Penulis: Nailufar Rachmi (SaIG, 2205061)
Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)
Dalam penyelesaian skripsi, perjalanannya dapat diibaratkan dengan mendaki gunung tetapi petanya nge-blur atau tidak jelas, karena rutenya tidak ada yang benar-benar lurus. Pada awal penyusunan saja, saya sudah merasakan sulitnya untuk menentukan topik yang akan diambil lalu mengalami 2 kali pergantian draf hingga akhirnya rampung. Rasanya seperti jalan di tempat, mencari gap penelitian yang realistis tetapi tetap berbobot. Merumuskan ide yang ideal di kepala ternyata sering kali berantakan Ketika dihadapkan dengan ketersediaan data dan kelayakan metode yang akan digunakan. Alhasil, dari hal tersebut saya terpaksa untuk membuat ulang draf dari awal yang menyusunnya lumayan menguras energi tetapi menyenangkan.
Hingga akhirnya, benang yang tadinya kusut mulai terurai ketika saya menemukan topik yang terasa nyaman dan klik banget yaitu mengenai pemodelan penyakit. Dari awal Ketika pembuatan kerangka penyusunan rencana penelitian saya memang menaruh minat besar pada penelitian yang berbasis kesehatan. Menurut saya, skripsi itu napas perjuangannya Panjang, jadi agar saat proses pengerjaan tetap enjoy dan terasa menyenangkan, saya berpegang teguh kepada diri saya agar memilih topik yang benar-benar saya sukai. Walaupun pemilihan topik berdasarkan minat besar dari diri saya, bukan berarti mengabaikan urgensinya. Isu penyebaran penyakit ini tetap menjadi masalah di masyarakat yang menuntut analisis dan solusi spasial yang nyata.
Begitu topik terasa aman, bukan berarti bisa langsung santai. Terdapat ujian selanjutnya, yaitu menyelami lautan jurnal untuk mencari penelitian terdahulu yang pencariannya terasa tiada habisnya. Berjam-jam scrolling pada situs jurnal, mencari referensi yang relate dengan metodologi spasial saya. Uniknya, literatur yang paling pas dan relevan dengan penelitian yang saya ambil justru kebanyakan paper dari luar negeri. Awalnya saya sempat merasa kebingungan memikirkan perbedaan antara konteks wilayah dan harus berusaha lebih dalam membedah jurnal berbahasa asing. Tetapi setelah diulik lebih dalam, jurnal-jurnal internasional ini ternyata memberi insight metodologi yang tajam, dan tentu saja tidak menutup kemungkinan untuk dijadikan acuan utama yang memperkuat landasan kerangka penelitian yang saya ambil.
Berbekal dengan amunisi literatur tersebut, lalu dimulai fase penyusunan bab 1 hingga bab 3. Merangkai latar belakang pada bab 1 itu nyatanya susah-susah mudah, harus pintar menjahit research gap agar dapat meyakini lebih lanjut bahwa masalah ini memang butuh untuk diteliti. Lanjut pada bab 2 yang menjadi ajang meracik teori epidemiologi dan geografi, sampai akhirnya masuk ke bab 3 yang ibaratnya dia adalah kunci dari penelitian ini disusun untuk menentukan alur kerja software dan metodologi spasial yang mau dipakai. Setelah draf proposal ini melewati beberapa kali revisi, tibalah momen pembuktian pertama yaitu seminar proposal. Walaupun judulnya hanya sidang awal, tetapi tetap saja terasa nervous. Tapi, momen ketika penguji bilang proposal ini disetujui dan layak dilanjutkan, rasanya lega luar biasa seperti dapat lampu hijau buat langsung ngegas ke tahap eksekusi.

Dok. Penulis

Dok. Penulis
Dengan persetujuan dari sempro tersebut, langkah selanjutnya yang saya ambil yaitu turun ke lapangan. Saya berangkat melakukan survei awal ke daerah kajian penelitian yang saya ambil dengan satu misi utama yaitu meminta izin dan meminta data awal ke instansi terkait untuk dijadikan bahan dasar pengolahan. Mengurus perizinan dan berhadapan langsung dengan birokrasi penyedia data memberikan insight yang berbeda. Momen pencarian data awal di sana menyadarkan saya bahwa memodelkan zona rawan kesehatan yang saya ambil di dunia nyata butuh usaha yang jauh lebih Panjang. Ternyata, dalam pengerjaan analisis geografi itu tidak hanya sekedar melakukan pemilihan tools pada software, tetapi juga soal negosiasi, birokrasi, dan kesabaran ekstra untuk menunggu data turun.
Setelah data didapatkan, masuk dalam fase pengolahan data, barulah terasa kesulitan dan kemudahan didalamnya yang beragam. Setiap hari yang dilakukan adalah staring contest sama layar laptop, menghadapi data yang kadang berantakan dan perangkat lunak yang suka tiba-tiba not responding saat sedang butuh-butuhnya, atau ujian lainnya yang datang secara tiba-tiba. Jam tidur jadi tidak beraturan, ada masa di mana rasanya capek banget secara mental, apalagi kalau running data gagal terus sementara hari bimbingan sudah di depan mata. Fase tersebut sukses memicu keraguan kapasitas saya sendiri, mempertanyakan “ini modelnya beneran bisa jalan ngga ya?”. Namun, di sinilah kehidupan mahasiswa akhir mulai terlihat, masa-masa krisis itu ternyata jauh lebih ringan karena saya nggak melewati sendirian. Punya teman-teman seperjuangan yang sama-sama sedang mengalami fase tersebut juga, membuat beban berat ini berubah menjadi ringan dan perlahan terasa lebih mudah untuk lewati. Sangat terasa kekeluargaan dan solidaritasnya dalam fase ini membuat tertanamnya “skripsi bukanlah beban” dalam pikiran saya.
Fase pengolahan data yang lumayan menguras energi itu telah dilalui, tetapi masih ada tahap selanjutnya, yaitu survei validasi akhir ke lapangan. Sadar kalau mustahil mengecek satu persatu semua titik sendirian, saya akhirnya memberanikan diri meminta bantuan beberapa teman Angkatan saya. Di luar dugaan, walaupun mereka sama halnya sedang dalam fase yang sama, tetapi dengan lapang dada bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk turun langsung bersama membantu saya. Kita berangkat bersama, membagi lelah lagi, menyusuri rute bersama, dan memastikan tiap titik koordinat tervalidasi dengan benar di lapangan. Bantuan tulus dari mereka tidak hanya jadi penyelamat bab penelitian saya, tetapi juga memberi memori manis kalau masa akhir kuliah ini beneran kita lewati dengan saling merangkul dan membantu satu sama lain.

Dok. Penulis
Sepulang dari lapangan, rutinitas bimbingan mingguan menjadi agenda yang paling membuat penasaran dan berkesan selalu. Duduk di depan Pak Dr. Lili Somantri, S.P.d., M.Si. dan Ibu Dr. Alnidi Safarach Bratanegara, S.Kep, M.Si. setiap pekannya merupakan proses yang harus saya lakukan untuk mengasah logika yang sesungguhnya. Catatan revisinya, pertanyaan-pertanyaan kritisnya yang membuat saya berpikir keras, sampai arahan dari Bapak Ibu dosen pembimbing yang tajam tidak hanya memaksa saya berpikir out of the box, tetapi juga selalu berhasil mengarahkan saya ke jalan yang lurus setiap kali analisis ini mulai melenceng ke arah yang tidak beraturan. Berkat bimbingan beliau, data yang tadinya masih acak-acakan pelan-pelan dirajut menjadi sebuah alur analisis spasial yang solid dan bisa dipertanggungjawabkan.
Hingga akhirnya, semua proses yang terasa seperti rollercoaster itu bermuara pada satu titik yaitu siding skripsi. Menjelang hari-H siding, tingkat kecemasan melonjak drastis sampai napas terasa rasanya selalu berat. Tetapi ajaibnya, Ketika presentasi dimulai, perlahan semua materi yang sudah saya bangun berbulan-bulan itu mengalir begitu saja. Pertanyaan dan masukan yang mereka berikan murni untuk menyempurnakan penelitian saya. Setelah pemaparan dan pertanyaan-pertanyaan dikeluarkan dari dosen penguji berakhir, terdapat kelegaan luar biasa yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Walaupun euphoria kelulusan itu sempat terjeda sebentar dengan terbitnya revisi setelah sidang yang kembali harus dikerjakan, namun alhamdulillah fase extra time itu untuk revisi akhirnya dapat dilalui juga.
Pengerjaan skripsi pada akhirnya bukan semata-mata ajang pembuktian kecerdasan akademis, melainkan ujian ketahanan mental dan seni mengelola ekspektasi. Pelajaran paling mahal yang dapat diambil Adalah belajar berdamai dengan ketidaksempurnaan. Di bangku kuliah kita diberikan teori yang serba ideal, tapi kenyataan di lapangan dan di depan layar laptop sering kali berkata lain. Data yang berantakan, software yang menolak diajak kompromi, hingga metode yang harus dirombak ulang mengajarkan kita untuk berhenti menjadi perfeksionis yang kaku, dan berubah menjadi seorang problem solver yang adaptif.
Pelajaran kedua adalah tentang esensi dari sebuah konsistensi. Jika kita hanya mengandalkan motivasi, skripsi ini mungkin tidak akan pernah selesai. Motivasi adalah sesuatu yang sangat berpengaruh dalam kelangsungan proses skripsi ini berjalan, menggebu-gebu saat menentukan judul, lalu lenyap tak berbekas begitu revisi-revisi datang melanda. Skripsi mengajarkan bahwa garis akhir itu dicapai bukan oleh seberapa brilian ide awal kita, tapi oleh seberapa keras kepala kita mau duduk kembali membuka laptop setiap harinya. Kemajuan dan progress sekecil apa pun, meski hanya menambah satu paragraf, jauh lebih berharga daripada ledakan ambisi yang hanya bertahan satu malam.
Ketiga, proses panjang ini menampar ego kita untuk menyadari betapa kecilnya kapasitas diri kita tanpa bantuan orang lain. Sehebat apa pun pemahaman kita tentang sebuah topik, kita tetap butuh arahan dosen pembimbing untuk meluruskannya, butuh teman untuk saling bertukar keluh kesah, dan butuh dukungan moral dari orang-orang terdekat. Perjalanan skripsi mendidik kita menjadi pribadi yang jauh lebih rendah hati, bahwa mengakui kebingungan, meminta tolong, dan lapang dada menerima kritikan tajam adalah bagian mutlak dari pendewasaan diri.
Penyelesaian karya ini tidak akan pernah menjadi nyata tanpa kebaikan, kesabaran, dan kemurahan hati dari sosok-sosok luar biasa yang sudi menuntun saya yang penuh dengan keterbatasan ini. Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati dan rasa takzim yang sedalam-dalamnya, saya menghaturkan penghormatan dan rasa terima kasih tertinggi kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi sekaligus Dosen Pembimbing Pertama. Saya sangat menyadari betapa minimnya ilmu saya, namun Bapak dengan kebesaran hatinya selalu meluangkan waktu di tengah kesibukan Bapak yang luar biasa padat dalam memajukan program studi ini. Kesabaran Bapak yang tak bertepi dalam membedah alur logika saya yang masih dangkal benar-benar menyelamatkan skripsi ini dari kehancuran. Dedikasi Bapak sebagai pendidik sejati adalah anugerah terbesar yang membimbing saya kembali ke jalan yang lurus. Tanpa kebaikan dan tangan dingin Bapak, mustahil rasanya saya bisa berdiri di titik ini.

Dok. Penulis
Rasa syukur yang sama besarnya juga saya haturkan kepada Ibu Dr. Alnidi Safarach Bratanegara, S.Kep., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Kedua. Kepada Ibu, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas segala kelembutan, ketelitian, dan kesabaran Ibu yang luar biasa dalam membimbing mahasiswa yang sering kali luput ini. Arahan Ibu yang begitu komprehensif berhasil membuka mata saya, menjembatani analisis spasial dengan sudut pandang keilmuan kesehatan secara begitu elegan dan mendalam. Setiap detail masukan dan coretan perbaikan dari Ibu adalah bentuk kepedulian yang sangat berharga. Tanpa kesabaran Ibu dalam menuntun setiap langkah penulisan saya, penelitian ini rasanya tidak akan pernah mencapai kelayakannya.
Terakhir, namun menempati ruang yang sangat istimewa, penghormatan mendalam saya sampaikan kepada Ibu Annisa Joviani Astari, M.I.L., M.Sc., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing Akademik. Terima kasih yang sebesar-besarnya, Ibu, karena telah mengayomi dan menjadi kompas penunjuk arah bagi saya sejak hari pertama menginjakkan kaki di kampus. Di tengah kebingungan dan kebingungan saya selama menjalani masa perkuliahan, kehangatan dan nasihat Ibu selalu menjadi pelita yang mengembalikan kepercayaan diri saya. Dukungan moral dan arahan akademik dari Ibu adalah salah satu alasan terkuat mengapa saya tidak menyerah dan bisa bertahan merampungkan perjalanan panjang ini.
Untuk adik-adik tingkat yang saat ini masih melakukan penyusunan draf skripsi, entah itu yang masih galau mengunci judul atau yang sedang pusing-pusingnya merombak metodologi, jangan biarkan mesin kalian dingin. Godaan terbesar sekaligus jebakan paling mematikan bagi mahasiswa tingkat akhir adalah kebiasaan menunda pengerjaan dengan dalih klise "menunggu mood" atau merasa butuh "inspirasi". Padahal, percayalah, mood itu tidak akan pernah turun dari langit kalau kalian tidak memaksakan diri untuk duduk, menyingkirkan handphone, dan membuka laptop. Saat mesin kalian dibiarkan dingin karena terlalu lama ditinggal, kalian akan membutuhkan tenaga dua kali lipat lebih besar hanya untuk mengingat kembali alur pemikiran atau cara kerja software yang sebelumnya sudah kalian kuasai. Langkah paling berat memang selalu ketikan pertama di hari itu, tapi jangan tunda lagi. Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai.
Selesaikanlah tanggung jawab dan amanah ini secepat yang kalian mampu agar kalian tidak tertinggal oleh gerbong kereta angkatan yang perlahan mulai melaju ke stasiun berikutnya. Akan ada masa di mana beban mental, insecurity, dan overthinking terasa luar biasa berat terasa terutama ketika kalian membuka media sosial dan melihat linimasa dipenuhi oleh teman-teman sepermainan yang satu per satu mulai mengenakan selempang kelulusan, membagikan foto memeluk buket bunga di depan ruang sidang, hingga melangkah ke fase kehidupan baru. Sementara di saat yang sama, kalian masih terjebak di meja yang sama, menatap layar kosong, dan meratapi bab yang tak kunjung usai. Memang benar, kita sering mendengar bahwa "setiap orang punya timeline-nya masing-masing" dan kita tidak perlu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Namun mari kita realistis berpikir, memperlama pengerjaan skripsi secara sengaja karena kalah oleh rasa malas hanya akan memperpanjang penderitaan batin, memperbesar rasa cemas, dan membuat kalian semakin ciut saat dihantam pertanyaan "kapan sidang?" dari keluarga dan orang-orang sekitar.
Satu hal krusial yang harus kalian ingat baik-baik yaitu berjuang sendirian di batas akhir waktu pengerjaan itu rasanya sangat berbeda, begitu sunyi, dan jauh lebih menyiksa secara mental. Bayangkan ketika kalian harus mengejar dosen untuk revisi atau bolak-balik mengurus administrasi pendaftaran sidang, sementara teman-teman dekat kalian di angkatan sudah sibuk dengan pekerjaan, memulai karir, atau melanjutkan hidup mereka. Kalian akan menyadari bahwa lorong-lorong kampus terasa sangat sepi, kantin yang biasanya riuh kini hanya dipenuhi wajah-wajah asing adik tingkat, dan saat kalian ingin mengeluhkan susahnya mencari data, teman-teman kalian justru sudah sibuk membicarakan kerasnya dunia kerja. Frekuensi obrolan kalian perlahan akan berbeda. Oleh karena itu, karena saat ini kalian masih memiliki support system di angkatan yang sama-sama sedang berjuang, manfaatkanlah momentum itu sebaik-baiknya. Jadikan kelelahan kolektif ini sebagai bahan bakar untuk saling menarik dan menyemangati satu sama lain. Percayalah, lulus di waktu yang berdekatan dan merayakan garis akhir bersama-sama memberikan euforia yang jauh lebih hangat, haru, dan tak terlupakan dibandingkan jika kalian merangkak sendirian menuju garis finish saat gedung sudah sepi.
