Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Informasi Kebencanaan di Ruang Digital

Penulis: Nur Indah Safitri (2402918)

Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)

 

Gambar 1. Penyebaran Informasi Kebencanaan di Media Sosial

Beberapa tahun terakhir, masyarakat semakin terbiasa memperoleh informasi melalui media sosial. Berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita dapat diketahui hanya dalam hitungan menit melalui unggahan yang muncul di Instagram, X, TikTok, maupun platform digital lainnya. Tidak terkecuali ketika terjadi bencana. Informasi mengenai banjir, tanah longsor, gempa bumi, kebakaran permukiman, atau cuaca ekstrem sering kali lebih dahulu diketahui masyarakat melalui media sosial sebelum diberitakan secara luas oleh televisi maupun portal berita. Perubahan ini menunjukkan bahwa cara masyarakat mengakses informasi telah mengalami pergeseran yang cukup besar. Media sosial tidak lagi hanya digunakan untuk berinteraksi atau mencari hiburan, tetapi juga menjadi sumber informasi yang banyak diandalkan. Dalam situasi tertentu, informasi yang tersebar melalui media sosial bahkan dapat memengaruhi cara masyarakat memahami dan merespons suatu peristiwa.

Perubahan pola penyebaran informasi tersebut tidak terlepas dari semakin luasnya penggunaan internet di Indonesia. Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa tingkat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 81,72% atau sekitar 235,26 juta penduduk yang terhubung dengan internet. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat telah memiliki akses terhadap berbagai informasi digital. Situasi ini turut memengaruhi cara masyarakat memperoleh informasi, termasuk informasi mengenai kebencanaan yang kini dapat diterima dengan lebih cepat melalui media sosial. Dalam situasi kebencanaan, kecepatan informasi menjadi hal yang penting karena berkaitan dengan keselamatan, kebutuhan bantuan, maupun langkah yang perlu dilakukan oleh masyarakat. Informasi yang diterima terlambat dapat mengurangi efektivitas respons, sedangkan informasi yang tersampaikan dengan cepat dapat membantu masyarakat memahami situasi yang sedang berlangsung. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi bagian penting dalam proses komunikasi kebencanaan di Indonesia.

Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Letak geografis Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia menyebabkan wilayahnya rentan terhadap gempa bumi dan aktivitas vulkanik. Selain itu, karakteristik iklim tropis juga membuat berbagai daerah berpotensi mengalami banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga cuaca ekstrem. Hampir setiap tahun masyarakat di berbagai daerah dihadapkan pada peristiwa kebencanaan dengan karakteristik yang berbeda-beda. Di kawasan perkotaan, banjir masih menjadi ancaman yang sering terjadi ketika curah hujan meningkat. Sementara itu, wilayah perbukitan dan pegunungan lebih rentan terhadap tanah longsor, terutama pada musim hujan. Beragam kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap informasi kebencanaan menjadi semakin penting. Masyarakat tidak hanya perlu mengetahui bahwa sebuah bencana telah terjadi, tetapi juga perlu memahami risiko, dampak, serta langkah mitigasi yang dapat dilakukan agar mampu mengurangi potensi kerugian yang ditimbulkan.

Dalam perspektif geografi, informasi merupakan salah satu komponen penting dalam upaya pengurangan risiko bencana. Pemahaman mengenai kondisi lingkungan, karakteristik wilayah, hingga potensi ancaman yang dimiliki suatu daerah dapat membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih tepat ketika menghadapi situasi tertentu. Oleh karena itu, penyebaran informasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana pemberitaan, tetapi juga menjadi bagian dari edukasi kebencanaan. Informasi yang mudah dipahami dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko yang ada di sekitarnya. Ketika masyarakat memahami kondisi wilayahnya dengan lebih baik, peluang untuk melakukan tindakan yang tepat sebelum, saat, maupun setelah bencana juga menjadi lebih besar. Informasi yang tepat pada akhirnya dapat mendukung terbentuknya masyarakat yang lebih siap menghadapi berbagai ancaman bencana.

Perkembangan media sosial kemudian membuka peluang yang lebih luas dalam penyebaran informasi kebencanaan. Berbagai lembaga seperti BMKG, BNPB, pemerintah daerah, komunitas kebencanaan, hingga organisasi kemahasiswaan memanfaatkan platform digital untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Melalui media sosial, informasi mengenai peringatan dini cuaca ekstrem, aktivitas gunung api, kondisi wilayah terdampak, maupun perkembangan penanganan bencana dapat diakses dengan lebih mudah. Keunggulan utama media sosial terletak pada kemampuannya menjangkau banyak orang dalam waktu yang relatif singkat. Satu unggahan dapat diteruskan kembali oleh pengguna lain sehingga penyebarannya menjadi semakin luas. Kondisi ini membuat media sosial menjadi salah satu sarana yang cukup efektif dalam mendukung komunikasi kebencanaan.

Di lingkungan organisasi kemahasiswaan, media sosial juga menjadi sarana yang banyak digunakan untuk menyampaikan berbagai informasi kepada mahasiswa. Tidak hanya berkaitan dengan kegiatan akademik dan organisasi, media sosial juga dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang berhubungan dengan isu sosial maupun kebencanaan. Ketika terdapat kegiatan edukasi, kampanye sosial, atau penggalangan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana, informasi mengenai kegiatan tersebut perlu diketahui oleh banyak pihak agar tujuan yang ingin dicapai dapat terlaksana dengan baik. Karena itu, proses penyebaran informasi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan suatu kegiatan. Informasi yang tidak tersampaikan dengan baik berpotensi membuat suatu kegiatan kehilangan jangkauan audiens yang sebenarnya dapat terlibat dan berpartisipasi.

Salah satu contoh yang dapat ditemukan adalah kegiatan yang diinisiasi oleh Departemen Sosial Politik melalui program Geography Social Project. Ketika terdapat aksi kemanusiaan atau penggalangan donasi bagi masyarakat yang terdampak musibah, informasi mengenai kegiatan tersebut perlu dipublikasikan kepada mahasiswa maupun masyarakat yang lebih luas. Pada tahap inilah media sosial berperan sebagai sarana untuk memperluas jangkauan informasi. Sementara itu, Departemen Komunikasi dan Informasi membantu menyebarluaskan informasi yang telah disusun agar dapat diterima oleh lebih banyak audiens melalui media digital organisasi. Peran yang dijalankan bukan sebagai pihak yang menginisiasi kegiatan, melainkan sebagai penghubung informasi sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat menjangkau lebih banyak orang. Melalui proses tersebut, informasi yang awalnya hanya diketahui oleh sebagian kecil orang dapat tersebar lebih luas dan memperoleh perhatian dari berbagai pihak.

Contoh sederhana dapat dilihat ketika dilakukan penggalangan donasi bagi korban kebakaran permukiman di suatu wilayah. Informasi yang dipublikasikan melalui media sosial organisasi tidak berhenti pada satu unggahan saja. Mahasiswa yang melihat informasi tersebut dapat membagikannya kembali melalui akun pribadi, grup percakapan, maupun platform digital lainnya. Dalam waktu yang relatif singkat, informasi tersebut dapat menjangkau orang-orang yang sebelumnya tidak mengetahui adanya kegiatan tersebut. Semakin banyak orang yang membagikan informasi itu, semakin besar pula peluang informasi tersebut menjangkau masyarakat yang lebih luas. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial mampu mempercepat penyebaran informasi sekaligus meningkatkan peluang terbentuknya kepedulian sosial terhadap masyarakat yang sedang membutuhkan bantuan.

Gambar 2. Publikasi Kegiatan Sosial dan Jangkauan Informasi di Media Sosial
Sumber: Instagram Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi FPIPS UPI.

Kemampuan media sosial dalam menjangkau audiens yang luas membuatnya tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi ketika bencana telah terjadi. Media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi mitigasi bencana yang dilakukan secara berkelanjutan. Berbagai informasi mengenai langkah evakuasi, kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, potensi banjir musiman, hingga cara menghadapi cuaca ekstrem dapat dibagikan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami. Penyampaian informasi yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari membantu masyarakat memahami risiko yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, media sosial tidak hanya berperan dalam menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian, tetapi juga membantu membangun kesadaran masyarakat sebelum bencana terjadi.

Dari sudut pandang geografi, edukasi mitigasi yang disebarkan melalui media sosial dapat membantu masyarakat memahami karakteristik wilayah tempat mereka tinggal. Setiap wilayah memiliki potensi ancaman yang berbeda sehingga informasi yang dibutuhkan juga tidak selalu sama. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir tentu memerlukan informasi yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan longsor atau wilayah pesisir yang berpotensi terdampak tsunami. Karena itu, penyebaran informasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah menjadi penting dalam mendukung upaya pengurangan risiko bencana. Media sosial memberikan ruang bagi berbagai pihak untuk menyampaikan informasi tersebut secara lebih cepat dan mudah diakses oleh masyarakat.

Meskipun memiliki banyak manfaat, penggunaan media sosial dalam penyebaran informasi kebencanaan juga menghadirkan berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang paling sering muncul adalah penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Ketika terjadi bencana, tidak sedikit foto lama yang kembali beredar dan dianggap sebagai kejadian terbaru. Video dari lokasi yang berbeda terkadang dibagikan tanpa keterangan yang jelas sehingga memunculkan kesalahpahaman. Dalam beberapa kasus, informasi yang tidak akurat bahkan dapat menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa kecepatan penyebaran informasi harus diimbangi dengan ketepatan informasi yang disampaikan. Informasi yang cepat tetapi tidak akurat justru dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.

Selain memicu kepanikan, informasi yang keliru juga dapat memengaruhi pengambilan keputusan masyarakat. Informasi mengenai lokasi bencana, jalur evakuasi, maupun kondisi wilayah tertentu yang tidak sesuai fakta berpotensi menimbulkan kebingungan. Dalam situasi darurat, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas, mudah dipahami, serta berasal dari sumber yang terpercaya. Oleh karena itu, proses verifikasi menjadi bagian penting dalam komunikasi kebencanaan. Informasi yang benar tidak hanya membantu masyarakat memahami situasi yang sedang terjadi, tetapi juga membantu mereka menentukan langkah yang tepat sesuai kondisi yang dihadapi.

Gambar 3. Informasi Kebencanaan di Ruang Digital
Sumber: BMKG.

Dalam konteks tersebut, literasi informasi menjadi aspek yang semakin penting di ruang digital. Masyarakat tidak hanya dituntut untuk mampu mengakses informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa sumber informasi yang diterimanya. Memastikan asal informasi, membandingkan dengan sumber resmi, serta memahami konteks suatu informasi merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran hoaks. Dalam konteks kebencanaan, kemampuan tersebut memiliki peran yang sangat penting karena informasi yang keliru dapat memengaruhi cara masyarakat merespons suatu kejadian. Semakin baik kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi, semakin kecil pula risiko penyebaran informasi yang menyesatkan.

Selain tanggung jawab individu, pengelola media informasi juga memiliki peran dalam menjaga kualitas informasi yang disebarkan kepada publik. Informasi yang dipublikasikan sebaiknya berasal dari sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Langkah ini penting agar media digital tidak menjadi ruang yang mempercepat penyebaran informasi yang salah. Dengan memastikan bahwa informasi yang disampaikan telah melalui proses penyaringan yang baik, media sosial dapat berfungsi sebagai sarana edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam konteks organisasi kemahasiswaan, peran tersebut juga menjadi penting karena informasi yang dibagikan kepada publik akan memengaruhi tingkat kepercayaan audiens terhadap media yang digunakan. Ketelitian dalam memilih sumber dan menyampaikan informasi menjadi bagian penting dalam proses komunikasi di ruang digital, terutama ketika informasi yang dibagikan berkaitan dengan isu kebencanaan.

Pada akhirnya, media sosial telah menjadi salah satu sarana yang berperan penting dalam penyebaran informasi kebencanaan di Indonesia. Kecepatan dan kemudahan akses yang dimilikinya memberikan peluang bagi berbagai pihak untuk menyampaikan informasi, edukasi mitigasi, maupun aksi kemanusiaan kepada masyarakat secara lebih luas. Namun, manfaat tersebut hanya dapat dirasakan apabila informasi yang beredar akurat, mudah dipahami, serta berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Di tengah arus informasi yang terus bergerak cepat, kemampuan untuk menyebarkan sekaligus menyaring informasi menjadi hal yang semakin penting. Komunikasi kebencanaan tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat informasi dapat disampaikan, tetapi juga bagaimana informasi tersebut dapat membantu masyarakat memahami situasi, mengurangi risiko, dan mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi bencana.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *