Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
FGD RKI 2026: Diskusi tentang Pengaruh Media Sosial terhadap Pemahaman Radikalisme dan Intoleransi Berbasis SARA pada Generasi Z

Bandung, 30 Juli 2026 – Tim peneliti Skema Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) 2026 yang terdiri atas Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), dan Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Gedung Nu’man Sumantri UPI, Kamis (30/07). Kegiatan ini bertujuan untuk memvalidasi hasil survei nasional terhadap 403 responden Generasi Z mengenai penggunaan media sosial serta kaitannya dengan pemahaman terhadap radikalisme dan intoleransi berbasis SARA.

Penelitian ini merupakan bagian dari program Skema Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) 2026 yang melibatkan kolaborasi peneliti dari tiga perguruan tinggi. Tim peneliti dari UPI dipimpin oleh Prof. Dr. Elly Malihah, M.Si. sebagai ketua, dengan anggota Prof. Dr. Siti Nurbayani K., M.Si. dan Puspita Wulandari, M.Pd. Dari UIII, penelitian melibatkan Ridwan, Ph.D., sedangkan dari UM dipimpin oleh Prof. Dr. Ahmad Munjin Nasih, S.Pd., M.Ag. sebagai ketua bersama Dr. Sulthoni, S.Pd., M.Ag. sebagai anggota.

FGD diikuti oleh tim peneliti, akademisi, praktisi pendidikan, guru, dosen, mahasiswa, serta perwakilan Generasi Z. Acara diawali dengan pemaparan hasil survei nasional oleh tim peneliti, kemudian dilanjutkan dengan diskusi untuk memperdalam dan menginterpretasikan temuan penelitian.

Penelitian ini menggunakan pendekatan Explanatory Sequential Mixed Methods, yang mengombinasikan data kuantitatif dari survei nasional dengan data kualitatif melalui FGD dan wawancara mendalam. Pendekatan tersebut digunakan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika penggunaan media sosial dan pembentukan pemahaman Generasi Z terhadap isu radikalisme serta intoleransi berbasis SARA.

Selama FGD berlangsung, peserta aktif menyampaikan pandangan dan pengalaman dalam menghadapi derasnya arus informasi di ruang digital, khususnya dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar melalui media sosial. Beragam perspektif yang muncul turut memperkaya interpretasi hasil penelitian, terutama mengenai dinamika penggunaan media sosial serta cara Generasi Z menerima, memahami, dan menyikapi informasi di ruang digital

Salah satu peserta yang aktif menyampaikan pandangan dalam sesi diskusi berinisial AM menyampaikan bahwa, "Literasi digital dapat menjadi langkah preventif dalam menanggulangi radikalisme." Meskipun mayoritas responden mengaku tidak terpengaruh konten SARA, peserta FGD menilai pengaruh tersebut sering kali tidak disadari secara langsung.

Pembahasan dalam FGD terbagi ke dalam tiga tema utama. Tema pertama membahas proses terbentuknya pemahaman mengenai radikalisme di ruang digital melalui pengaruh lingkungan sosial, algoritma media sosial, serta peran tokoh agama. Diskusi ini menyoroti bagaimana berbagai sumber informasi di media sosial dapat membentuk cara pandang dan pemahaman pengguna terhadap isu-isu keagamaan dan sosial.

Tema kedua membahas pentingnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi, termasuk ujaran kebencian dan konten manipulatif. Kemampuan tersebut dipandang penting agar Generasi Z tidak hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga dapat menilai kredibilitas, konteks, dan dampak dari informasi yang diterima.

Sementara itu, tema ketiga menyoroti keterkaitan penggunaan media sosial dengan toleransi dan ketahanan nilai-nilai kebangsaan Generasi Z. Meskipun mayoritas responden dalam survei mengaku tidak terpengaruh oleh konten SARA, peserta FGD menilai bahwa paparan informasi di media sosial dapat memberikan pengaruh secara tidak langsung dan tidak selalu disadari oleh pengguna.

Selain melibatkan tim peneliti dari UPI, UIII, dan UM, FGD ini juga menghadirkan akademisi, praktisi Pendidikan, serta perwakilan Generasi Z, termasuk siswa SMAN Labschool UPI. Masukan dari para peserta memberikan kontribusi penting bagi pengembangan model literasi digital yang lebih kritis, inklusif, dan bertanggung jawab.

Melalui FGD ini, tim peneliti memperoleh sejumlah masukan untuk memperdalam hasil penelitian dan menyempurnakan model literasi digital reflektif. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu dasar dalam penyusunan rekomendasi kebijakan terkait penguatan literasi digital, moderasi beragama, serta upaya pencegahan radikalisme dan intoleransi di kalangan Generasi Z.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *