
Penulis : Annisa Amaanah (SaIG, 2207689) dan Devina Fauziah (SaIG, 2204910)
Penyunting: Muhammad Zaki Rabbani
Magang sering kali menjadi jembatan penting antara teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktik nyata di lapangan. Bagi kami yang mendalami bidang Penginderaan Jauh, Sistem Informasi Geografis (SIG), dan Survei Pemetaan, kesempatan untuk bergabung dalam kegiatan magang di Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) menjadi pengalaman berharga. Selama empat minggu pertama, kegiatan magang ini memberikan ruang untuk berkontribusi sekaligus belajar mengenai bagaimana teknologi geospasial dapat membantu pengelolaan kawasan konservasi.
Minggu pertama dimulai dengan perkenalan lingkungan kerja dan orientasi umum mengenai tugas-tugas yang akan dilakukan. Pada tahap ini, kami langsung terjun ke praktik pengolahan data spasial. Salah satu aktivitas utamanya adalah mengolah citra satelit PlanetScope untuk menganalisis tutupan lahan, yang menjadi dasar dalam memahami kondisi vegetasi di kawasan taman nasional. Selain itu, dilakukan juga pengolahan batas daerah aliran sungai (DAS) yang berfungsi untuk mendukung analisis hidrologi, serta pengkodean grid yang berguna dalam perencanaan survei lapangan. Tak kalah penting, citra Google Earth juga diunduh dan diproses sebagai bagian dari persiapan awal dalam menyusun Rencana Pemulihan Ekosistem (RPE) Resor Nagrak untuk mendukung FOLU Net Sink 2030.


Memasuki minggu kedua, kegiatan difokuskan pada analisis lanjutan terkait RPE. Proses ini melibatkan pemanfaatan penginderaan jauh untuk melihat kondisi tutupan lahan yang perlu direhabilitasi dan direstorasi, serta penyusunan peta perencanaan yang menggambarkan prioritas wilayah pemulihan. Selain itu, analisis mikro-DAS juga dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai pola aliran air pada skala besar. Analisis ini penting karena pola aliran air sangat memengaruhi keberhasilan upaya pemulihan vegetasi dan habitat alami.
Minggu ketiga menghadirkan tantangan baru melalui kegiatan lapangan. Kami turut serta dalam survei pemberian tanda batas pada areal Perizinan Berusaha Pengusahaan Sarana Jasa Lingkungan Wisata Alam (PB-PSWA). Aktivitas ini memberikan pengalaman nyata dalam menghubungkan hasil analisis data dengan kondisi faktual di lapangan. Sepulang dari kegiatan survei, pekerjaan berlanjut dengan proses digitasi on screen untuk memetakan area terbuka (open area) maupun area tertutup (non-open area). Dari hasil tersebut, dilakukan analisis lebih jauh untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi potensial yang dapat dijadikan target pemulihan ekosistem.


Pada minggu terakhir, fokus kegiatan bergeser ke arah evaluasi dan klasifikasi penutup lahan. Peta zonasi Taman Nasional ditinjau ulang untuk memastikan data spasial yang digunakan benar-benar akurat. Selanjutnya, dilakukan pengolahan citra menggunakan metode Random Forest Classification untuk klasifikasi area hutan dan non-hutan, yang kemudian digunakan untuk identifikasi kawasan preservasi. Proses ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis dalam pengolahan citra satelit, tetapi juga memperlihatkan pentingnya data spasial dalam pengambilan keputusan pengelolaan kawasan konservasi.

Empat minggu magang di Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini menjadi perjalanan belajar yang penuh makna. Dari pengolahan citra satelit, penyusunan peta, hingga turun langsung ke lapangan, setiap tahapan memberikan pemahaman baru tentang bagaimana teknologi geospasial dapat mendukung misi konservasi. Lebih dari sekadar praktik teknis, pengalaman ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan upaya konservasi dapat membuka jalan bagi pengelolaan alam yang lebih berkelanjutan. Gunung Gede Pangrango dengan keindahan alam dan kekayaan keanekaragaman hayatinya, menjadi saksi nyata bagaimana generasi muda dapat ikut serta menjaga kelestariannya melalui peran teknologi. Magang ini bukan hanya tentang belajar, tetapi juga tentang memberi kontribusi kecil bagi alam yang jauh lebih besar.
