Penulis: Tim Intern Aksamaia
Penyunting: Muhammad Zaki Rabbani
Pada minggu pertama magang, tepatnya pada tanggal 1 hingga 4 September, kami memulai kegiatan magang di PT Aksamaia Rekta Nusa dengan mengikuti sesi orientasi dan sharing knowledge. Pada sesi orientasi, kami diperkenalkan mengenai profil perusahaan, bidang kerja yang digeluti, serta sistem kerja dan pembagian divisinya, sehingga kami mendapat gambaran awal tentang lingkungan kerja dan ruang lingkup kegiatan yang ada di dalamnya. Sementara itu, sesi sharing knowledge menjadi sarana untuk saling berbagi ilmu dan pengetahuan antara kami sebagai mahasiswa dengan pihak perusahaan, sehingga dapat terbangun keselarasan pemahaman mengenai keilmuan yang dimiliki masing-masing. Dalam kesempatan tersebut, kami juga diminta menyusun daftar mata kuliah yang telah ditempuh beserta relevansinya dengan bidang kerja di perusahaan. Selanjutnya, kami mulai mendapat arahan untuk melakukan kajian terkait bahaya tsunami menggunakan metode Berryman. Kegiatan ini diawali dengan mengumpulkan berbagai sumber literatur serta data yang dibutuhkan dalam pemetaan Kawasan Rawan Bencana (KRB) tsunami. Sebagai tahap awal, kami diarahkan untuk melakukan pengolahan bahaya tsunami dengan metode Berryman menggunakan dua parameter, yaitu tutupan lahan mangrove dan lahan kosong, guna memahami cara kerja metode tersebut.


Pada minggu kedua magang kami ini melanjutkan kembali melakukan pemodelan tsunami menggunakan metode Berryman berdasarkan Modul Teknis Penyajian KRB Tsunami dari BNPB dengan skenario penggunaan lahan tanah kosong dan mangrove. Perbandingan atas kedua penggunaan lahan ini karena koefisien kekasaran kedua penggunaan lahan tersebut yang jauh berbeda. Penggunaan lahan tanah kosong ini memiliki koefisien kekasaran 0.015 sedangkan mangrove memiliki koefisien kekasaran sebesar 0.60, sehingga dampak dari gelombang tsunami dapat direduksi. Selain itu juga kami melakukan cross section hasil inundasi tsunami dengan penggunaan lahan tanah kosong dan mangrove pada data topografi. Melalui cross section ini kami mengetahui kekurangan dari metode Berryman, yaitu topografi yang menjadi acuannya berdasarkan MSL (Mean Sea Level) bukan topografi eksisting. Hal itulah yang menyebabkan meskipun melalui ketinggian yang seharusnya dapat mereduksi energi gelombang, selagi ketinggian tersebut dibawah acuan ketinggian tsunami yang dipakai tetap akan termasuk ke dalam kelas bahaya. Hasil pengolahan kami ini selanjutnya dipresentasikan di depan pembimbing kami Pak Andi Juandi Manaf M.Si.


Masuk pada minggu ketiga. Setelah melakukan komparasi Metode Berryman yang telah dilakukan di minggu kedua, kami diminta untuk membandingkan sejauh mana inundasi atau genangan tsunami bisa menembus daratan pada tutupan lahan eksisting suatu wilayah dengan tutupan lahan yang terdapat mangrove di lokasi kajian masing-masing. Maka untuk membandingkannya, kami melakukan digitasi lahan eksisting serta mencoba menambahkan mangrove di lahan eksisting (jika tidak ada) untuk mengekstraksi informasi perbedaan diantara keduanya. Hasilnya wilayah pesisir dengan lahan eksisting (tanpa mangrove) akan mengalami rendaman tsunami yang jauh ke daratan jika kondisi topografinya wilayah tersebut landai, begitupun sebaliknya. Selanjutnya, setelah mendapatkan perbandingannya kami tuangkan ke dalam tulisan untuk dianalisis serta memberikan rekomendasi penanggulangan bencana berbasis mitigasi tsunami dan tata ruang, baik secara struktural maupun non struktural.


Pada minggu empat kami melakukan pengolahan kembali dengan kebencanaan yang berbeda yaitu mengenai gempa bumi berdasarkan juknis BNPB. Namun, sebelum memasuki tahap pengolahan kami diberikan terlebih dahulu pengantar terkait bencana gempa bumi. Selain itu, ditampilkan juga peta-peta yang berkaitan dengan gempa bumi seperti bahaya gempa bumi, histori gempa dan sumber gempa, serta parameter kegempaan Peak Ground Acceleration (PGA) Bedrock, Amplifikasi, Guncangan Permukaan). Dari hasil pengolahan tersebut terdapat 5 output peta seperti peta bahaya bencana gempa bumi, peta guncangan pada batuan dasar (PGA Bedrock), peta amplifikasi (AVs30), peta guncangan di permukaan, dan peta sumber gempa bumi berdasarkan wilayah kajian masing-masing. Selain output tersebut, kami melakukan analisis terkait mitigasi dan keterkaitan dengan tata ruang wilayah mengacu pada hasil pengolahan dan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
