Penulis : Naura Tika Zaahira (2404731) dan Syauqy Ahnaf Abbasy (2406221)
Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)
Dok. Penulis
Ditengah aktifnya terhadap pembangunan infrastruktur nasional, pengelolaan sumber daya air dan geoteknik keairan memegang peranan fundamental dalam menjamin keberlanjutan lingkungan. Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Balai Hidrolika dan Geoteknik Keairan atau yang biasa disebut dengan BHGK hadir untuk meningkatkan ketahanan air untuk swasembada pangan, energi, dan air, pembangunan konektivitas yang berkualitas, serta pemerataan akses infrastruktur keciptakaryaan.
Pada tanggal 4 Agustus 2026, kami diberikan kesempatan untuk berkunjung secara langsung ke Balai Hidrolika dan Geoteknik Keairan yang berada di Jl. Ir. H. Juanda No.193, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Kami disambut secara langsung oleh Bapak Bagas Nathaniel selaku Ahli pertama pengelola sumber daya air di BHGK. Selama melakukan kunjungan di BHGK kami berkesempatan untuk menggali informasi mengenai BHGK ini.

Dok. Penulis
BHGK ini sendiri berfokus kepada pengembangan teknologi hidrolika melalui pengujian di laboratorium hidrolika dan mekanika tanah, berlandaskan Permen PU No. 1 Tahun 2025. Di BHGK ini ternyata belum memiliki divisi khusus untuk pengolahan data spasial. Jadi untuk urusan peta dan data geospasial biasanya ditangani oleh karyawan yang memiliki kemampuan dasar GIS, dan dibantu oleh sekitar 24 tenaga ahli hidrologi. Semua kegiatan operasional mereka sendiri didanai langsung dari APBN.

Dok. Penulis
Untuk pemodelan, BHGK memanfaatkan data dari citra satelit serta elevasi DEMNAS dan SRTM, meski validitas DEMNAS terkadang diragukan karena tanggalnya tidak diketahui secara pasti. Terkait data sekunder, akses terhadap data internal bersifat terbatas dan hanya bisa diakses lewat permohonan resmi BHGK. Selain itu, BHGK saat ini belum bergabung dalam Simpul Jaringan JIGN, sehingga penerapan Kebijakan Satu Peta di instansi ini masih berjalan secara bertahap di lingkup internal. Hasil audit kematangan tata kelola informasi geospasial yang ada di BHGK menunjukkan kondisi yang masih berkembang, baik dari sisi kelembagaan, teknologi, maupun pengelolaan data dengan sistem backup yang justru sudah optimal. Dukungan teknologi mencakup software seperti QGIS, MIKE, HEC-RAS, dan GeoStudio, serta perangkat seperti drone, GNSS RTK, dan echosounder. BHGK juga aktif berkolaborasi dengan BIG, BRIN, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan swasta.
Bagi lulusan Sains Informasi Geografi, BHGK ini terbuka melalui program magang serta wadah penelitian tugas akhir. BHGK sendiri sangat membutuhkan dan mengutamakan kompetensi di bidang pengelolaan sumber daya air, perencanaan hidrologi, serta penguasaan perangkat lunak khusus seperti MIKE, GeoStudio, dan AutoCAD. Dapat disimpulkan bahwa keahlian spasial lulusan SaIG masih sangat dibutuhkan untuk mengisi celah dan memperkuat sektor pengolahan data teknis di instansi pemerintah seperti BHGK.

Dok. Penulis