Sabtu dan Minggu, 1-2 Agustus 2026
Penulis: Kelompok 8B
Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)
Praktikum lapangan dengan mata kuliah Penginderaan Jauh Lahan dan Vegetasi membawa kami melalang buana jauh ke Bandung Utara lebih tepatnya desa Cibodas dan Suntenjaya. Menyusuri dan mengamati semua bentuk penggunaan lahan dan tutupan lahan mulai dari permukiman, sekolah, kebun, gunung, aliran sungai, sarana ibadah, industri pariwisata, hutan lahan tinggi, sawah, jurang hingga sawah sekalipun. Menyusuri kekayaan alam di Bandung dan sekitarnya lewat praktikum di SaIG, memberikan kami ruang untuk mengagumi seluruh ciptaan-Nya. Dan membuat kami sadar bahwa kebesaran Tuhan ditanah yang kami pelajari ini sungguh mutlak dan sempurna.
Ground checking 100 titik sample kami lakukan selama 2 hari dengan berbagai rintangan di lapangan kami pun menyelesaikan validasi titik sample tersebut dengan dibagi menjadi 3 tim dengan 3 AOI wilayah berbeda. Pada tim 1 mencakup sebagian besar wilayah administrasi desa Cibodas, tim 2 mencakup 2 wilayah sekaligus yaitu Cibodas dan Suntenjaya dan tim 3 mendominasi wilayah desa Suntenjaya. Refleksi dari Tim 1 sendiri cukup kompleks, kami mendapatkan banyak bentuk tutupan lahan dan penggunaan lahan dalam satu desa, dari mulai pegunungan di bagian tebing keraton hingga permukiman padat di tengah-tengah Cibodas. Menyusuri semua titik sample yang telah kami tetapkan untuk ground checking dengan berbagai dinamika di jalan membuat kami sadar bahwa kerja sama tim itu penting, saling menguatkan dan paham akan kondisi masing-masing sangat memudahkan selama praktikum berlangsung.
Beranjak dari tim 1, ada tim 2 yang mengalami dinamika yang tidak jauh berbeda selama ground checking. Pada area tim 2, bentuk tutupan lahan didominasi oleh perkebunan dan pemukiman yang memiliki elevasi serta kemiringan yang beragam. Salah satu tantangan terbesar yang dialami yaitu banyak titik sampel yang susah dijangkau oleh kendaraan ,seperti jalan yang sangat sempit bahkan sampai kemiringan yang sangat curam untuk dilalui oleh kendaraan, wilayah Cibodas-Suntenjaya yang memiliki banyak jurang juga menjadi tantangan tersendiri dimana kami harus memutar jauh untuk mencapai satu titik dan titik lainnya. Pada akhirnya, kegigihan dan kerjasama yang membuat ground checking tim 2 bisa selesai dan berjalan dengan lancar.
Kemudian tim kami yang terakhir yaitu tim 3, melaksanakan kegiatan ground checking di wilayah utara Desa Suntenjaya yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Ujung Berung. Berdasarkan hasil interpretasi citra sebelum survei, wilayah ini diperkirakan didominasi oleh penggunaan lahan berupa pemukiman, ladang, dan kebun, dengan penutupan lahan berupa hutan lahan tinggi, tanaman campuran, dan semak belukar. ground checking ini dilakukan untuk memverifikasi kesesuaian antara hasil interpretasi citra yang telah dilakukan dengan kondisi sebenarnya yang ada di lapangan.
Pada titik sampel 1 hingga ke 8, tim 3 masih dapat menjangkau lokasi dengan mudah karena akses jalan yang memadai. Hasil pengecekan pada titik-titik tersebut menunjukkan bahwa kondisi aktual di lapangan ada yang sesuai dengan hasil interpretasi citra, khususnya pada kelas penggunaan lahan berupa ladang dan hutan lahan tinggi yang mendominasi wilayah tersebut. Namun, saat menuju titik sampel selanjutnya, tim 3 menghadapi sejumlah kendala teknis di lapangan, seperti tidak adanya sinyal jaringan seluler di wilayah tersebut serta akses jalan yang sulit karena harus melewati area ladang tanpa jalur permanen. Kondisi ini menyebabkan tim 3 tidak dapat menjangkau seluruh titik sampel yang telah ditentukan sebelumnya, sehingga sebagian data validasi lapangan untuk titik-titik tersebut tidak dapat diperoleh secara langsung.
Melalui praktikum Penginderaan Jauh untuk Lahan dan Vegetasi ini, kami memperoleh pemahaman baru bahwa wilayah pada bagian utara desa suntenjaya ini didominasi oleh penggunaan lahan berupa ladang, sebuah temuan yang memperkuat hasil interpretasi citra sekaligus menunjukkan pentingnya validasi lapangan dalam proses interpretasi penginderaan jauh. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pelajaran mengenai pentingnya adaptasi terhadap kondisi lapangan yang tidak selalu sesuai dengan rencana awal, serta menuntut kekompakan dan koordinasi antaranggota tim agar tujuan survei ground checking tetap dapat tercapai secara optimal meskipun dengan keterbatasan yang ada.
Pada akhirnya, esensi dari praktikum ini bukan sekadar mempelajari teknik interpretasi citra atau memvalidasi data ground checking tentang lahan dan vegetasi menggunakan teknologi penginderaan jauh, melainkan juga memahami bumi sebagai satu kesatuan ciptaan yang begitu kompleks dan menakjubkan. Melalui citra satelit, kami dapat melihat hamparan hutan, ladang, dan pemukiman dari sudut pandang yang lebih luas, namun justru pengalaman turun langsung ke lapangan-lah yang membuat kami benar-benar merasakan dan menghayati kebesaran serta keteraturan alam ciptaan Tuhan. Teknologi hanyalah alat bantu untuk membaca tanda-tanda tersebut secara lebih sistematis sementara rasa syukur dan kekaguman terhadap alam tetaplah menjadi fondasi yang tidak tergantikan oleh sistem interpretasi atau pun sekadar data statistik. Sebagaimana ditegaskan oleh Franz Wilhelm Junghuhn (1835):
“Kebahagiaanmu, hiburanmu, harapan dan kepercayaanmu hendaklah berakar semata-mata dalam alam raya yang secara diam-diam, namun tetap abadi bergerak di dalam makhluk-makhlukNya.”
Kutipan tersebut mengingatkan kami bahwa di balik setiap piksel citra dan setiap titik koordinat yang dianalisis, terdapat kehidupan nyata alam semesta yang terus bergerak secara konsisten dan penuh keteraturan sebuah bukti kebesaran Tuhan yang patut disyukuri. Praktikum ini pun menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi, sehebat apa pun perkembangannya, pada akhirnya tetap mengarahkan manusia untuk semakin mengenal dan mensyukuri keajaiban ciptaan-Nya.
Dokumentasi

Dok. Penulis

Dok. Penulis

Dok. Penulis
