Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
TIDAK SELALU TAHU ARAH, TAPI SELALU MEMILIH UNTUK BERJALAN

Penulis: Rifdah Ashma Hudzwah (SaIG, 2206767)

Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)

Tentang jalan yang pernah terasa panjang, orang-orang yang menjadi penunjuk arah, dan keberanian untuk terus melangkah.

Ada masa ketika kita berjalan tanpa benar-benar tahu apakah jalan yang dipilih akan membawa kita ke tempat yang kita tuju. Kita hanya punya sedikit keyakinan, sedikit keberanian, dan harapan bahwa langkah berikutnya akan memperlihatkan jalan yang lebih jelas.

Begitu pula dengan skripsi.

Ia tidak datang sebagai jalan lurus yang sejak awal sudah memiliki peta lengkap. Tidak ada tanda yang selalu menunjukkan, “setelah ini harus ke mana.” Kadang kita hanya tahu bahwa hari ini ada satu hal yang harus diselesaikan, lalu besok ada hal lain yang kembali menunggu. Satu halaman membawa kita pada halaman berikutnya. Satu revisi membuka pertanyaan baru. Satu jawaban ternyata mengantarkan kita pada kebingungan yang lain.

Ada hari ketika semuanya terasa berjalan sesuai arah. Ada pula hari ketika saya menatap layar laptop cukup lama dan mulai bertanya dalam hati, “Benarkah saya bisa sampai?”

Mungkin, perjalanan menuju sebuah gelar memang bukan tentang selalu mengetahui arah.

Mungkin, ia tentang keberanian untuk tetap berjalan meskipun arah belum sepenuhnya terlihat.

Perjalanan ini dimulai dari sesuatu yang sederhana: mencari sebuah topik penelitian. Namun ternyata, menemukan topik bukan sekadar memilih hal yang menarik untuk dibahas. Ada banyak pertanyaan yang harus dijawab. Apakah penelitian ini penting? Apakah data yang dibutuhkan tersedia? Apakah metode yang digunakan dapat menjawab masalah penelitian? Dan yang paling sering muncul adalah: apakah saya mampu menyelesaikannya?

Beberapa ide datang dengan begitu meyakinkan, lalu perlahan gugur ketika bertemu dengan kenyataan. Ada gagasan yang terlihat baik di dalam pikiran, tetapi ternyata belum dapat diwujudkan ketika berhadapan dengan data, metode, dan kondisi lapangan. Pada titik itu saya belajar bahwa penelitian tidak selalu lahir dari sesuatu yang sempurna. Kadang ia tumbuh dari keraguan, dari pertanyaan yang terus dipikirkan, dan dari keberanian untuk mencoba kembali setelah rencana pertama tidak berjalan sesuai harapan.

Perlahan, topik penelitian ini mulai menemukan bentuknya.

Setelah itu, perjalanan berlanjut pada tahap yang tidak kalah panjang: membaca, memahami, dan menyelami berbagai literatur. Jurnal demi jurnal dibaca, penelitian terdahulu dibandingkan, teori dipelajari, dan celah penelitian dicari. Ada banyak waktu yang dihabiskan hanya untuk memahami bagaimana orang lain membangun penelitiannya.

Semakin banyak membaca, semakin saya menyadari bahwa penelitian bukan tentang menunjukkan bahwa kita mengetahui segalanya.

Justru sebaliknya.

Penelitian mengajarkan kita untuk menerima bahwa masih ada banyak hal yang belum kita pahami.

Dari sana, satu per satu halaman mulai ditulis. Bab pertama perlahan menemukan bentuknya. Bab kedua mulai dipenuhi teori dan hasil penelitian terdahulu. Bab ketiga disusun dengan penuh kehati-hatian agar langkah penelitian memiliki arah yang jelas.

Tetapi skripsi ternyata bukan tentang bagaimana membuat semuanya berjalan sempurna.

Skripsi adalah tentang bagaimana kita tetap berjalan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Ada kalimat yang harus ditulis ulang. Ada bagian yang harus dibaca kembali. Ada pemikiran yang harus dipertanyakan. Ada rencana yang harus disesuaikan. Dan di antara semua itu, saya belajar bahwa selama sesuatu masih bisa diperbaiki, berarti selalu ada jalan untuk melanjutkan.

Setelah proposal penelitian disusun dan seminar proposal terlewati, perjalanan berikutnya dimulai: turun ke lapangan, mencari data, dan bertemu langsung dengan kenyataan.

Di tahap ini saya memahami bahwa penelitian bukan hanya tentang teori, metode, atau perangkat lunak. Ada proses perizinan, komunikasi, penantian, dan kesabaran yang harus dijalani. Ada data yang mudah ditemukan, tetapi ada pula yang membutuhkan usaha lebih panjang.

Ternyata, penelitian tidak hanya mengajarkan cara mengolah data.

Ia juga mengajarkan cara memahami proses.

Setelah data terkumpul, saya memasuki bagian yang mungkin paling banyak menguji kesabaran: pengolahan dan analisis data.

Hari-hari dipenuhi oleh angka, tabel, peta, hasil analisis, dan berbagai pertanyaan yang kadang membuat saya kembali meragukan diri sendiri. Ada hasil yang tidak sesuai harapan. Ada proses yang harus diulang. Ada bagian yang perlu dipelajari kembali.

Pada fase ini, saya belajar bahwa keraguan tidak selalu berarti kita berada di jalan yang salah. Kadang keraguan hanya menunjukkan bahwa kita sedang berada di bagian perjalanan yang belum sepenuhnya kita pahami.

Dalam proses tersebut, konsultasi dengan Dr. Tania Septi Anggraini, S.T., M.T., Ph.D. selaku dosen konsultasi statistik menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan penelitian ini. Melalui arahan dan diskusi yang diberikan, saya belajar melihat data bukan sekadar kumpulan angka yang harus diolah, melainkan sesuatu yang harus dipahami dengan teliti dan dipertanggungjawabkan dengan baik.

Ada ketenangan tersendiri ketika sesuatu yang awalnya terasa rumit perlahan mulai dapat dipahami.

Seolah-olah kabut yang menutupi jalan sedikit demi sedikit mulai menipis.

Kemudian, ada ruang bimbingan.

Ruang yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan begitu banyak proses, pembelajaran, dan pertumbuhan.

Bersama Prof. Hj. Enok Maryani, M.S. selaku Dosen Pembimbing Pertama, saya belajar untuk melihat penelitian dengan lebih luas dan lebih mendalam. Terima kasih atas setiap arahan, waktu, kesabaran, dan masukan yang diberikan selama proses penyusunan skripsi ini.

Bersama Dr. Iwan Setiawan, S.Pd., M.Si. selaku Dosen Pembimbing Kedua, saya belajar untuk lebih teliti dalam melihat setiap bagian penelitian. Terima kasih atas setiap koreksi, pertanyaan, dan arahan yang membantu penelitian ini berdiri dengan lebih kuat.

Barangkali begitulah seorang pembimbing bekerja.

Tidak selalu menunjukkan seluruh jalan kepada kita, tetapi membantu kita menemukan arah ketika langkah mulai kehilangan tujuan.

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Haikal Muhammad Ihsan, S.Pd., M.Sc. selaku pembimbing proposal penelitian sekaligus Dosen Pembimbing Akademik.

Terima kasih telah hadir sejak tahap ketika penelitian ini masih berupa gagasan yang belum memiliki bentuk yang jelas. Terima kasih atas arahan, perhatian, dan kesempatan yang diberikan selama perjalanan akademik saya.

Ada kesempatan-kesempatan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seorang mahasiswa, kesempatan sering kali menjadi pintu untuk bertumbuh. Kesempatan untuk mencoba, belajar, mengenal kemampuan diri sendiri, dan melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas.

Ketika menoleh ke belakang, saya menyadari bahwa beberapa langkah dalam perjalanan ini dimulai dari kesempatan yang pernah diberikan oleh orang lain.

Dan untuk kesempatan-kesempatan itu, saya akan selalu mengingatnya sebagai bagian dari jalan yang membawa saya sampai ke sini.

Rasa terima kasih yang sama saya sampaikan kepada Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi.

Terima kasih atas berbagai kesempatan yang telah diberikan selama saya menjalani perjalanan akademik. Kesempatan-kesempatan tersebut memberi ruang untuk belajar, mencoba, berkembang, dan mengenal lebih banyak hal yang perlahan membentuk diri saya hari ini.

Saya percaya, tidak semua orang yang membantu perjalanan kita akan berjalan bersama sampai garis akhir.

Ada yang menemani di satu persimpangan.

Ada yang membukakan pintu.

Ada yang menunjukkan arah.

Lalu kita melanjutkan perjalanan dengan langkah kita sendiri.

Namun, bukan berarti perannya menjadi kecil.

Sebab terkadang, satu persimpangan saja sudah cukup untuk mengubah seluruh arah perjalanan.

Waktu kemudian berjalan tanpa benar-benar meminta izin.

Hari-hari yang dulu terasa panjang perlahan berubah menjadi kenangan. Halaman-halaman kosong mulai terisi. Data yang dahulu dicari dengan susah payah berubah menjadi hasil. Dan penelitian yang sebelumnya hanya berupa gagasan akhirnya menjadi sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sampai akhirnya datang hari yang sejak lama ada di dalam bayangan: sidang skripsi.

Ada gugup yang sulit disembunyikan. Ada banyak kemungkinan pertanyaan yang berputar di kepala. Tetapi di balik semua kecemasan itu, ada satu hal yang terus saya ingat:

Saya sudah sampai sejauh ini.

Ketika presentasi dimulai, perlahan semua yang selama berbulan-bulan dipelajari mulai menemukan jalannya sendiri. Pertanyaan dan masukan yang diberikan bukan lagi sesuatu yang menakutkan, melainkan bagian dari proses untuk menyempurnakan penelitian.

Dan ketika semuanya berakhir, ada rasa lega yang sulit diterjemahkan.

Bukan karena penelitian ini sempurna.

Bukan karena semua kekurangan tiba-tiba hilang.

Tetapi karena akhirnya saya berhasil membawa sesuatu yang pernah saya ragukan hingga ke halaman terakhirnya.

Ternyata, yang paling melelahkan dari sebuah perjalanan bukan selalu jaraknya.

Kadang yang paling melelahkan adalah ketidakpastian apakah kita akan benar-benar sampai.

Dan ketika akhirnya sampai, kita baru menyadari bahwa setiap langkah kecil yang dahulu terasa tidak berarti ternyata telah membawa kita semakin dekat dengan garis akhir.

Skripsi kemudian mengajarkan saya tentang banyak hal yang tidak tertulis di dalam buku teori.

Tentang menerima bahwa tidak semua rencana akan berjalan sempurna.

Tentang tetap bekerja ketika motivasi sedang tidak ada.

Tentang menerima kritik tanpa menganggap seluruh usaha menjadi sia-sia.

Tentang meminta bantuan ketika kita memang tidak mampu berjalan sendirian.

Dan yang paling penting, tentang konsistensi.

Sebab semangat bisa datang dan pergi, tetapi langkah kecil yang dilakukan setiap hari akan selalu membawa kita lebih dekat pada tujuan.

Sedikit tidak apa-apa.

Pelan tidak apa-apa.

Yang penting, jangan berhenti terlalu lama.

Untuk teman-teman seperjuangan, terima kasih.

Terima kasih untuk obrolan di sela-sela lelah, untuk bantuan yang datang tanpa banyak diminta, dan untuk kalimat sederhana seperti, “Ayo, sedikit lagi.”

Kalimat yang mungkin terdengar biasa, tetapi pada waktu-waktu tertentu bisa menjadi alasan seseorang untuk kembali mencoba.

Mungkin suatu hari nanti kita tidak akan mengingat berapa kali membuka laptop, berapa banyak revisi yang pernah dikerjakan, atau berapa malam yang dihabiskan untuk mengejar satu bagian penelitian.

Tetapi saya yakin, kita akan mengingat bagaimana rasanya berjuang bersama.

Sama-sama lelah.

Sama-sama takut.

Sama-sama tidak tahu apakah semuanya akan selesai.

Tetapi tetap berjalan.

Untuk adik-adik tingkat yang saat ini masih berada di tengah perjalanan skripsi, saya ingin mengatakan satu hal sederhana:

Tidak apa-apa jika hari ini belum mengetahui seluruh arah perjalanan.

Tidak apa-apa jika langkahmu masih pelan.

Tidak apa-apa jika masih banyak hal yang belum dipahami.

Sebab tidak semua perjalanan memperlihatkan ujungnya sejak awal.

Kadang, kita hanya perlu percaya pada satu langkah berikutnya.

Kerjakan apa yang bisa dikerjakan hari ini.

Satu paragraf.

Satu halaman.

Satu revisi.

Satu kemajuan kecil.

Karena suatu hari nanti, tanpa benar-benar menyadarinya, kalian akan sampai di depan halaman terakhir.

Dan mungkin pada saat itu, kalian akan tersenyum kecil sambil berkata kepada diri sendiri:

"Ternyata aku sampai juga."

Karena pada akhirnya, skripsi bukan hanya tentang sebuah karya ilmiah yang berhasil diselesaikan.

Ia adalah cerita tentang seseorang yang pernah ragu tetapi tetap berjalan.

Tentang orang-orang yang menjadi penunjuk arah.

Tentang kesempatan-kesempatan kecil yang mengubah perjalanan.

Tentang tangan-tangan yang membantu ketika langkah mulai goyah.

Dan tentang diri sendiri yang ternyata mampu bertahan lebih jauh daripada yang pernah dibayangkan.

Jika suatu hari nanti saya membuka kembali halaman-halaman ini, mungkin saya tidak hanya akan melihat sebuah penelitian.

Saya akan melihat sebuah perjalanan.

Perjalanan yang tidak selalu menunjukkan arah dengan jelas, tetapi selalu mengajarkan satu hal:

Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk bisa sampai. Kita hanya perlu terus memilih untuk berjalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *