Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Prodi Doktor PKn UPI Bersama Svadhyaya Riset Nusantara dan Kuatbaca.com Gelar FGD Permukiman dan Kewarganegaraan

Bandung, 3 September 2026 — Pembangunan perumahan dan kawasan permukiman selama ini kerap dipahami sebatas persoalan penyediaan rumah dan infrastruktur. Padahal, permukiman merupakan ruang tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari, membangun relasi sosial, dan mengembangkan kehidupan kewarganegaraan. Gagasan inilah yang mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) “Interrelasi Permukiman dan Kewarganegaraan: Perspektif Bisnis & Akademik”.

FGD yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Kamis (3/9/2026) ini digelar oleh Svadhyaya Riset Nusantara bekerja sama dengan Kuatbaca.com dan Program Studi Doktor Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Forum tersebut mempertemukan perspektif pemerintah, akademisi, dan dunia usaha untuk membicarakan bagaimana pembangunan permukiman dapat dikaitkan dengan pengembangan kehidupan kewarganegaraan.

Gagasan tersebut berangkat dari persoalan mendasar pembangunan perumahan di Indonesia. Tantangan tidak hanya berkaitan dengan besarnya backlog rumah, tetapi juga bagaimana kawasan yang dibangun dapat benar-benar menjadi ruang kehidupan masyarakat. Permukiman pada akhirnya bukan sekadar kumpulan bangunan, melainkan tempat berlangsungnya berbagai proses sosial dan kehidupan kewarganegaraan.

Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, H. Fahri Hamzah, SE., hadir sebagai keynote speaker dan menyampaikan perspektif mengenai arah kebijakan perumahan dan kawasan permukiman. Kegiatan juga dibuka dengan sambutan Dekan FPIPS UPI, Prof. Dr. Cecep Darmawan.

Sementara itu, diskusi dipandu oleh Ketua Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Terintegrasi FPIPS UPI, Dr. Syaifullah, S.Pd., M.Si. sebagai moderator. Perspektif bisnis perumahan dan permukiman disampaikan oleh Dr. Ir. Iskandar Saleh, MCP., M.A., Chief Strategic Officer (CSO) Autokon Indonesia, sedangkan Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., Dosen PKn FPIPS UPI, memberikan sintesis akademik terhadap pembahasan yang berkembang dalam forum.

Diskusi menyoroti pentingnya memperluas cara pandang terhadap pembangunan permukiman. Rumah yang dibangun tidak dengan sendirinya menciptakan kehidupan masyarakat yang sehat. Sebuah kawasan membutuhkan kehidupan sosial, interaksi antarpenghuni, serta nilai dan etika hidup bersama agar berkembang menjadi ruang hidup yang produktif.

Perspektif tersebut sekaligus membuka pertanyaan penting bagi Pendidikan Kewarganegaraan: bagaimana permukiman membentuk kualitas warga negara, dan bagaimana kualitas warga negara turut membentuk kehidupan permukiman? Pertanyaan ini menjadi relevan karena permukiman selama ini belum banyak ditempatkan sebagai salah satu ruang pembentukan kehidupan kewargaan dalam kajian PKn.

Forum juga menjadi ruang untuk mempertemukan dunia akademik dan dunia usaha yang selama ini cenderung melihat pembangunan permukiman dari perspektif masing-masing. Melalui dialog lintas perspektif, peserta didorong untuk memahami kondisi pengembangan permukiman di Indonesia sekaligus menemukan titik temu antara kebutuhan masyarakat, praktik pembangunan, dan arah kebijakan pemerintah.

FGD berlangsung dalam rangkaian penyampaian kebijakan, perspektif bisnis, diskusi dan dialog lintas perspektif, hingga sintesis akademik serta perumusan kesimpulan strategis. Dengan pendekatan dialogis dan interaktif, forum diarahkan untuk menghasilkan pemetaan persoalan pengembangan permukiman dari perspektif kewarganegaraan serta menemukan hubungan antara konsep ideal dan realitas pembangunan permukiman.

Pada akhirnya, FGD ini menegaskan bahwa pembangunan permukiman perlu dipandang secara lebih integratif. Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari jumlah rumah yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan kawasan tersebut menjadi ruang hidup yang memungkinkan masyarakat berinteraksi, berkembang, dan menjalankan kehidupan sebagai warga negara.

Melalui perspektif tersebut, permukiman tidak lagi hanya dipahami sebagai objek pembangunan fisik, melainkan sebagai bagian penting dari ekosistem sosial dan kewarganegaraan. Gagasan ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi lahirnya kerangka strategis pembangunan permukiman di Indonesia yang tidak hanya layak secara fisik, tetapi juga mampu menumbuhkan kehidupan masyarakat yang kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *