Penulis: Muhammad Farel Arymi (SaIG, 2403582)
Penyunting: Tio Noviar
Pendahuluan
Penggunaan teknologi geospasial saat ini tidak hanya digunakan pada tingkat pendidikan tinggi, namun sudah merambah ke tingkat pendidikan dasar seperti tingkat SMA. Menjawab trend tersebut, Program Studi Sains Informasi Geografi (SaIG) UPI hadir untuk membantu transformasi tersebut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan diadakannya pelatihan penginderaan jauh berbasis Google Earth Engine yang menyasar pada anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Geografi tingkat SMA se-Bandung Raya.

Isi
Pada hari Sabtu, 25 Juli 2026 telah dilaksanakan pelatihan penginderaan jauh berbasis Google Earth Engine untuk guru mata pelajaran geografi tingkat SMA se Bandung Raya dalam rangka bentuk pengabdian kepada masyarakat.. Kegiatan ini dibuka langsung oleh ketua Program Studi Sains Informasi Geografi Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. di ruang 30 Gedung FPIPS UPI. Kegiatan ini terbagi dalam tiga sesi, sesi pertama berfokus pada pengenalan komputasi awan (cloud computing) yang dimiliki oleh Google Earth Engine, kelebihan daripada Google Earth Engine, serta penerapannya pada informasi geografi, selain itu pada sesi pertama juga dilakukan pembuatan akun secara serentak kepada peserta. Sesi kedua yang merupakan sesi utama membahas mengenai pembuatan klasifikasi penutup lahan berbasis Machine Learning dengan algoritma Random Forest, Sesi kedua ini dibawakan oleh bapak Achmad Fadhilah, S.Pd., M.Sc dibantu dengan tim teknis yang merupakan mahasiswa Sains Informasi Geografi angkatan 2024 dan 2025. Pada sesi ini, peserta diajarkan bagaimana cara memanggil citra satelit, mengolah citra satelit sampai dengan penentuan titik sampel serta pembuatan model klasifikasi Random Forest dan perhitungan nilai akurasi dengan menggunakan model JavaScript di Google Earth Engine, di sesi ini juga peserta sangat aktif bertanya mengenai metode klasifikasi Random Forest kepada tim teknis, baik dari segi pembuatannya, kelebihan dan kekurangan, serta pemanfaatan dan model-model lain yang bisa dilakukan di Google Earth Engine. Sesi tiga yang merupakan sesi terakhir, peserta diajak untuk membuat hasil pemodelan mereka menjadi lebih menarik, peserta mencoba mengintegrasikan hasil yang mereka buat melalui fitur GEE Apps agar tampilan lebih menarik, peserta diajak berkenalan dengan fitur transisi antara satu hasil dengan hasil lain yang mereka buat. Secara keseluruhan peserta dapat mengikuti pelatihan ini dengan sangat baik sampai dengan selesai.

Penutup
Setelah kegiatan ini terlaksana, kita semua berharap semua bentuk ilmu yang didapat dari pelatihan ini nantinya bisa diterapkan pada pembelajaran di sekolah masing-masing, tidak hanya berhenti di pelatihan ini saja. Kita juga berharap teknologi geospasial sudah diperkenalkan dari pendidikan tingkat dasar agar kita sadar bahwa kecerdasan spasial itu sangat penting dibangun dari dini dan bisa terus dikembangkan di masa yang akan datang.

