Penulis: Raditya Faiz Danendra (SaIG, 2200515)
Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)
Menyelesaikan skripsi bukanlah hal yang mudah. Di balik beberapa lembar tulisan yang akhirnya tersusun rapi, ada begitu banyak waktu, tenaga, pikiran, keraguan, bahkan air mata yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Bagi saya, skripsi bukan sekadar tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana. Skripsi menjadi sebuah perjalanan panjang yang mempertemukan saya dengan banyak hal: ambisi, kegagalan, rasa lelah, kehilangan motivasi, harapan, dan akhirnya keberanian untuk kembali berdiri. Perjalanan itu saya jalani melalui penelitian berjudul “Analisis Spasio-Temporal Kekeringan Sawah dan Dampaknya Terhadap Produktivitas Padi Menggunakan Citra Landsat 8 di Kabupaten Subang Bagian Utara Tahun 2019–2025” Dari judul yang mungkin terdengar begitu ilmiah, ternyata tersimpan cerita yang jauh lebih manusiawi tentang bagaimana saya belajar menyelesaikan sesuatu yang sempat terasa begitu berat.
Sejak awal kuliah, saya memiliki satu target yang terus saya simpan dalam pikiran lulus dalam waktu 3,5 tahun. Target itu bukan sekadar angka. Di dalamnya ada keinginan untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu menyelesaikan perjalanan pendidikan ini dengan sebaik mungkin. Saya tahu jalan menuju sana tidak akan selalu mudah, tetapi pada awalnya saya percaya bahwa selama saya terus bergerak, semuanya akan berjalan sesuai rencana. Saya menjalani perkuliahan, menyelesaikan tugas, mengikuti berbagai kegiatan, dan perlahan mulai mempersiapkan diri untuk memasuki tahap akhir sebagai mahasiswa. Ada rasa bangga ketika menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat dan saya sudah semakin dekat dengan skripsi. Namun, semakin dekat dengan garis akhir, semakin saya sadar bahwa perjalanan menuju kelulusan ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan.
Perjalanan itu mulai terasa nyata ketika saya memasuki tahap penyusunan proposal. Saya belajar bahwa menentukan judul penelitian hanyalah langkah pertama. Setelah itu masih ada latar belakang yang harus diperkuat, rumusan masalah yang harus dipastikan arahnya, metode yang harus dipertanggungjawabkan, data yang harus dicari, hingga berbagai revisi yang datang silih berganti. Saya kemudian memilih topik kekeringan sawah karena tertarik pada bagaimana kondisi lingkungan dapat dipelajari melalui data spasial dan penginderaan jauh. Dari sana lahirlah penelitian yang perlahan membawa saya mengenal NDDI, NDVI, NDWI, citra Landsat, pemetaan, pengolahan data, hingga analisis hubungan kekeringan dengan produktivitas padi. Saat itu saya belum tahu bahwa topik tersebut nantinya akan menjadi bagian besar dari perjalanan hidup saya sebagai mahasiswa.
Seminar proposal menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut. Saya datang dengan persiapan yang menurut saya sudah cukup, tetapi ternyata masih banyak hal yang harus diperbaiki. Revisi demi revisi membuat saya kembali membuka tulisan yang sama berkali-kali. Ada bagian yang harus ditambahkan, ada kalimat yang harus diperbaiki, ada metode yang perlu diperjelas, bahkan ada pemikiran yang sebelumnya saya anggap benar ternyata harus saya pertimbangkan kembali. Pada satu sisi, revisi terasa melelahkan. Namun di sisi lain, dari proses itulah saya mulai memahami bahwa sebuah penelitian yang baik tidak lahir hanya karena selesai ditulis, melainkan karena terus dipertanyakan, diuji, dan diperbaiki. Seminar proposal bukanlah akhir dari kesulitan, tetapi justru pintu masuk menuju perjalanan yang lebih panjang.

Dok. Penulis
Setelah melewati berbagai proses revisi, perjalanan saya kembali menemukan arah ketika saya mendapatkan dosen pembimbing, Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. dan Bapak Hendro Murtianto, M.Sc. Bagi saya, hadirnya kedua pembimbing bukan hanya tentang siapa yang akan membimbing tulisan skripsi, tetapi tentang siapa yang membantu saya menjaga arah ketika saya mulai kehilangan pegangan. Setiap arahan, koreksi, dan pertanyaan yang diberikan membuat saya melihat penelitian dari sudut pandang yang lebih kritis. Saya belajar bahwa pembimbing tidak hanya bertugas menunjukkan kesalahan, tetapi juga membantu mahasiswa memahami mengapa sesuatu perlu diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya.
Proses bimbingan membawa saya semakin dekat dengan penelitian yang sebelumnya hanya berupa gagasan. Saya mulai berhadapan dengan data yang tidak selalu mudah diolah, hasil yang tidak selalu sesuai harapan, serta berbagai persoalan teknis yang membuat saya harus belajar lagi dan lagi. Saya mencoba memahami bagaimana kekeringan dapat dipetakan secara spasio-temporal, bagaimana nilai indeks dapat menggambarkan kondisi lahan, dan bagaimana hasil pemetaan tersebut dapat dikaitkan dengan produktivitas padi. Setiap kali menemukan kesulitan, saya merasa seperti sedang berdiri di depan jalan bercabang yang tidak tahu harus memilih arah mana. Namun, melalui bimbingan dan masukan yang diberikan, perlahan saya belajar untuk tidak takut terhadap proses.
Meski demikian, ada satu fase yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan. Selama kurang lebih lima bulan, saya mengalami demotivasi. Fase tersebut menjadi salah satu penghambat terbesar dalam perjalanan skripsi saya. Saya tahu ada pekerjaan yang harus diselesaikan, saya tahu waktu terus berjalan, dan saya tahu target 3,5 tahun semakin dekat. Tetapi mengetahui semuanya tidak selalu membuat seseorang mampu langsung bergerak. Ada hari-hari ketika membuka laptop saja terasa berat. Ada saat ketika dokumen skripsi sudah terbuka, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang mampu saya tuliskan. Ada pula perasaan bersalah karena mengetahui bahwa waktu berlalu sementara pekerjaan saya tidak banyak bergerak.
Demotivasi itu perlahan membuat saya semakin jauh dari target yang pernah saya banggakan. Saya mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Apakah saya benar-benar mampu menyelesaikan penelitian ini? Apakah saya masih bisa mengejar waktu? Apakah target 3,5 tahun yang sejak awal saya perjuangkan masih mungkin diwujudkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering muncul tanpa jawaban. Saya menyadari bahwa terkadang hambatan terbesar dalam sebuah perjalanan bukanlah data yang sulit, bukan perangkat lunak yang bermasalah, bukan pula revisi dari pembimbing, melainkan diri sendiri yang kehilangan alasan untuk melangkah. Lima bulan itu mengajarkan saya bahwa kehilangan motivasi bisa terjadi kepada siapa saja, bahkan kepada seseorang yang sebelumnya begitu yakin dengan tujuan yang ingin dicapai.
Namun, perjalanan saya tidak berhenti di sana. Di tengah keadaan yang sempat membuat saya ingin menyerah, dorongan dari Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. dan Bapak Hendro Murtianto, M.Sc yang merupakan pembimbing saya menjadi salah satu alasan saya untuk kembali bergerak. Arahan mereka mengingatkan saya bahwa masih ada waktu yang bisa dimanfaatkan dan masih ada kesempatan untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Saya kembali mencoba menyempatkan waktu untuk mengerjakan skripsi, sedikit demi sedikit. Tidak langsung sempurna, tidak selalu konsisten, tetapi setidaknya saya kembali membuka jalan yang sebelumnya saya tinggalkan. Saya mulai mengerjakan satu bagian, kemudian bagian lainnya. Sedikit kemajuan yang sebelumnya terlihat tidak berarti ternyata menjadi sangat penting ketika dikumpulkan menjadi sebuah perjalanan.

Dok. Penulis
Saya kemudian memahami bahwa mengejar kelulusan tepat waktu bukan berarti harus selalu berlari. Ada kalanya kita berjalan, berhenti sebentar untuk bernapas, lalu kembali melangkah. Yang terpenting adalah tidak benar-benar meninggalkan tujuan. Saya belajar mengatur kembali waktu, membagi pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil, menerima bahwa revisi merupakan bagian dari proses, dan yang paling penting adalah berhenti menunggu motivasi datang sebelum mulai bekerja. Terkadang justru dengan mulai bekerja, motivasi itu perlahan muncul kembali. Dari situlah saya kembali menata langkah untuk mengejar target yang sempat terasa hampir mustahil.
Semakin mendekati penyelesaian, saya mulai melihat skripsi bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai bukti bahwa saya pernah berjuang. Setiap peta yang selesai, setiap tabel yang berhasil disusun, setiap analisis yang akhirnya dipahami, dan setiap halaman yang berhasil ditulis terasa seperti satu langkah kecil menuju garis akhir. Saya teringat bagaimana semuanya bermula dari sebuah gagasan sederhana tentang kekeringan. Kini gagasan tersebut telah berubah menjadi sebuah penelitian yang memiliki proses panjang di belakangnya. Saya belajar bahwa penelitian bukan hanya tentang menghasilkan angka dan peta, tetapi juga tentang kesabaran dalam mencari jawaban.Pada akhirnya, skripsi ini dapat saya selesaikan. Rasanya sulit menggambarkan perasaan ketika menyadari bahwa sesuatu yang selama berbulan-bulan terasa begitu jauh akhirnya benar-benar berada di titik akhir. Ada rasa lega, bahagia, bangga, sekaligus haru. Saya teringat masa ketika saya begitu bersemangat mengejar 3,5 tahun, masa revisi seminar proposal, masa awal bimbingan, hingga lima bulan ketika saya kehilangan arah. Semua fase tersebut ternyata memiliki tempatnya masing-masing. Tidak ada satu pun yang benar-benar sia-sia. Bahkan masa paling sulit sekalipun ternyata memberikan pelajaran yang tidak akan saya dapatkan jika semuanya berjalan mudah.

Dok. Penulis
Dari perjalanan skripsi ini, saya mendapatkan banyak hal yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah gelar. Saya belajar tentang disiplin, bahwa sebuah tujuan membutuhkan komitmen meskipun tidak setiap hari kita merasa bersemangat. Saya belajar tentang kesabaran, karena tidak semua masalah dapat diselesaikan dalam satu malam. Saya belajar menerima kritik dan revisi tanpa menganggapnya sebagai kegagalan. Saya belajar bahwa meminta bantuan bukan berarti lemah, dan bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing dalam menyelesaikan perjuangan. Saya juga belajar tentang tanggung jawab, keberanian untuk memulai kembali setelah berhenti, serta kemampuan untuk berdamai dengan diri sendiri ketika hasil yang dicapai belum sesuai dengan harapan. Yang paling penting, saya belajar bahwa perjalanan hidup tidak selalu berjalan lurus seperti garis pada peta. Ada belokan, ada jalan buntu, ada tanjakan, bahkan ada saat ketika kita merasa tidak tahu sedang berada di mana. Tetapi selama kita mau mencari arah dan terus melangkah, selalu ada kemungkinan untuk sampai. Skripsi ini menjadi pengingat bagi saya bahwa keberhasilan bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, tetapi juga tentang seberapa banyak hal yang dipelajari selama perjalanan menuju ke sana.
Saya tidak mungkin sampai pada titik ini seorang diri. Karena itu, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. dan Bapak Hendro Murtianto, M.Sc. yang telah memberikan arahan, masukan, waktu, dan dorongan selama proses penyusunan skripsi. Terima kasih karena tidak hanya membantu saya memperbaiki penelitian, tetapi juga membantu saya kembali percaya bahwa saya mampu menyelesaikannya. Setiap bimbingan dan nasihat yang diberikan akan menjadi bagian penting dari perjalanan saya ke depan.


Dok. Penulis
Terima kasih juga kepada kedua orang tua saya yang selalu menjadi tempat pulang, sumber doa, dan alasan terbesar untuk terus bertahan. Mungkin tidak semua perjuangan saya terlihat oleh mereka, tetapi dukungan dan doa yang diberikan selalu menjadi kekuatan yang tidak ternilai. Terima kasih kepada teman-teman SaIG angkatan 2022 yang telah menjadi bagian dari perjalanan selama masa perkuliahan. Terima kasih kepada kerabat yang selalu memberikan dukungan, kepada orang-orang yang hadir ketika saya membutuhkan semangat, dan kepada pacar saya yang telah menemani, mendengarkan keluh kesah, memberikan dukungan, serta menjadi salah satu orang yang ikut menyaksikan perjalanan panjang ini dari dekat. ika hari ini saya akhirnya sampai pada titik akhir skripsi, saya sadar bahwa sebenarnya ini bukanlah akhir dari segalanya. Wisuda bukan garis akhir kehidupan, melainkan gerbang menuju perjalanan yang jauh lebih besar. Setelah ini akan ada dunia kerja, tanggung jawab baru, keputusan-keputusan yang lebih besar, kegagalan yang mungkin kembali datang, dan tantangan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Tetapi saya ingin membawa satu keyakinan dari perjalanan skripsi ini: saya pernah melewati masa ketika saya hampir kehilangan arah, tetapi saya mampu menemukan jalan kembali. Jika suatu hari nanti kehidupan kembali terasa berat, saya ingin mengingat bahwa saya pernah menyelesaikan sesuatu yang dahulu saya kira tidak akan sanggup saya selesaikan.


Dok. Penulis
Terima kasih untuk partner seperjuangan sejak 4 tahun lalu, dan akan terus berlanjut hingga nanti, Fathir Muhammad Sandhika, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa SaIG. Empat tahun bukan waktu yang singkat — banyak cerita yang telah kita lalui bersama, mulai dari rapat-rapat panjang, program kerja yang diperjuangkan, hingga momen-momen sulit yang menguji kekompakan kita, namun juga diselingi tawa dan kebersamaan yang tak ternilai. Terima kasih telah menjadi rekan yang selalu bisa diandalkan, yang berbagi tanggung jawab tanpa mengeluh, dan yang mengajarkan banyak hal tentang kepemimpinan serta arti kerja sama. Kini kita bisa berdiri di titik yang sama, lulus bersama-sama — sebuah pencapaian yang terasa lebih bermakna karena diraih berdampingan, dan semoga perjalanan ini terus berlanjut ke babak-babak kehidupan berikutnya.


Dok. Penulis
Jika hari ini saya akhirnya sampai pada titik akhir skripsi, saya sadar bahwa sebenarnya ini bukanlah akhir dari segalanya. Wisuda bukan garis akhir kehidupan, melainkan gerbang menuju perjalanan yang jauh lebih besar. Setelah ini akan ada dunia kerja, tanggung jawab baru, keputusan-keputusan yang lebih besar, kegagalan yang mungkin kembali datang, dan tantangan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Tetapi saya ingin membawa satu keyakinan dari perjalanan skripsi ini: saya pernah melewati masa ketika saya hampir kehilangan arah, tetapi saya mampu menemukan jalan kembali. Jika suatu hari nanti kehidupan kembali terasa berat, saya ingin mengingat bahwa saya pernah menyelesaikan sesuatu yang dahulu saya kira tidak akan sanggup saya selesaikan.
Tanah yang saya teliti mungkin pernah mengering, tetapi perjalanan saya tidak boleh ikut mengering. Dari kekeringan, saya belajar tentang ketahanan. Dari revisi, saya belajar tentang ketelitian. Dari kegagalan dan demotivasi, saya belajar tentang keberanian untuk memulai kembali. Dan dari skripsi ini, saya belajar bahwa setiap perjalanan memiliki waktunya sendiri untuk sampai pada tujuan. Perjalanan panjang ini akhirnya sampai pada satu titik, tetapi saya tidak ingin menyebutnya sebagai akhir. Ini hanyalah awal dari kehidupan yang akan datang awal untuk melangkah lebih jauh, mencoba hal-hal baru, mengejar mimpi yang lebih besar, dan menjadi seseorang yang lebih baik dari hari ini. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukan hanya tentang bagaimana saya sampai di titik akhir, tetapi tentang siapa diri saya setelah melewati seluruh perjalanan untuk sampai ke sana.

Dok. Penulis
