Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Air Mata di Balik Peta Kekeringan

Penulis : Dian Apita Sari (SaIG, 2206808)

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa Sains Informasi Geografi, penyusunan skripsi menjadi salah satu fase yang paling menguras tenaga, pikiran, waktu, bahkan perasaan. Sebelum benar-benar menjalaninya, saya sering berpikir bahwa skripsi hanyalah tentang melakukan penelitian, mengolah data, menyusun hasil, kemudian menyelesaikannya. Namun setelah mengalaminya sendiri, saya menyadari bahwa skripsi jauh lebih dari sekadar tugas akhir. Skripsi menjadi perjalanan panjang yang mengajarkan saya tentang kesabaran, ketekunan, tanggung jawab, keberanian untuk menghadapi kesalahan, dan yang paling penting adalah bagaimana bertahan ketika rasanya ingin menyerah. Skripsi yang saya kerjakan berjudul “Upaya Penanganan Kekeringan Lahan Sawah Berdasarkan Analisis Temperature Vegetation Dryness Index (TVDI) di Kecamatan Gantar dan Terisi Tahun 2020-2024.” Penelitian ini berangkat dari ketertarikan saya terhadap permasalahan kekeringan pada lahan pertanian, khususnya bagaimana kondisi kekeringan dapat dipetakan dan dianalisis dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh. Pada awalnya, judul dan penelitian tersebut terlihat seperti sesuatu yang dapat diselesaikan dengan mengikuti tahapan-tahapan yang ada pada berbagai jurnal. Akan tetapi, semakin saya masuk ke dalam prosesnya, semakin saya menyadari bahwa setiap tahapan memiliki tantangan dan membutuhkan pemahaman yang benar-benar mendalam.

Perjalanan skripsi saya dimulai dari proses menentukan dan mematangkan topik penelitian. Pada tahap awal, saya masih banyak mengalami kebingungan mengenai apa yang sebenarnya ingin saya teliti dan bagaimana penelitian tersebut dapat dilakukan. Berbagai referensi mulai saya baca, dari jurnal, penelitian terdahulu, hingga berbagai sumber yang berkaitan dengan kekeringan, penginderaan jauh, NDVI, LST, dan TVDI. Semakin banyak membaca, ternyata semakin banyak pula pertanyaan yang muncul. Saya mulai mempertanyakan apakah metode yang saya gunakan sudah tepat, bagaimana cara mengolah datanya, bagaimana menentukan parameter yang digunakan, hingga bagaimana nantinya hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan. Ada masa ketika saya merasa teman-teman sudah memahami penelitian mereka masing-masing, sementara saya masih berkutat dengan berbagai pertanyaan yang sama. Perasaan takut salah dan tidak percaya diri beberapa kali muncul. Saya bahkan sempat merasa bahwa penelitian ini terlalu sulit untuk saya selesaikan. Namun, saya belajar bahwa rasa takut tidak akan membuat penelitian saya selesai. Satu-satunya cara adalah tetap berjalan, meskipun perlahan. Saya mulai membiasakan diri untuk membaca kembali referensi, mencatat hal-hal yang belum dipahami, bertanya kepada dosen, serta berdiskusi dengan teman-teman. Dari sana saya mulai memahami bahwa dalam proses skripsi tidak ada mahasiswa yang benar-benar langsung memahami semuanya. Semua orang memiliki bagian yang sulit dalam perjalanan masing-masing. Hanya saja, tidak semua perjuangan tersebut terlihat oleh orang lain.

Sebelum melaksanakan seminar proposal, saya mendapatkan banyak arahan dari dosen pembimbing akademik saya, Ibu Silmi Afina Aliyan, S.T., M.T., serta Ibu Siti Zahrotunnisa, S.Si., M.Sc. Pada tahap tersebut, banyak hal yang masih harus saya persiapkan dan perbaiki. Bimbingan yang saya jalani bukan hanya memberikan arahan mengenai penelitian, tetapi juga memberikan dorongan ketika saya mulai merasa lelah dan kehilangan semangat. Ada banyak revisi yang harus dikerjakan. Ada kalanya saya merasa bahwa tulisan yang sudah saya buat dengan susah payah ternyata masih banyak kekurangannya. Rasa kecewa tentu ada. Namun, dari proses tersebut saya mulai memahami bahwa revisi bukan berarti saya gagal. Revisi justru menjadi bagian dari proses untuk membuat penelitian saya menjadi lebih baik. Ibu Silmi dan Ibu Izah menjadi bagian penting dalam fase awal perjalanan skripsi saya. Arahan dan motivasi yang diberikan membuat saya terus berusaha mempersiapkan seminar proposal. Mereka mengingatkan saya untuk tetap semangat dan tidak berhenti hanya karena merasa kesulitan. Sampai akhirnya, setelah melalui berbagai persiapan, membaca referensi, memperbaiki proposal, dan berdiskusi berkali-kali, saya dapat melewati tahap seminar proposal. Rasanya lega, tetapi sekaligus saya sadar bahwa seminar proposal bukanlah akhir. Justru setelah itu perjalanan sebenarnya baru dimulai.

Dok. Penulis

Setelah seminar proposal, saya mulai masuk lebih dalam pada proses pengolahan data. Saya menggunakan citra Landsat 8 tahun 2020-2024 untuk memperoleh parameter NDVI, LST, dan TVDI. Awalnya saya merasa bahwa selama tahapan pengolahan mengikuti metode dari jurnal, semuanya akan berjalan dengan baik. Ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu. Saya mulai berhadapan dengan berbagai persoalan teknis. Ada data yang harus diperiksa kembali, hasil pengolahan yang tidak sesuai harapan, serta berbagai pertanyaan mengenai metode yang digunakan. Saya harus memahami bagaimana NDVI dan LST saling berkaitan dalam membentuk TVDI, bagaimana menentukan dry edge dan wet edge, bagaimana membaca hasil regresi, hingga bagaimana memastikan bahwa hasil yang saya peroleh benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

 Ada saat ketika saya menatap hasil pengolahan data dan merasa bingung harus mulai memperbaiki dari mana. Beberapa kali saya mengulang proses yang sama. Ketika satu masalah selesai, muncul masalah lain. Ketika merasa sudah menemukan hasil yang benar, ternyata setelah diperiksa kembali masih ada bagian yang harus diperbaiki. Pada titik-titik tertentu, air mata menjadi bagian dari perjalanan ini. Bukan karena saya tidak ingin menyelesaikannya, tetapi karena saya merasa sudah berusaha sekuat tenaga dan masih saja menemukan kesalahan. Ada rasa lelah, kecewa, takut, bahkan sempat muncul keinginan untuk berhenti. Namun setiap kali perasaan itu muncul, saya kembali mengingat bahwa saya sudah berjalan sejauh ini. Saya akhirnya belajar bahwa dalam penelitian, tidak ada proses yang benar-benar instan. Kesalahan bukan selalu tanda bahwa kita tidak mampu. Terkadang kesalahan justru menunjukkan bagian mana yang masih harus kita pelajari.

Dalam perjalanan ini, saya sangat bersyukur mendapatkan dosen pembimbing skripsi yang terus memberikan arahan. Bapak Hendro Murtiano, S.Pd., M.Sc. selaku dosen pembimbing pertama banyak memberikan arahan, khususnya dalam memahami aspek teknis dan metode penelitian yang saya gunakan. Bimbingan dengan beliau membuat saya menyadari bahwa penelitian tidak cukup hanya dengan mengikuti langkah-langkah yang tertulis dalam jurnal. Setiap metode memiliki dasar dan alasan ilmiah yang harus dipahami. Saya tidak hanya dituntut untuk mendapatkan hasil, tetapi juga harus mampu menjelaskan mengapa hasil tersebut diperoleh dan bagaimana prosesnya. Sementara itu, Ibu Dr. Tania Septi Anggraini, S.T., M.T., Ph.D. selaku dosen pembimbing kedua juga memberikan banyak arahan dan masukan dalam proses penyusunan skripsi. Setiap koreksi yang diberikan menjadi bagian dari proses saya dalam memperbaiki penelitian, baik dari sisi substansi maupun penyajiannya. Ada kalanya setelah bimbingan saya merasa lega karena mendapatkan titik terang. Namun, tidak jarang saya pulang dengan daftar revisi yang kembali panjang. Awalnya hal tersebut terasa melelahkan. Tetapi semakin lama saya menyadari bahwa revisi yang diberikan bukan untuk mempersulit, melainkan untuk memastikan penelitian yang saya lakukan memiliki dasar yang lebih kuat. Dari kedua dosen pembimbing tersebut saya belajar bahwa dosen bukan hanya membantu mahasiswa menyelesaikan skripsinya, tetapi juga membantu mahasiswa belajar menjadi peneliti yang lebih teliti, bertanggung jawab, dan mampu mempertanggungjawabkan setiap keputusan dalam penelitiannya.

Jika perjalanan skripsi ini hanya saya jalani seorang diri, mungkin semuanya akan terasa jauh lebih berat. Salah satu hal yang paling saya syukuri adalah keberadaan teman-teman satu angkatan yang juga sedang berjuang menyelesaikan skripsi. Kami sama-sama tahu bagaimana rasanya membuka laptop tetapi tidak tahu harus mengerjakan apa. Kami sama-sama tahu bagaimana rasanya menunggu kabar bimbingan, mendapatkan revisi, mengejar target, dan merasa panik ketika waktu terus berjalan. Kami saling mengingatkan jadwal, saling bertanya mengenai progres, berdiskusi ketika ada bagian yang tidak dipahami, dan memberikan semangat ketika salah satu dari kami mulai merasa lelah. Bahkan terkadang, kalimat sederhana seperti “sudah sampai mana?” atau “ayo semangat, sedikit lagi” menjadi sangat berarti ketika sedang berada dalam kondisi yang tidak baik. Perjuangan bersama teman-teman angkatan membuat saya menyadari bahwa skripsi memang dikerjakan secara individu, tetapi perjalanan menuju penyelesaiannya tidak harus dilakukan sendirian. Ada banyak momen sederhana yang mungkin terlihat sepele, tetapi justru menjadi kenangan yang akan saya ingat. Duduk bersama, mengerjakan revisi, berdiskusi tentang penelitian masing-masing, saling membantu mencari referensi, hingga hanya sekadar bercerita tentang bagaimana sulitnya proses skripsi. Kekompakan dan rasa kekeluargaan yang kami bangun selama menjadi mahasiswa menjadi salah satu sumber kekuatan bagi saya. Kami mungkin memiliki judul, dosen pembimbing, metode, dan masalah penelitian yang berbeda, tetapi kami memiliki perjuangan yang sama yaitu ingin menyelesaikan pendidikan ini dengan sebaik-baiknya.

Semakin lama mengerjakan skripsi, saya mulai memahami bahwa rasa lelah adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Ada hari ketika saya sangat produktif dan mampu menyelesaikan banyak hal. Tetapi ada juga hari ketika satu halaman saja terasa sangat sulit untuk diselesaikan. Ada malam-malam ketika saya harus memaksa diri untuk tetap membuka laptop meskipun pikiran sudah penuh. Ada saat ketika saya menangis karena merasa penelitian saya tidak kunjung selesai. Ada pula waktu ketika saya membandingkan diri dengan teman-teman yang sudah lebih dahulu menyelesaikan tahap tertentu. Namun, perlahan saya belajar berhenti membandingkan perjalanan saya dengan perjalanan orang lain. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Ada yang cepat memahami metode, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang cepat menyelesaikan pengolahan data, ada pula yang harus mengulang berkali-kali. Saya termasuk orang yang harus melewati banyak proses untuk memahami penelitian saya sendiri.

Saya mulai belajar bahwa tidak apa-apa berjalan lebih lambat, selama saya tidak berhenti. Salah satu bagian yang membuat saya kembali bersemangat adalah ketika hasil penelitian mulai dapat memberikan gambaran mengenai kondisi kekeringan di wilayah penelitian. Melalui hasil analisis TVDI, saya tidak hanya melihat angka dan peta, tetapi mulai memahami bagaimana kekeringan dapat memberikan tekanan terhadap lahan sawah. Penelitian saya kemudian diarahkan tidak hanya untuk melihat tingkat kekeringan, tetapi juga menentukan kawasan yang perlu mendapatkan perhatian dalam penanganannya. Hasil pemetaan menjadi dasar untuk melihat wilayah yang memiliki kondisi kekeringan lebih tinggi dan membutuhkan prioritas penanganan. Pada tahap ini saya mulai merasa bahwa semua proses yang sebelumnya terasa melelahkan ternyata memiliki tujuan. Data yang berkali-kali saya olah, peta yang berkali-kali saya perbaiki, serta hasil yang berkali-kali saya periksa akhirnya mulai membentuk sebuah penelitian yang utuh. Saya menyadari bahwa skripsi bukan hanya tentang mendapatkan nilai atau memenuhi kewajiban akademik. Ada harapan bahwa penelitian yang saya lakukan dapat memberikan informasi yang bermanfaat, khususnya dalam pemantauan kekeringan dan upaya penanganan pada lahan sawah.

Jika saya mengingat kembali perjalanan skripsi ini, ada begitu banyak emosi yang saya rasakan. Bahagia ketika berhasil menyelesaikan satu tahap. Lega ketika revisi selesai. Bingung ketika menemukan masalah. Takut ketika hasil tidak sesuai harapan. Kecewa ketika harus mengulang pekerjaan. Dan tentu saja, menangis ketika semuanya terasa terlalu berat. Tetapi sekarang saya memahami bahwa semua itu adalah bagian dari perjalanan. Skripsi mengajarkan saya bahwa kerja keras tidak selalu langsung menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan harapan. Terkadang kita harus mengulang pekerjaan yang sudah dilakukan selama berhari-hari. Terkadang kita merasa sudah hampir selesai, tetapi ternyata masih ada banyak hal yang harus diperbaiki. Dari semua itu saya belajar untuk lebih sabar. Saya belajar bahwa hasil yang baik membutuhkan proses yang panjang. Saya belajar untuk tidak malu bertanya ketika tidak memahami sesuatu. Saya belajar untuk menerima kritik dan menjadikannya sebagai bahan perbaikan. Saya belajar bahwa meminta bantuan bukan berarti saya tidak mampu. Dan yang paling penting, saya belajar bahwa menangis bukan berarti menyerah.

Ada kalanya saya menangis, kemudian beristirahat, lalu kembali mengerjakan skripsi.

Saya menyadari bahwa saya tidak mungkin sampai pada tahap ini tanpa bantuan dan dukungan dari banyak orang. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Bapak Hendro Murtiano, S.Pd., M.Sc., selaku dosen pembimbing skripsi satu, atas segala arahan, koreksi, masukan, dan kesabaran dalam membimbing saya selama proses penelitian. Setiap masukan yang diberikan menjadi pelajaran penting bagi saya untuk memahami penelitian secara lebih mendalam dan tidak hanya sekadar mengikuti prosedur. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Ibu Dr. Tania Septi Anggraini, S.T., M.T., Ph.D., selaku dosen pembimbing skripsi kedua, yang telah memberikan arahan, masukan, dan motivasi selama proses penyusunan skripsi. Setiap saran yang diberikan membantu saya untuk terus memperbaiki penelitian hingga menjadi lebih baik. Terima kasih kepada Ibu Silmi Afina Aliyan, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing akademik, yang telah mendampingi perjalanan akademik saya dan memberikan arahan selama masa perkuliahan hingga saya memasuki tahap penyusunan skripsi. Terima kasih juga kepada Ibu Siti Zahrotunnisa, S.Si., M.Sc., yang pada tahap sebelum seminar proposal telah memberikan banyak arahan dan motivasi kepada saya. Dukungan tersebut menjadi salah satu bagian penting yang membuat saya terus berusaha mempersiapkan seminar proposal dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai kesulitan.

Dok. Penulis

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi, yang telah menjadi sosok yang begitu berarti dalam perjalanan akademik saya dan teman-teman selama menempuh pendidikan di program studi ini. Sejak awal perkuliahan hingga memasuki tahap akhir penyusunan skripsi, beliau selalu menyambut kami dengan tangan terbuka, ramah, dan penuh perhatian. Bagi saya, beliau bukan hanya menjalankan peran sebagai Ketua Program Studi, tetapi juga menjadi sosok yang mampu mengayomi mahasiswa. Perhatian beliau terhadap mahasiswa membuat saya merasakan bahwa kami tidak hanya dipandang sebagai bagian dari lingkungan akademik, tetapi juga sebagai keluarga yang perlu didampingi dan diperhatikan. Di berbagai kesempatan, beliau selalu berusaha hadir untuk mahasiswa dan memberikan arahan ketika kami membutuhkan. Sikap ramah dan keterbukaan beliau menjadi salah satu hal yang membuat suasana di Program Studi Sains Informasi Geografi terasa begitu dekat dan penuh kekeluargaan.

Dok. Penulis

Hal yang paling saya rasakan dan akan selalu saya ingat adalah bagaimana beliau mengajarkan kami tentang arti kekeluargaan. Nilai tersebut tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga terlihat dari bagaimana beliau memperlakukan mahasiswa dan bagaimana hubungan antara dosen, mahasiswa, serta seluruh bagian dari program studi dapat terjalin dengan begitu dekat. Rasa kekeluargaan yang kuat inilah yang membuat perjalanan saya selama menjadi mahasiswa terasa lebih berkesan. Di tengah kesibukan perkuliahan, berbagai tugas, kegiatan, hingga perjuangan menyelesaikan skripsi, saya merasa beruntung pernah menjadi bagian dari lingkungan yang mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana kita dapat saling mendukung dan menjaga satu sama lain. Terima kasih, Bapak, karena telah menjadi sosok yang selalu menyambut kami dengan keramahan, mengayomi kami sejak awal hingga akhir perjalanan perkuliahan, serta menanamkan nilai kekeluargaan yang begitu kuat di Program Studi Sains Informasi Geografi. Semua kebaikan, perhatian, dan nilai yang telah Bapak ajarkan akan menjadi bagian dari kenangan yang saya bawa setelah menyelesaikan pendidikan ini. Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari keluarga besar Sains Informasi Geografi dan bertemu dengan sosok yang tidak hanya memimpin, tetapi juga hadir sebagai orang tua yang membimbing dan mengayomi kami selama perjalanan menjadi mahasiswa.

Dan yang tidak kalah penting, terima kasih kepada teman-teman satu angkatan yang selama ini menjadi teman seperjuangan. Terima kasih karena telah menjadi tempat bertanya, berdiskusi, berbagi keluh kesah, saling mengingatkan, dan saling menyemangati. Terima kasih karena tetap menjaga kekompakan dan rasa kekeluargaan di tengah kesibukan masing-masing. Mungkin suatu saat nanti kita akan lupa detail dari revisi-revisi yang pernah kita kerjakan, lupa berapa kali kita membuka jurnal yang sama, atau lupa berapa malam yang kita habiskan untuk menyelesaikan skripsi. Tetapi saya yakin, kita tidak akan mudah melupakan bagaimana kita pernah berjuang bersama untuk sampai di titik ini. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa skripsi bukan hanya tentang bagaimana saya menghasilkan sebuah karya ilmiah. Skripsi adalah perjalanan yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih teliti, lebih bertanggung jawab, dan lebih kuat menghadapi tekanan. Saya pernah berpikir bahwa keberhasilan menyelesaikan skripsi adalah ketika penelitian selesai dan semua revisi berakhir. Namun sekarang saya melihatnya dengan cara yang berbeda. Keberhasilan bukan hanya tentang mencapai garis akhir, tetapi tentang bagaimana saya tetap memilih untuk melanjutkan perjalanan ketika berkali-kali merasa ingin berhenti.

Kekeringan yang menjadi topik penelitian saya ternyata secara tidak langsung mengajarkan saya sesuatu tentang diri sendiri. Seperti lahan yang membutuhkan air untuk tetap bertahan, saya juga membutuhkan dukungan, semangat, dan harapan untuk terus melangkah. Ketika semuanya terasa kering dan melelahkan, selalu ada sedikit alasan untuk bertahan dan mencoba lagi. Mungkin skripsi ini tidak akan menjadi karya paling sempurna. Mungkin masih akan ada kekurangan yang harus diperbaiki. Tetapi skripsi ini akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup saya yang penuh dengan air mata, tawa, rasa takut, kegagalan, keberanian, dan perjuangan. Saya pernah hampir menyerah, tetapi saya memilih untuk mencoba sekali lagi. Saya pernah merasa tidak mampu, tetapi saya memilih untuk belajar. Saya pernah menangis karena lelah, tetapi setelah itu saya kembali membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan. Karena pada akhirnya, saya belajar bahwa tidak apa-apa berjalan perlahan, tidak apa-apa berhenti sebentar untuk mengumpulkan tenaga, tetapi jangan berhenti selamanya. Sebab mungkin, perjalanan yang paling berat justru sedang membawa kita menuju versi diri yang paling kuat.Dan untuk semua air mata serta perjuangan yang telah dilalui, saya ingin mengucapkan satu hal kepada diri saya sendiri:

Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *