Bandung — Tidak semua lulusan pendidikan agama Islam memilih jalur dakwah formal atau profesi guru. Sebagian justru menemukan panggilan hidupnya di luar ruang kelas, namun tetap membawa nilai-nilai keislaman dalam setiap langkahnya. Salah satunya adalah H. Zaenal Mutaqin, S.Pd., MT, alumni Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (FPIPS UPI) angkatan 2008.
Lulus pada tahun 2012, Zaenal sempat mengajar di salah satu MTs, sebelum akhirnya mendirikan PT Jaya Nusa Transindo, sebuah perusahaan transportasi dan pariwisata yang ia rintis sejak 2017. Kini, ia menjabat sebagai Direktur Utama, mengelola armada dan layanan yang menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Meski bergerak di sektor bisnis, Zaenal tidak melupakan akar spiritual dan sosial yang ia pelajari selama kuliah.
“Saat kuliah di IPAI, saya belajar banyak tentang pola pikir dan keterampilan hidup. Itu sangat membantu saya dalam manajemen kehidupan dan bisnis,” ujarnya. Baginya, pendidikan Islam bukan sekadar teori, tetapi bekal untuk memahami manusia, membangun relasi, dan mengelola tantangan.
Meskipun tidak berkiprah secara formal dalam dunia pendidikan, Zaenal tetap aktif di masyarakat. Pada tahun 2023, ia mendirikan Rumah Qur’an Al-Fajr, sebuah lembaga sosial yang membina anak yatim piatu dan dhuafa melalui pendidikan Al-Qur’an dan pembinaan karakter. Rumah Qur’an ini menjadi ruang dakwah yang membumi, menjangkau mereka yang membutuhkan sentuhan kasih dan ilmu.
Zaenal meyakini bahwa pendidikan Islam harus mampu menjawab tantangan kehidupan nyata. “Meskipun tidak sejalur dengan pendidikan ketika kuliah, alhamdulillah setelah beres kuliah ternyata peluang sangat besar di kehidupan sebenarnya,” tuturnya. Ia menjadi contoh bahwa lulusan IPAI bisa berkembang di luar bidang pendidikan, selama nilai-nilai keislaman tetap menjadi fondasi dalam berkarya.
Kisah Zaenal Mutaqin adalah cerminan bahwa pendidikan Islam tidak membatasi arah hidup, melainkan membuka jalan untuk berkontribusi di berbagai sektor. Dari ruang kelas hingga ruang usaha, dari teori ke praktik, dari ilmu ke amal. Ia hadir sebagai bukti bahwa kebermanfaatan bisa lahir dari mana saja, selama niatnya lurus dan langkahnya bernilai.
