Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Dari Perjalanan Panjang Yang Tak Kunjung Usai Hingga Sampai Di Titik Akhir Dari Sebuah Cerita: Perjalanan Skripsi

Penulis: Fathir Muhammad Sandhika (SaIG, 2205399)

Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)

Menyelesaikan skripsi bukan sekadar soal menulis dan meneliti, tapi juga soal bertahan menghadapi ketidakpastian dan yang paling berat, bertahan menghadapi diri sendiri. Itulah yang saya rasakan sebagai mahasiswa Program Studi Sains Informasi Geografi (SaIG) dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Alih Fungsi Lahan terhadap Produksi Padi Menggunakan Citra Satelit Sentinel-2A di Kabupaten Serang Bagian Timur.” Ketertarikan saya pada topik ini bermula dari pengamatan terhadap fenomena alih fungsi lahan pertanian yang terus terjadi di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Serang bagian timur. Sebagai mahasiswa Sains Informasi Geografi saya melihat peluang untuk menjawab persoalan ini secara ilmiah dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh, yaitu citra satelit Sentinel-2A, untuk mengukur dampak perubahan lahan terhadap produksi padi. Penelitian ini penting karena hasilnya bisa menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kebijakan dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tekanan pembangunan yang terus meningkat.

Namun, jalan menuju kelulusan tidak semulus rencana awal. Dua tantangan besar menghadang saya sepanjang proses penyusunan skripsi. Pertama, revisi yang tak kunjung usai. Setiap kali merasa sudah mendekati titik akhir, selalu ada catatan perbaikan baru dari dosen pembimbing untuk memperbaiki dan menyempurnakan analisis maupun penulisan. Proses ini menuntut kesabaran ekstra, sebab yang diuji bukan hanya kemampuan akademis, tetapi juga ketahanan mental untuk terus maju meski progres terasa lambat. Kedua, adalah proses menunggu data dari instansi terkait. Penelitian yang mengandalkan data resmi seringkali bergantung pada birokrasi dan jadwal instansi yang tidak selalu bisa diprediksi. Saya harus belajar mengelola waktu sekaligus ekspektasi, karena kelangsungan penelitian saya sangat bergantung pada data yang tak kunjung saya terima.

Tetapi jujur saja, tantangan terbesar sebenarnya bukan datang dari luar melainkan dari dalam diri saya sendiri. Di tengah tumpukan revisi dan ketidakpastian data itu, saya mulai kehilangan arah. Saya jadi sulit mengambil keputusan, ragu setiap kali harus menentukan langkah selanjutnya dan akhirnya memilih jalan yang paling salah yaitu menghindar. Saya jarang datang bimbingan, bahkan sempat menghilang dalam waktu yang cukup lama tanpa kabar. Saya pikir dengan menjauh, tekanan itu akan berkurang. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, kekhawatiran saya sendiri makin menumpuk, dan skripsi saya semakin tertinggal jauh dari target. Saya menyesal tidak mendengarkan arahan yang sebenarnya sudah diberikan dengan sabar, dan menyadari bahwa kelalaian saya sendirilah yang membuat proses ini menjadi jauh lebih berat daripada seharusnya.

Titik balik itu datang ketika dosen pembimbing saya yaitu bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. dan bapak Hendro Murtianto, M.Sc, alih-alih menyerah pada mahasiswa bimbingannya yang menghilang, justru terus berusaha menghubungi dan mengingatkan saya untuk kembali fokus. Teguran dan perhatian itu menyadarkan saya bahwa saya tidak bisa terus lari dari tanggung jawab. Perlahan saya mulai kembali ke jalan yang benar, membangun kembali komunikasi, datang bimbingan secara rutin, dan mulai mendengarkan setiap arahan dengan lebih terbuka. Berkat kesabaran, dorongan, dan bimbingan yang terus diberikan, saya akhirnya bisa menyelesaikan skripsi ini hingga tuntas dan maju ke meja sidang. Tanpa campur tangan dan kepedulian dosen pembimbing saya, mungkin cerita ini akan berakhir jauh berbeda.

Dok. Penulis

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa skripsi bukan hanya soal menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga proses membentuk karakter. Revisi yang berulang mengajarkan saya untuk menerima kritik tanpa kehilangan semangat, sementara masa penantian data mengajarkan arti kesabaran dan pentingnya menyusun rencana cadangan ketika situasi di luar kendali. Namun pelajaran yang paling berharga justru datang dari kesalahan saya sendiri yaitu bahwa menghindar tidak pernah menjadi solusi dan keberanian mengambil keputusan sekecil apa pun jauh lebih baik daripada diam dalam keraguan. Saya percaya bahwa hambatan-hambatan tersebut termasuk kelalaian yang pernah saya lakukan, justru menjadi bagian penting dari proses belajar mahasiswa tingkat akhir. Setiap revisi menajamkan cara berpikir, setiap masa tunggu mengajarkan bahwa hasil baik sering kali butuh waktu yang tidak singkat dan setiap kesalahan mengajarkan pentingnya kembali ke jalan yang benar sebelum semuanya terlambat.

Kini, ketika menoleh ke belakang, saya sadar bahwa SaIG bukan sekadar program studi tempat saya menuntut ilmu, melainkan sudah menjadi rumah saya sendiri. Di sanalah saya bertumbuh, jatuh, hampir menyerah, lalu bangkit kembali dan menemukan alasan untuk menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Setiap ruang kelas, setiap sesi bimbingan, dan setiap perjuangan yang saya lalui di dalamnya membentuk sebagian besar dari siapa saya sekarang.

Pada akhirnya, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada dosen pembimbing saya yaitu bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. dan bapak Hendro Murtianto, M.Sc. Terima kasih atas kesabaran yang tidak pernah habis, atas teguran yang selalu diberikan dengan niat baik, dan atas kepedulian yang tidak pernah putus meski saya sempat menghilang dan mengecewakan. Tanpa bimbingan, dorongan, dan kepercayaan yang terus diberikan, saya tidak akan pernah sampai pada titik ini, menyelesaikan skripsi, menjalani sidang, dan akhirnya mengenakan toga.

Bagi mahasiswa yang tengah berjuang dengan skripsinya, saya berpesan agar tidak mudah patah semangat menghadapi revisi maupun kendala teknis seperti keterlambatan data, dan yang tidak kalah penting jangan pernah lari dari dosen pembimbing sekalipun rasanya berat. Kunci untuk bertahan adalah komunikasi yang baik dengan dosen pembimbing, konsistensi dalam mengerjakan meski sedikit demi sedikit, keberanian untuk mengambil keputusan meski dalam keraguan, serta keyakinan bahwa setiap proses pasti akan menemui titik akhirnya. Perjalanan skripsi saya menjadi pengingat bahwa di balik setiap gelar sarjana, ada cerita perjuangan, kesalahan, dan penebusan yang tidak selalu terlihat, namun sarat makna dan pembelajaran bagi siapa pun yang menjalaninya.

Dok. Penulis

Perjuangan ini juga tidak pernah benar-benar saya jalani sendirian. Saya bersyukur dan sangat senang bisa menjadi bagian dari keluarga besar Sains Informasi Geografi, sebuah keluarga yang tidak hanya mengajarkan ilmu di kelas, tetapi juga mengajarkan arti kebersamaan dalam menghadapi setiap kesulitan. Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman seperjuangan angkatan 2022 (Amertaraga) yang selama ini selalu suportif, saling menyemangati, dan saling membangun satu sama lain. Solidaritas kalian adalah salah satu alasan saya mampu bertahan di titik-titik tersulit, ketika revisi terasa tak berujung dan semangat mulai goyah. Terima kasih pula kepada kawan-kawan pimpinan HIMA SaIG periode 2024/2025, tempat saya belajar banyak hal di luar bangku kuliah, tentang tanggung jawab, kerja sama, dan arti sebuah perjuangan bersama. Secara khusus, saya ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Sekretaris Jenderal saya sekaligus sahabat saya Raditya Faiz Danendra. Bersama-sama kita melalui suka duka berorganisasi sekaligus berjuang menyelesaikan studi, saling mengingatkan, saling menguatkan, hingga akhirnya kita bisa mewujudkan mimpi yang pernah kita bicarakan bersama yaitu meraih gelar dan mengenakan toga, berdiri di titik ini sebagai kawan seperjuangan.

Tak terasa, waktu yang kita lalui bersama telah sampai di penghujungnya. Rasanya baru kemarin kita memulai langkah ini bersama, penuh semangat, canda tawa, dan perjuangan yang tak jarang diwarnai lelah maupun bangga. Namun di balik setiap proses yang kita jalani, ada begitu banyak pelajaran berharga, kenangan yang tak akan terlupakan, serta ikatan kebersamaan yang semakin erat dari waktu ke waktu. Terima kasih untuk setiap dukungan, kerja sama, dan kepercayaan yang telah kalian berikan selama ini. Meski perjalanan ini harus berakhir, semoga kebersamaan yang telah kita bangun tetap terjaga dan menjadi bekal berharga untuk melangkah ke babak selanjutnya.

Dok. Penulis

Tidak lupa, ucapan terima kasih yang paling dalam saya persembahkan untuk kedua orang tua saya. Merekalah yang sejak awal selalu mendoakan, mendukung, dan percaya pada saya bahkan di saat-saat saya sendiri sempat kehilangan kepercayaan diri. Di balik setiap keluhan, kelelahan, dan masa-masa saya menghilang dan sulit dihubungi, mereka tidak pernah berhenti mengingatkan saya untuk terus berjuang dan menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Pengorbanan, kesabaran, dan doa mereka adalah kekuatan yang selalu menuntun saya untuk kembali ke jalan yang benar. Gelar dan toga ini bukan hanya pencapaian saya, tetapi juga buah dari doa dan pengorbanan orang tua saya yang tidak akan pernah bisa saya balas seutuhnya.

Dok. Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *