Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Dari Peta ke Kebijakan: Prof. Nandi Resmi Jadi Guru Besar UPI Bidang Geografi Perencanaan Wilayah (SDGs Sustainable Cities and Communities)

Disusun Oleh Tim Publikasi SPIG

Universitas Pendidikan Indonesia kembali menorehkan capaian akademik melalui pengukuhan Prof. Dr. rer.nat. Nandi, S.Pd., M.Sc., M.T. sebagai Guru Besar dalam bidang Geografi Perencanaan Wilayah pada Jumat, 8 Mei 2026. Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Gedung Achmad Sanusi dan dihadiri oleh rektor beserta jajaran pimpinan universitas, civitas akademika, dosen, mahasiswa, serta tamu undangan dari berbagai kalangan akademik dan profesional.

Pengukuhan ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan geografi dan perencanaan wilayah di Indonesia, khususnya di lingkungan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) UPI. Prof. Nandi dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Program Studi Pendidikan Geografi FPIPS UPI setelah perjalanan panjang pengabdian akademik, penelitian, dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu geografi perencanaan wilayah berbasis pendekatan spasial dan teknologi geospasial.

Sumber: Dokumentasi kegiatan

Dalam sidang terbuka senat universitas, Prof. Nandi menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Geografi Perencanaan Wilayah untuk Kota Berkelanjutan: Pendekatan Spasial dan Pemanfaatan Teknologi Geospasial.” Melalui pidato tersebut, ia menyoroti tantangan urbanisasi modern yang dihadapi kota-kota di Indonesia, mulai dari ketimpangan sosial, konflik ruang, degradasi lingkungan, hingga meningkatnya risiko hidrometeorologi.

Menurutnya, urbanisasi di Indonesia tidak berlangsung secara sederhana, melainkan meluas ke kawasan pinggiran dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Ia menegaskan bahwa kota tidak dapat dipahami semata sebagai batas administratif, melainkan sebagai sistem sosial-ekologis yang saling terhubung.

“Kota harus dibaca sebagai sistem sosial-ekologis yang hidup dan saling terhubung,” ujar Prof. Nandi dalam pidatonya di hadapan para tamu undangan dan sivitas akademika UPI.

Dalam orasinya, Prof. Nandi juga menekankan pentingnya pendekatan spasial sebagai dasar kebijakan berbasis bukti. Menurutnya, peta bukan sekadar produk visual, tetapi merupakan bentuk argumentasi ilmiah yang mampu membantu pemerintah dan masyarakat memahami perubahan wilayah, pola ketimpangan, serta risiko lingkungan secara lebih akurat.

Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG), penginderaan jauh, dan analisis spasial menjadi instrumen penting dalam merancang pembangunan wilayah yang berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, kebijakan publik dapat disusun secara lebih presisi dan terukur.

Selain aktif sebagai dosen dan peneliti di Program Studi Pendidikan Geografi FPIPS UPI, Prof. Nandi juga dikenal sebagai pengajar di Program Studi Survei Pemetaan dan Informasi Geografis (SPIG) serta Sains Informasi Geografi (SaIG). Dalam proses pembelajaran, ia banyak mengampu mata kuliah yang berkaitan dengan perencanaan wilayah, tata kota, infrastruktur, serta pemanfaatan teknologi geospasial dalam pembangunan.

Dedikasinya dalam dunia pendidikan membuat Prof. Nandi dikenal luas sebagai akademisi yang konsisten mendorong penguatan literasi spasial di kalangan mahasiswa. Ia menilai bahwa kemampuan memahami ruang, membaca peta, dan menafsirkan data keruangan merupakan kompetensi penting dalam menghadapi tantangan pembangunan masa depan.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Nandi juga menyoroti pentingnya pengelolaan kawasan periurban atau wilayah transisi antara desa dan kota. Menurutnya, kawasan ini sering kali dipandang sebagai wilayah pinggiran, padahal justru menjadi penentu masa depan metropolitan.

Ia menjelaskan bahwa kawasan periurban menghadapi berbagai persoalan kompleks, seperti konversi lahan pertanian, ekspansi permukiman, perubahan sosial ekonomi masyarakat, hingga meningkatnya ancaman banjir dan degradasi lingkungan. Oleh sebab itu, pengelolaan kawasan periurban harus dilakukan secara adaptif, kolaboratif, dan berbasis data geospasial.

“Bila periurban salah dikelola, kota kehilangan penyangga ekologisnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. Nandi memperkenalkan kerangka konseptual yang ia sebut sebagai Spatially Integrated Regional Planning Framework. Konsep tersebut menjadi salah satu kontribusi akademiknya dalam pengembangan teori dan praktik perencanaan wilayah yang terintegrasi.

Kerangka tersebut menempatkan pendekatan spasial sebagai fondasi utama dalam memahami keterhubungan wilayah, menganalisis risiko, dan merancang pembangunan berkelanjutan yang lebih adil serta adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Sumber : Dokumentasi Kegiatan

Suasana pengukuhan berlangsung penuh khidmat dan apresiasi. Kehadiran pimpinan universitas, dosen, mahasiswa, serta kolega akademik dari berbagai institusi menunjukkan besarnya penghormatan terhadap kontribusi Prof. Nandi di bidang pendidikan dan penelitian.

Rektor UPI beserta jajaran pimpinan universitas turut memberikan ucapan selamat atas capaian akademik tersebut. Pengukuhan guru besar ini dinilai tidak hanya menjadi kebanggaan bagi FPIPS UPI, tetapi juga memperkuat posisi UPI sebagai institusi pendidikan tinggi yang terus mendorong inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Bagi mahasiswa dan rekan sejawat, Prof. Nandi dikenal sebagai sosok akademisi yang aktif membangun diskusi ilmiah dan mendorong kolaborasi lintas disiplin. Pendekatannya dalam pembelajaran tidak hanya menekankan aspek teoritis, tetapi juga penerapan teknologi geospasial dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

Pengukuhan Prof. Nandi sebagai Guru Besar menjadi simbol penting atas berkembangnya kajian geografi perencanaan wilayah di Indonesia. Di tengah meningkatnya tantangan urbanisasi, perubahan iklim, dan tekanan terhadap lingkungan, bidang ilmu ini memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah dan masyarakat merancang pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Menutup pidato pengukuhannya, Prof. Nandi menyampaikan keyakinannya bahwa masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa dalam membaca ruang secara ilmiah. Ia menegaskan bahwa negara yang gagal memahami persoalan ruang akan menghadapi kesulitan dalam mengatasi krisis air, pangan, transportasi, bencana, hingga ketimpangan wilayah.

Melalui pengukuhan ini, Prof. Nandi menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pendidikan geografi berbasis data geospasial serta memperkuat kajian perencanaan wilayah periurban yang lebih adil dan adaptif.

Pengukuhan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pengembangan ilmu geografi dan teknologi geospasial bukan hanya berkaitan dengan pemetaan wilayah, tetapi juga tentang membangun masa depan kota dan kehidupan masyarakat yang lebih berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *