilayah, mitigasi bencana, analisis lingkungan, hingga pengambilan keputusan di berbagai sektor industri. Menguasai perangkat lunak, memahami alur analisis, serta mampu menginterpretasikan hasil menjadi kompetensi yang perlu dimiliki oleh mahasiswa Sains Informasi Geografi (SaIG) untuk menjawab tantangan dunia kerja yang semakin dinamis.
Sebagai wadah belajar bersama, Komunitas IMAGIS kembali menyelenggarakan Kegiatan Rutin Komunitas (KRK) Intermediate yang berfokus pada pengembangan keterampilan analisis spasial tingkat menengah menggunakan ArcGIS Pro dan berbagai metode analisis geospasial. Berbeda dengan kelas dasar yang lebih menitikberatkan pada pengenalan perangkat lunak, KRK Intermediate dirancang untuk memperkenalkan alur kerja (workflow) yang sering dijumpai dalam proyek penelitian maupun pekerjaan profesional di bidang geospasial.
Selama tiga pekan pelaksanaan, peserta tidak hanya mengikuti penjelasan materi, tetapi juga mengerjakan studi kasus secara langsung melalui pendekatan hands-on. Setiap pertemuan dirancang agar peserta memahami hubungan antara data, proses analisis, hingga interpretasi hasil yang dihasilkan. Dengan semangat belajar bersama, diskusi, serta praktik secara bertahap, peserta diharapkan mampu membangun pola berpikir analitis yang menjadi bekal penting sebagai calon praktisi geospasial.
Pekan ke-1 (Jum'at, 10 Juli 2026):
Pemodelan Banjir Berbasis HEC-RAS dengan Integrasi vektor Bangunan

Dok Penulis
Pertemuan pertama membahas pemodelan Banjir menggunakan HEC-RAS, salah satu perangkat lunak yang banyak dimanfaatkan dalam analisis banjir, simulasi aliran sungai, hingga perencanaan infrastruktur sumber daya air. Materi ini memperkenalkan bagaimana data spasial seperti Digital Elevation Model (DEM), jaringan sungai, penampang melintang (cross section), serta parameter hidraulik diintegrasikan menjadi sebuah model yang mampu menggambarkan karakteristik aliran sungai.
Kontributor diajak memahami tahapan penyusunan model mulai dari persiapan data, pembangunan geometri sungai, penentuan kondisi batas (boundary condition), simulasi debit, hingga visualisasi hasil genangan dan integrasi model bangunan 3D yang tergenang oleh genangan banjir, melalui praktik secara langsung, peserta memperoleh gambaran mengenai pentingnya kualitas data spasial dalam menghasilkan simulasi yang representatif. Materi ini menunjukkan bahwa SIG tidak hanya berfungsi sebagai alat visualisasi, tetapi juga menjadi fondasi dalam berbagai analisis hidrologi dan mitigasi bencana yang banyak diterapkan oleh instansi pemerintah maupun konsultan teknik.
Pekan ke-2 (Jum'at, 17 Juli 2026):
Analisis Line of Sight (LOS) Untuk Menentukan Potensi Pariwisata Suatu Daerah

Dok Penulis
Memasuki pekan kedua, Kontributor mempelajari Line of Sight (LOS) sebagai salah satu analisis visibilitas yang banyak digunakan dalam perencanaan kawasan wisata, penempatan menara telekomunikasi, keamanan wilayah, hingga analisis lanskap. Studi kasus yang digunakan dalam kegiatan ini adalah potensi letak Cafe menggambarkan proses menentukan lokasi terbaik berdasarkan kenampakan suatu objek terhadap lingkungan sekitarnya.
Praktik dimulai dengan memasukkan data DEM dan batas administrasi sebagai dasar analisis. Selanjutnya peserta menambahkan titik observer yang merepresentasikan lokasi calon kafe serta titik target sebagai lokasi potensi city light. Untuk memperjelas kondisi topografi digunakan visualisasi hillshade, kemudian dilakukan proses Add Surface Information guna memperoleh nilai elevasi pada masing-masing titik. Nilai ketinggian tersebut disesuaikan dengan menambahkan tinggi bangunan atau pengamat melalui pengeditan atribut Z sebelum membangun jalur pandang menggunakan Construct Sight Lines dan dianalisis melalui Line of Sight.
Melalui tahapan tersebut, peserta dapat mengidentifikasi bagian jalur yang memiliki pandangan bebas (visible) maupun yang terhalang oleh relief permukaan bumi (obstructed). Analisis ini memperlihatkan bagaimana kondisi topografi dapat mempengaruhi keputusan spasial dalam berbagai bidang, mulai dari pengembangan destinasi wisata hingga perencanaan infrastruktur.
Pekan ke-3 (Jum'at, 24 Juli 2026):
Analisis Site dengan Parameter Aksesibilitas, Matahari dan Kebisingan di ArcGIS Pro

Dok. Penulis
Sebagai penutup rangkaian KRK Intermediate, peserta mempelajari Analisis Kesesuaian Tapak (Site Suitability Analysis) menggunakan pendekatan Multi-Criteria Evaluation (MCE) dan Weighted Overlay. Materi ini menggambarkan salah satu metode analisis spasial yang paling sering digunakan dalam proses perencanaan wilayah, penentuan lokasi pembangunan, maupun kajian pengambilan keputusan berbasis data.
Tahapan dimulai dengan menyiapkan seluruh data spasial serta menyeragamkan sistem koordinat ke UTM Zona 48S. Analisis dilakukan menggunakan tiga parameter utama, yaitu aksesibilitas, radiasi matahari, dan kebisingan. Parameter aksesibilitas dihitung melalui Euclidean Distance terhadap jaringan jalan yang kemudian direklasifikasi berdasarkan kedekatan akses. Parameter radiasi matahari diperoleh menggunakan Area Solar Radiation yang dilanjutkan dengan Focal Statistics untuk menghasilkan nilai rata-rata penyinaran sebelum dilakukan reklasifikasi. Sementara itu, parameter kebisingan dianalisis menggunakan interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW) dari titik pengamatan kebisingan dan kemudian diklasifikasikan menjadi lima kelas kesesuaian.
Sebelum seluruh parameter digabungkan, dilakukan proses Resample untuk menyamakan ukuran piksel sehingga setiap raster memiliki resolusi yang seragam. Selanjutnya ketiga parameter diintegrasikan menggunakan Weighted Overlay dengan bobot yang sama untuk menghasilkan peta kesesuaian tapak yang menunjukkan lokasi dengan tingkat kesesuaian tertinggi hingga terendah.
Melalui materi ini peserta tidak hanya belajar menjalankan berbagai geoprocessing tools, tetapi juga memahami bahwa setiap keputusan spasial merupakan hasil integrasi berbagai parameter yang saling memengaruhi. Pendekatan seperti ini menjadi dasar dalam banyak kajian perencanaan wilayah, pengembangan kawasan, analisis lingkungan, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis data spasial.
Rangkaian KRK Intermediate menjadi pengingat bahwa kemampuan menggunakan SIG tidak hanya diukur dari seberapa banyak perangkat lunak yang dikuasai, tetapi juga dari kemampuan memahami alur analisis, memilih metode yang tepat, serta menginterpretasikan hasil secara kritis. Melalui semangat belajar bersama, saling berdiskusi, dan berbagi pengalaman, setiap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga membangun pola pikir sebagai calon analis geospasial yang siap menghadapi tantangan penelitian maupun dunia profesional. Harapannya, pengalaman selama KRK Intermediate dapat menjadi pijakan awal untuk terus mengembangkan kompetensi geospasial yang adaptif, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan industri serta perkembangan teknologi di masa depan.