Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed memberikan kuliah pakar di Universitas Negeri Manado pada Kamis, 12 Februari 2026. Beliau menegaskan bahwa pangan lokal bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi bagian dari identitas budaya dan memori kolektif masyarakat. Ia menjelaskan bahwa arus globalisasi dan budaya populer telah memicu pergeseran pola konsumsi yang cenderung mengabaikan nilai historis serta kearifan lokal. Oleh karena itu, pendidikan sejarah dinilai memiliki peran strategis untuk menumbuhkan kesadaran kritis generasi muda agar memahami makna sosial-budaya di balik praktik konsumsi pangan. Menurutnya, upaya menghidupkan kembali pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan ketahanan pangan, tetapi juga ketahanan budaya. Melalui pendekatan pedagogis yang kontekstual, kesadaran sejarah dapat menjadi landasan dalam membangun pola konsumsi yang lebih reflektif, berkelanjutan, dan berakar pada identitas lokal di tengah dinamika masyarakat postmodern.
