Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
GROUND CHECKING DESA CIBODAS DAN SUNTENJAYA MATA KULIAH PENGINDERAAN JAUH UNTUK PENGGUNAAN LAHAN DAN VEGETASI

Tanggal Kegiatan: Sabtu-Minggu, 1-2 Agustus 2026

Penulis: Kelompok 8A

Penyunting: Muhammad Naufal Rifasyah (SaIG, 2500436)

Dok. Penulis

Sebagai salah satu program studi yang berfokus pada kajian keruangan, Sains Informasi Geografi mewajibkan mahasiswanya menempuh mata kuliah Penginderaan Jauh untuk Penggunaan Lahan dan Vegetasi.  Guna menunjang capaian pembelajaran, mata kuliah ini disertai kegiatan praktikum lapangan yang bertujuan menghubungkan pemahaman teoritis yang telah diperoleh di ruang kelas dengan realitas kondisi di lapangan secara langsung. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diarahkan untuk memperluas wawasan, mengasah kemampuan teknis, sekaligus menumbuhkan daya kreativitas melalui proses observasi dan analisis di lapangan. Penerapan teori secara empiris tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami beragam fenomena keruangan secara lebih utuh, sehingga tercipta proses pembelajaran yang lebih bermakna dan aplikatif.

Kegiatan praktikum ini dilaksanakan hari Sabtu dan Minggu pada tanggal 1–2 Agustus 2026, bertempat di 16 desa yang tersebar di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Setiap kelas dibagi menjadi 8 kelompok, di mana tiap kelompok bertanggung jawab mengkaji dua desa sekaligus.  Kecamatan Lembang dipilih karena memiliki karakteristik wilayah yang beragam dan kaya kontras, mencakup kawasan hutan konservasi, area perkebunan, lahan pertanian hortikultura, hingga kawasan permukiman penduduk. Kompleksitas topografi dan keragaman tutupan lahan tersebut menjadikan Lembang sebagai lokasi yang sangat sesuai untuk kegiatan pemetaan vegetasi serta pemantauan dinamika perubahan penggunaan lahan.

Dok. Penulis

Pada pelaksanaannya, kelompok 8 yang kami tergabung di dalamnya dibagi kembali menjadi tiga tim kecil untuk melakukan pencarian titik sampel secara paralel. Setiap tim beranggotakan dua orang dengan tanggung jawab menuntaskan sebanyak 43-42 titik sampel. Pada setiap titik yang berhasil dijangkau, kami dituntut untuk segera melakukan analisis dan identifikasi terhadap jenis penggunaan lahan serta tingkat kerapatan vegetasi di sekitar titik tersebut, kemudian menuangkannya ke dalam instrumen data yang telah disediakan.

Instrumen tersebut terdiri atas beberapa jenis data penginderaan jauh yang perlu dipadankan dengan kondisi aktual di lapangan. Pertama, data Land Use Land Cover (LULC) atau peta tutupan dan penggunaan lahan yang bersumber dari citra satelit Sentinel tahun 2016 dan tahun 2026, yang digunakan untuk melihat perubahan tutupan lahan dalam rentang waktu satu dekade. Kedua, data LULC serupa yang bersumber dari citra satelit Landsat pada tahun yang sama, sebagai pembanding terhadap hasil interpretasi dari citra Sentinel mengingat kedua satelit tersebut memiliki resolusi dan karakteristik spektral yang berbeda. Ketiga, citra CSRT (Citra Satelit Resolusi Tinggi), yang memberikan gambaran permukaan bumi dengan tingkat kedetailan yang lebih tinggi sehingga membantu proses identifikasi objek secara lebih presisi. Keempat, indeks kerapatan vegetasi, yaitu nilai yang menggambarkan tingkat kehijauan atau kerapatan tumbuhan pada suatu area berdasarkan pantulan spektral yang ditangkap oleh sensor satelit, yang umumnya digunakan untuk menilai kesehatan dan kepadatan vegetasi suatu wilayah.

Selain mengisi instrumen data tersebut, kami juga diwajibkan mendokumentasikan kondisi di sekitar setiap titik menggunakan kamera GPS dengan mengambil gambar dari empat arah mata angin, yaitu utara, selatan, barat, dan timur. Dokumentasi dari empat arah ini bertujuan agar kondisi lahan di sekitar titik dapat terekam secara menyeluruh dan dapat digunakan sebagai bukti visual yang mendukung hasil interpretasi data penginderaan jauh.

Meskipun telah dipersiapkan dengan matang, pelaksanaan kegiatan di lapangan ternyata menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dan sulit dibandingkan perkiraan awal kami. Tantangan pertama yang kami hadapi adalah ketidaksesuaian antara peta digital dengan kondisi riil di lapangan, di mana sejumlah titik yang pada aplikasi peta daring tampak memiliki akses jalan, pada kenyataannya tidak dapat dilalui, ada yang karena jalannya ditutup oleh pemilik tanah, bahkan sebagian jalur telah tertutup vegetasi liar atau sudah tidak berfungsi sama sekali. Tantangan kedua berkaitan dengan minimnya jangkauan sinyal komunikasi di sejumlah wilayah, sehingga menyulitkan kami dalam mengakses Google Maps guna memverifikasi koordinat titik sampel yang dituju secara langsung. Tantangan ketiga adalah rendahnya tingkat aksesibilitas medan, mengingat kontur wilayah Kecamatan Lembang yang berbukit dan curam membuat waktu tempuh serta tenaga yang dibutuhkan untuk mencapai sejumlah titik jauh melebihi perkiraan semula. Adapun tantangan keempat, sekaligus yang paling menegangkan, adalah kemunculan hewan liar secara tiba-tiba di sepanjang jalur yang mengharuskan kami segera bergegas menghindar demi keselamatan bersama.

Rangkaian kendala tersebut pada akhirnya membuat kami hanya mampu menuntaskan kurang lebih separuh dari total 128 titik yang ditargetkan. Meski demikian, di balik berbagai hambatan tersebut, tersimpan pula banyak pengalaman berharga yang justru menjadi bagian paling berkesan dari kegiatan ini. Di Desa Cibodas dan Desa Sunten Jaya, kami menemukan keramahan masyarakat setempat yang begitu tulus. Tidak sedikit warga yang dengan sukarela menunjukkan arah menuju titik sampel, bahkan beberapa di antaranya turut mengantar kami hingga ke lokasi yang sulit dijangkau. Kebaikan-kebaikan sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah tantangan teknis dan kondisi medan yang berat, selalu hadir kemudahan yang datang dari hal-hal yang tidak terduga.

Memasuki paruh kedua hari pertama, kami memutuskan untuk kembali ke vila tempat kami menginap guna beristirahat sejenak sebelum melanjutkan penyelesaian titik-titik yang tersisa. Kebetulan, lokasi vila yang kami tempati berada tidak jauh dari wilayah kajian kelompok kami, sehingga hal ini turut memberikan sedikit kemudahan tambahan di tengah padatnya rangkaian kegiatan. Setelah beristirahat, kami kembali menyebar menuju titik masing-masing untuk melanjutkan proses ground checking hingga menjelang sore hari.

Menjelang penghujung sore, seluruh anggota kelompok berkumpul kembali untuk mengumpulkan data yang telah diperoleh sepanjang hari. Data tersebut kemudian mulai kami analisis dan olah untuk keperluan uji akurasi, yaitu proses pengujian tingkat kesesuaian antara hasil interpretasi citra satelit dengan data hasil observasi langsung di lapangan, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Meski berbagai kendala di lapangan sempat menghambat proses pengumpulan data, kami berhasil menyelesaikan kurang lebih separuh dari keseluruhan titik yang ditargetkan pada hari pertama. Namun, jumlah tersebut belum mencukupi untuk dapat menentukan hasil uji akurasi data secara menyeluruh, mengingat masih banyak titik sampel yang perlu didatangi. Rangkaian kegiatan hari pertama pun ditutup dengan sesi ekspos atau pemaparan hasil sementara.

Keesokan harinya, setelah pemaparan hasil seperti yang dilakukan sehari sebelumnya bersama Bapak Lili Somantri, kegiatan dilanjutkan dengan kembali turun ke lapangan untuk menuntaskan ground checking pada titik-titik sampel yang tersisa. Proses ini berlangsung hingga setengah hari, sebagai upaya akhir untuk melengkapi seluruh data yang dibutuhkan sebelum tahap analisis dan uji akurasi dilakukan secara menyeluruh.

Dok. Penulis

Kegiatan praktikum lapangan ini membekali mahasiswa dengan pengalaman berharga dalam membandingkan hasil  interpretasi citra dengan kenyataan yang dijumpai secara langsung di lokasi kajian. Tidak hanya memperkuat penguasaan materi seputar klasifikasi tutupan lahan, praktikum ini juga menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan bekerja sama dalam tim, membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat, sekaligus melatih kepekaan dalam menyikapi dan mencari solusi atas berbagai kendala yang muncul selama kegiatan berlangsung. Dengan pengalaman tersebut, praktikum ini diharapkan dapat menjadi modal penting bagi mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku perkuliahan pada situasi nyata di lapangan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *