Penulis: Kayla Seruni (2406676) dan Maulidza Berliani (2500071)
Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)
Pernah membayangkan melihat sebuah pulau di seberang laut, tetapi pulau itu ternyata sudah berada di hari berikutnya? Kedengarannya seperti cerita fiksi, tetapi fenomena tersebut benar-benar ada. Tempat itu adalah Kepulauan Diomede, dua pulau kecil di tengah Selat Bering yang memisahkan Rusia dan Amerika Serikat.
Dua pulau tersebut hanya berjarak sekitar 3,8 kilometer. Dalam kondisi cuaca yang memungkinkan, Big Diomede di Rusia dapat terlihat jelas dari Little Diomede di Alaska. Namun, kedekatan geografis itu berbanding terbalik dengan perbedaan waktu. Big Diomede berada hampir satu hari lebih awal daripada Little Diomede. Karena itulah kedua pulau ini sering dijuluki “Tomorrow Island” dan “Yesterday Island”. NASA bahkan menggunakan sebutan tersebut ketika membahas fenomena geografis kedua pulau ini.

Sumber : merdeka.com
Kepulauan Diomede terdiri atas dua pulau utama. Big Diomede, yang juga dikenal sebagai Ratmanov Island, berada di wilayah Rusia. Sementara itu, Little Diomede merupakan bagian dari Alaska, Amerika Serikat. Jarak di antara keduanya hanya sekitar 3,8 kilometer atau 2,4 mil. Angka tersebut terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan luas wilayah yang mereka pisahkan. Namun, di antara kedua pulau inilah terdapat perbatasan Amerika Serikat–Rusia sekaligus International Date Line atau Garis Batas Penanggalan Internasional. USGS menyebut garis penanggalan tersebut berada di antara kedua daratan.
Garis Penanggalan Internasional sendiri merupakan batas yang digunakan untuk membedakan dua tanggal kalender yang berurutan. Garis ini pada dasarnya mengikuti sekitar garis bujur 180°, tetapi tidak membentuk garis lurus sempurna karena menyesuaikan batas politik dan wilayah negara. NOAA menjelaskan bahwa ketika seseorang melintasi garis ini ke arah barat, tanggal kalender bertambah satu hari, sedangkan ketika bergerak ke arah sebaliknya, tanggalnya mundur satu hari.
Hal inilah yang membuat posisi Diomede menjadi sangat unik. Di satu sisi terdapat Little Diomede, sementara di sisi lainnya terdapat Big Diomede. Jaraknya hanya beberapa kilometer, tetapi secara kalender keduanya berada pada tanggal yang berbeda.
Perbedaan waktunya juga tidak selalu tepat 21 jam. Saat Alaska menggunakan waktu standar, selisihnya adalah 21 jam. Ketika Alaska memasuki waktu musim panas atau daylight saving time, selisih tersebut menjadi 20 jam. Jadi, istilah “21 jam” yang sering digunakan untuk menjelaskan Diomede perlu dipahami sebagai kondisi pada waktu standar Alaska.
Sejarah Penemuan dan Pemisahan oleh Dua Negara Adidaya
Sebelum menjadi simbol perbatasan Rusia dan Amerika Serikat, Kepulauan Diomede telah menjadi tempat hidup masyarakat adat selama berabad-abad. Masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dengan laut dan es. Mereka memanfaatkan lingkungan sekitar untuk berburu, menangkap hasil laut, serta melakukan pertukaran dengan wilayah di sekitar Selat Bering.
Kawerak, organisasi yang mewakili berbagai komunitas masyarakat adat di kawasan Bering Strait, mencatat bahwa masyarakat awal Diomede memiliki budaya yang berkaitan erat dengan laut dan aktivitas berburu paus. Kawasan tersebut juga menjadi ruang interaksi dan perdagangan antara masyarakat dari Asia dan Amerika Utara.
Nama Diomede sendiri berkaitan dengan perjalanan Vitus Bering. Pada 1728, Bering mendokumentasikan Selat Bering dalam ekspedisinya. Kawerak mencatat bahwa pada tahun yang sama kedua pulau tersebut dinamai Diomede untuk menghormati Saint Diomede. Perubahan besar terjadi setelah Amerika Serikat membeli Alaska dari Rusia pada 1867. Pembelian tersebut bernilai 7,2 juta dolar AS dan mengubah status politik wilayah Alaska. Sejak saat itu, Kepulauan Diomede berada di dua sisi negara yang berbeda.
Perubahan status politik tidak langsung menghapus hubungan masyarakat yang telah terbentuk selama ratusan tahun. Sebelum pembatasan perbatasan semakin ketat, masyarakat di kedua pulau memiliki hubungan keluarga dan melakukan aktivitas lintas wilayah.
Situasinya berubah drastis setelah Perang Dunia II dan memasuki periode Perang Dingin. Pada 1948, pemerintah Uni Soviet memindahkan penduduk asli dari Big Diomede ke daratan Siberia. Pulau tersebut kemudian berkembang menjadi fasilitas militer Soviet. Little Diomede tetap dihuni oleh masyarakat asli di sisi Amerika Serikat.
Pemisahan ini bukan hanya memisahkan dua wilayah politik. Hubungan antarkeluarga yang sebelumnya berlangsung di kawasan tersebut juga ikut terputus. National Geographic menggambarkan kondisi ini sebagai “Ice Curtain”, atau Tirai Es, karena perbatasan di antara kedua pulau menjadi salah satu simbol pemisahan Amerika Serikat dan Uni Soviet pada masa Perang Dingin.
Nasib Penduduk dan "Lorong Waktu" Jembatan Es
Saat ini, kehidupan di kedua pulau tersebut sangat bertolak belakang. Pada era Uni Soviet, pemerintah memindahkan penduduk asli di Diomede Besar ke daratan utama Rusia. Kini, Pulau Diomede Besar tidak berpenghuni sipil (populasi 0) dan hanya dioperasikan oleh unit militer Rusia. Di sisi lain, Diomede Kecil masih mempertahankan denyut kehidupannya dengan dihuni oleh komunitas penduduk asli berjumlah sekitar 77 hingga 110 jiwa.
Salah satu fenomena paling gila yang terjadi di pulau ini muncul pada puncak musim dingin. Saat suhu ekstrem membekukan perairan Selat Bering, sebuah "jembatan es" alami akan terbentuk menyatukan kedua daratan. Secara teori, bongkahan es ini memungkinkan seseorang untuk berjalan kaki, bermain ski, atau mendayung kayak sejauh 3,8 km dari Amerika Serikat menuju Rusia, dan secara harfiah "berjalan masuk ke hari esok".
Meski terdengar seperti petualangan fiksi ilmiah, menyeberangi selat ini di dunia nyata adalah tindakan ilegal. Batas antara kedua negara dijaga dengan sangat ketat oleh pihak keamanan masing-masing. Tidak ada yang diizinkan untuk leluasa melintas, menjadikan jarak 3,8 km tersebut sebagai salah satu perbatasan paling dingin, paling ketat, sekaligus paling membingungkan di dunia.
Mengapa Kepulauan Diomede Menarik untuk Dipelajari?
Kepulauan Diomede menunjukkan bahwa dalam geografi, jarak tidak selalu berarti kedekatan. Secara fisik, Big Diomede dan Little Diomede hanya berjarak 3,8 kilometer. Namun, keduanya berada di negara yang berbeda, memiliki zona waktu yang berbeda, dan berada pada tanggal kalender yang berbeda. Sejarah juga membuat hubungan kedua pulau berubah dari ruang interaksi masyarakat menjadi wilayah perbatasan yang sangat sensitif.
Diomede juga memperlihatkan hubungan antara manusia dan lingkungan. Masyarakat yang tinggal di Little Diomede harus menyesuaikan kehidupan mereka dengan laut, es, cuaca, keterbatasan lahan, dan kondisi transportasi. Pada saat yang sama, mereka juga harus berhadapan dengan persoalan modern seperti infrastruktur dan perubahan lingkungan. Karena itu, Diomede sebenarnya bukan hanya cerita tentang “pulau yang berada di hari kemarin dan hari esok”. Ia adalah gambaran kecil tentang bagaimana lokasi, batas politik, waktu, sejarah, budaya, dan lingkungan dapat saling bertemu dalam satu ruang geografis.
Pada akhirnya, hal paling menarik dari Kepulauan Diomede bukan hanya perbedaan waktu 20 atau 21 jam. Yang lebih menarik adalah bagaimana sebuah jarak yang sangat pendek dapat menyimpan begitu banyak cerita. Dari Little Diomede, Big Diomede terlihat begitu dekat. Namun, di balik pulau yang tampak di seberang laut itu terdapat negara lain, sejarah Perang Dingin, batas internasional, dan tanggal kalender yang berbeda.
Mungkin karena itulah Diomede sering disebut sebagai tempat untuk “melihat hari esok”. Bukan karena waktu benar-benar berjalan lebih cepat di sana, melainkan karena sebuah garis yang dibuat manusia membuat pulau di seberang laut sudah berada pada tanggal berikutnya. Hanya 3,8 kilometer jaraknya. Tetapi untuk sampai ke hari esok, ada sebuah batas negara, sebuah garis penanggalan, dan sejarah panjang yang harus dilalui.
Kehidupan Sehari-hari yang Keras di Ujung Dunia
Di balik fakta geografisnya yang unik, realitas kehidupan di Little Diomede sangatlah menantang. Seperti yang telah disebutkan, pulau ini merupakan rumah bagi sekitar 77 hingga 110 jiwa penduduk asli. Mayoritas dari mereka adalah Suku Inupiat, yang telah beradaptasi dengan kondisi ekstrem selama ribuan tahun. Desa mereka, yang dikenal dengan nama Inalik, dibangun di lereng berbatu yang curam dengan daratan yang sangat terbatas.
Tidak ada jalan beraspal di Little Diomede, dan pulau ini sama sekali tidak memiliki mobil. Akses menuju dan dari pulau ini sangat bergantung pada cuaca. Pada musim panas, sebuah tongkang pengiriman akan datang membawa pasokan logistik penting untuk setahun penuh, mulai dari bahan bakar, makanan kaleng, hingga barang kebutuhan sehari-hari. Sementara pada musim dingin, helikopter menjadi satu-satunya jalur transportasi untuk mengantarkan surat, obat-obatan, dan kebutuhan mendesak, itu pun jika cuaca tidak sedang dilanda badai salju.
Biaya hidup di "Yesterday Island" ini sangatlah tinggi akibat biaya transportasi yang mahal. Oleh karena itu, penduduk Inupiat masih sangat bergantung pada gaya hidup subsisten (memenuhi kebutuhan sendiri dari alam). Mereka memburu singa laut, anjing laut, paus beluga, dan beruang kutub, serta memancing kepiting di perairan Selat Bering yang dingin. Daging hewan laut tidak hanya menjadi sumber makanan utama, tetapi kulit dan gadingnya juga dimanfaatkan untuk pakaian dan kerajinan tangan tradisional.
Ekologi dan Keanekaragaman Hayati di Tengah Selat Bering
Meskipun cuaca di Kepulauan Diomede sering kali tidak bersahabat, tempat ini merupakan surga bagi satwa liar tertentu. Vegetasi di kedua pulau ini sangat minim; tidak ada pepohonan yang tumbuh, melainkan hanya flora khas tundra seperti lumut, lumut kerak (lichen), dan semak-semak rendah yang mampu bertahan di tanah berbatu dan suhu beku.
Namun, lautan di sekitarnya sangat kaya. Selat Bering adalah jalur migrasi utama bagi berbagai mamalia laut raksasa. Selain itu, tebing-tebing curam di pulau ini merupakan tempat bersarang bagi jutaan burung laut, seperti Auklet, Puffin, dan Kittiwake. Pada musim panas, suara riuh burung-burung ini memecah kesunyian pulau, mengubah daratan es yang sepi menjadi pusat aktivitas ekologis yang sibuk.
Ancaman Nyata: Perubahan Iklim dan Hilangnya Jembatan Es
Fenomena "jembatan es" alami yang terbentuk pada puncak musim dingin dan secara teori dapat menyatukan kedua daratan, kini menghadapi ancaman serius. Perubahan iklim global memberikan dampak yang sangat cepat dan nyata di kawasan Arktik. Suhu laut yang menghangat membuat es laut (sea ice) semakin tipis, terbentuk lebih lambat, dan mencair lebih cepat di musim semi.
Bagi penduduk Little Diomede, hilangnya ketebalan es laut bukan sekadar kehilangan fenomena unik, melainkan ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup mereka. Es yang tidak stabil membuat aktivitas berburu tradisional menjadi sangat berbahaya. Selain itu, ketiadaan bongkahan es tebal di pesisir membuat pulau ini tidak lagi memiliki "benteng" pelindung alami dari hantaman ombak besar saat badai musim dingin. Akibatnya, abrasi pantai terjadi jauh lebih cepat, mengancam rumah-rumah penduduk dan fasilitas umum seperti helipad dan sekolah.
Renang Bersejarah yang Mencairkan "Tirai Es"
Kepulauan Diomede tidak selamanya diliputi oleh ketegangan militer. Terdapat satu peristiwa luar biasa yang berhasil menarik perhatian dunia di tengah dinginnya politik "Tirai Es" antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Pada bulan Agustus 1987, seorang perenang jarak jauh asal Amerika Serikat, Lynne Cox, melakukan aksi nekat dengan berenang melintasi Selat Bering dari Little Diomede (AS) menuju Big Diomede (Uni Soviet). Tanpa mengenakan pakaian selam (wetsuit), Cox berenang sejauh 3,8 kilometer di perairan yang suhunya hanya berkisar 4 derajat Celcius, yang dapat memicu hipotermia mematikan dalam hitungan menit bagi manusia biasa.
Setelah berenang selama lebih dari dua jam, ia berhasil mencapai pantai Big Diomede dan disambut oleh pejabat militer Soviet. Peristiwa heroik ini menjadi momen simbolis yang luar biasa. Bahkan, Presiden AS Ronald Reagan dan Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev secara khusus memberikan pujian kepada Cox, menjadikannya salah satu katalisator awal dalam memperbaiki hubungan kedua negara raksasa tersebut menjelang berakhirnya Perang Dingin.
Masa Depan Kepulauan Diomede
Melihat sejarah, iklim, dan kondisi sosialnya, Kepulauan Diomede adalah salah satu laboratorium hidup paling menarik di dunia. Tempat ini menguji ketahanan manusia secara maksimal, baik dalam menghadapi isolasi geografis, politik, maupun kerasnya alam liar.
Sementara Big Diomede tetap menjadi pos militer terlarang yang membeku dalam waktu, penduduk Little Diomede terus berjuang mempertahankan warisan leluhur mereka di tengah dunia modern yang terus berubah. Kepulauan ini akan selalu menjadi monumen pengingat bahwa di batas paling ujung dunia di mana hari ini dan hari esok hanya terpisah jarak sejauh pandangan mata tersimpan jalinan kompleks tentang alam, perbatasan buatan manusia, dan kegigihan untuk bertahan hidup.