Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
INSANTER-GEO “Pembinaan dan Pembiasaan Rohani Internal Geografi” (SDG 3)

INSANTER-GEO (Pembinaan dan Pembiasaan Rohani Internal Geografi) merupakan salah satu program kerja Biro Pembinaan, Departemen Kerohanian BEM HMPG FPIPS UPI. Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa Pendidikan Geografi untuk memperluas pengetahuan keagamaan, mengasah rasa ingin tahu, serta menumbuhkan kepedulian sosial melalui pembiasaan berbagi. Dalam satu periode kepengurusan, INSANTER-GEO biasanya dilaksanakan dua kali, namun pada periode kepengurusan kali ini INSANTER-GEO hanya diadakan satu kali karena untuk mengefektifkan waktu, dengan menghadirkan pemateri yang kompeten sesuai tema yang ditentukan.

Pelaksanaan Kajian INSANTER-GEO digelar pada Jumat, 22 Agustus 2025 di Aula Masjid Al-Furqon UPI dengan tema “Self-Love dalam Bingkai Syariat Islam” dan “Melihat Diriku Melalui Kacamata Tuhan, Makna Sejati dari Kasih terhadap Diri Sendiri”. Acara dimulai pukul 09.00 WIB untuk mahasiswa beragama muslim, acara dibuka oleh Azkia Nabila Zahra selaku MC, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Faisal Sihabudin. Setelah itu, diberikan sambutan dari Ariel Julian selaku Penanggung Jawab dan Ketua Pelaksana, kemudian dari Ihsan Awal Laksono (Ketua BEM HMPG FPIPS UPI 2025/2026), M. Rafael Ichwan (Ketua DPM HMPG FPIPS UPI 2025/2026), serta sambutan penutup dari Dosen Pembimbing Kemahasiswaan Prodi Pendidikan Geografi, yaitu Bapak Andy Wibawa Nurrohman, S.Pd., M.Sc. Sedangkan untuk INSANTER-GEO mahasiswa Kristen (Non-Muslim), Acara dimulai pukul 16.00 WIB, dibuka oleh Silvana selaku MC. Setelah itu, pemberian sambutan dari Tsana Nurul Azizah selaku Wakil Ketua Pelaksana, kemudian dari Ihsan Awal Laksono selalu Ketua BEM HMPG FPIPS UPI 2025/2026.

Gambar 2. Sesi Pematerian Insanter-Geo Muslim

Setelah sesi pembukaan acara selesai, kegiatan berlanjut menuju inti acara yaitu sesi pematerian yang dibawakan oleh Mochamad Ghany Ramdhany, seorang mahasiswa Universitas Komputer Indonesia sekaligus aktivis dakwah muda yang juga berprofesi sebagai Content Creator, Graphic Designer, serta UI/UX Designer. Beliau aktif dalam berbagai organisasi, salah satunya sebagai Ketua Harian One Ummah Movement dan Founder We Care We Speak. Selain itu, pengalaman beliau sebagai Public Speaker menjadikan penyampaian materi pada kajian ini lebih hidup dan mudah dipahami oleh para peserta.

Dalam kajian ini, pemateri mengangkat tema “Self-Love dalam Pandangan Agama”. Beliau menjelaskan bahwa self-love atau mencintai diri sendiri secara sehat adalah sikap menghargai diri yang tumbuh dari tindakan yang mendukung pertumbuhan fisik, psikologis, dan spiritual. Dalam perspektif Islam, konsep ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Asy-Syams: 7–10 yang menekankan pentingnya menyucikan jiwa, serta QS. At-Tiin: 4 yang menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Beliau juga mengibaratkan bahwa sejak manusia diciptakan, Allah telah meng-install “software” dan “hardware” terbaik dalam diri kita, seperti akal, hati, dan potensi unik masing-masing individu. Oleh karena itu, tugas kita adalah merawat, mengembangkan, dan memanfaatkannya untuk kebaikan. Namun, sering kali manusia salah arah dengan menggunakan potensi tersebut untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Dalam konteks generasi muda, terutama Gen Z, pemateri mengingatkan agar kita mampu menjaga keseimbangan hidup (work-life-academic balance) dengan cara yang tepat. Misalnya, boleh saja melakukan aktivitas hiburan, healing, atau self-reward, tetapi harus tetap diiringi dengan nilai-nilai agama sehingga tidak kehilangan arah. Dengan begitu, self-love bukan berarti memanjakan diri secara berlebihan, melainkan sebuah bentuk syukur kepada Allah SWT atas anugerah yang diberikan, serta menjadikan diri sebagai pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Setelah Pelaksanaan Kajian INSANTER-GEO Muslim yang di gelar pada Jumat, 22 Agustus 2025 di Aula Masjid Al-Furqon UPI dengan tema “Self-Love dalam Bingkai Syariat Islam”, di jam 09.00 WIB Kemudian di sore hari kita melaksanakan INSANTER-GEO Non Muslim dengan tema “Melihat Diriku Melalui Kacamata Tuhan, Makna Sejati dari Kasih terhadap Diri Sendiri”. Acara dimulai pukul 15.30 WIB, acara dibuka oleh Silvana Situmorang selaku MC, kemudian diberikan sambutan dari Tsana Nurul Azizah selaku Wakil Penanggung Jawab dan Wakil Ketua Pelaksana, kemudian dari Ihsan Awal Laksono (Ketua BEM HMPG FPIPS UPI 2025/2026).

Gambar 3. Sesi Pematerian Insanter-Geo Non-Muslim

Setelah sesi pembukaan acara selesai, kegiatan berlanjut menuju inti acara yaitu sesi pematerian yang dibawakan oleh Elisa Benita Saragih, beliau adalah seorang mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2021 di Universitas Pendidikan Indonesia. Beliau memiliki semangat tinggi dalam belajar hal-hal baru serta aktif mengikuti berbagai kegiatan kepanitiaan, yang membuatnya terbiasa bekerja baik secara individu maupun dalam tim. beliau memiliki kemampuan dalam bekerja sama, berkomunikasi, mengatur waktu, serta bercerita. Selain itu, ia juga memiliki ketertarikan pada kegiatan membaca novel, menonton, mendengarkan musik, dan memasak.

Dalam hal pengalaman, beliau pernah menjadi panitia Natal Umum UPI tahun 2021 dan 2022, menjadi anggota SMKAA Global Literasi, serta menjabat sebagai sekretaris dalam kegiatan Podcast SMKAA. Beliau juga pernah berperan sebagai pengawas AKM untuk tingkat SMP dan SMA.

Dalam Pematerian ini, pemateri mengangkat tema yaitu “Melihat Diriku Melalui Kacamata Tuhan: Makna Sejati dari Kasih terhadap Diri Sendiri”. Tema ini menekankan bahwa mencintai diri sendiri bukanlah sikap egois, melainkan bentuk kesadaran dan rasa syukur atas karya Tuhan yang menciptakan manusia dengan penuh kasih. Dengan melihat diri dari perspektif Tuhan, setiap orang diajak untuk memahami bahwa dirinya berharga, memiliki potensi, dan patut dijaga serta dihargai.

Sebagai dasar, diangkat ayat Mazmur 139:13–14 yang menegaskan bahwa manusia dibentuk secara ajaib dan penuh makna sejak dalam kandungan. Ayat ini mengingatkan bahwa menghargai dan mengasihi diri sendiri berarti juga mengakui kebesaran Tuhan. Dari sinilah lahir kesadaran bahwa kasih terhadap diri sejati akan melahirkan keyakinan, kedamaian, dan kemampuan untuk mengasihi orang lain.

Gambar 4. Sesi Dokumentasi

Penulis:

  • Ariel Julian (2404921)
  • Tsana Nurul Azizah (2304015)

Editor: Syalwa Ramadianti Nugraha (2407430)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *